Bab 7. Dalam Kuasa Bos Besar

1005 Words
Hans duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan wajah kusut. Matanya sesekali melirik pintu lobby rumah sakit, berharap Vivian muncul untuk memohon padanya membayar tagihan rumah sakit sang mertua. Hans tahu, tidak ada tempat lain yang bisa dituju Vivian selain dirinya. "Dia pasti balik ke aku … dia harus," gumamnya lirih, jemarinya meremas lutut. "Kalau dia mau ibunya dioperasi, dia harus nurut sama apa yang aku katakan." Tiba-tiba, Gerakan suster yang mendorong ranjang pasien menarik perhatiannya. Hans berdiri, dan darahnya langsung membeku begitu melihat wajah pucat ibu mertuanya di atas ranjang didorong keluar ruangan. "Mau dibawa ke mana?" sergahnya. "Ke ruang operasi, Pak," jawab suster singkat, tak berniat menghentikan langkah. Hans mengikutinya sampai di depan lift khusus pasien, napasnya memburu. Ia masih belum bisa mencerna ucapan suster barusan. "Operasi? Tunggu! Bukannya tagihannya belum dibayar?!" tanyanya. Suster itu menoleh, lalu menjelaskan. "Tagihan sudah dilunasi, Pak. Semuanya. Kami akan langsung melakukan tindakan karena pasien butuh segera dioperasi,” jelas suster. Hans tertegun, tapi hanya sepersekian detik. Kemudian rahangnya mengeras, dan amarahnya memuncak, lalu kembali menahan brankar milik sang mertua. "Apa?! Siapa yang bayar?!" "Maaf, kami tidak bisa memberi informasi—" "Jangan omong kosong sama gue!" bentak Hans, suaranya membuat beberapa pengunjung menoleh. "Gue tahu Vivian nggak punya uang segede itu! Dari mana dia dapat?! Dari siapa?!" Suster menunduk, menghindari tatapan tajamnya. "Maaf, Pak, saya harus kembali bertugas. Silakan tanya ke bagian administrasi saja.” Hans berdiri di lorong, napasnya memburu. Ia melepaskan brankar sang mertua karena pikirannya langsung berkecamuk. Dan hanya ada satu hal yang membuat darahnya mendidih, dia akan cari Vivian sekarang juga. *** Lift berhenti dengan bunyi lembut, dan pintunya terbuka ke sebuah lorong sepi yang dilapisi karpet tebal warna krem. Ethan berjalan di depan, langkahnya tenang tapi mantap, sementara Vivian mengikutinya dengan hati yang berdentam seperti ingin meledak. Begitu pintu apartemen terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapa wajahnya, bercampur aroma samar parfum mahal yang maskulin. Ruang tamu itu bagaikan halaman majalah interior—lantai marmer putih berkilau, jendela kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan gemerlap kota di bawah, lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya seperti ribuan bintang. Vivian menelan ludah. Ia tak pernah menginjak tempat seperti ini sebelumnya. Bukan hanya mahal—apartemen ini memancarkan aura tak tersentuh, seolah-olah setiap sudutnya hanya untuk orang yang tahu cara memegang kekuasaan. Namun, kemewahan itu tak cukup untuk menenangkan pikirannya. Ia tahu, setiap langkah yang diambilnya malam ini adalah langkah gila. Dia sadar betul konsekuensinya—nama baik, pernikahannya, bahkan keluarganya bisa hancur jika semua ini terungkap. Namun di sisi lain, ia tak bisa mengabaikan tarikan tak kasatmata yang membawanya sampai di sini. Ethan tak banyak bicara. Hanya satu lirikan singkat, lalu ia memimpin Vivian menuju sebuah pintu besar di ujung lorong. Begitu pintu itu dibuka, aroma kayu mahal bercampur wangi khas cologne-nya memenuhi indera penciuman Vivian. Kamar itu luas dan gelap, hanya diterangi lampu meja di sudut. Tempat tidur king size dengan seprai putih bersih mendominasi ruangan. Ethan menoleh dan mempersilakannya duduk di tepian ranjang. “Duduk,” ucapnya singkat, suaranya rendah dan tegas, seperti perintah yang mustahil dibantah. Vivian menurut, lututnya sedikit lemas. Sementara itu, Ethan mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. Gerakannya lambat tapi mantap, dan setiap kali satu kancing terlepas, napas Vivian makin berat. Deja vu. Ia kembali ke malam itu—malam yang seharusnya menjadi satu-satunya, malam di mana ia membiarkan dirinya hanyut dalam pelukan pria ini. Malam ketika ia mencicipi rasa bersalah bercampur kepuasan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari Hans. Tatapannya menelusuri garis bahu Ethan yang lebar, d**a bidang yang kini terbuka, otot-otot yang bergerak alami saat ia menarik kemeja dari tubuhnya. Vivian ingat betul bagaimana otot-otot itu menegang di bawah sentuhannya, bagaimana panas tubuh Ethan membakar kulitnya. Merinding. Tubuhnya merespons bahkan sebelum pikirannya sempat melarang. Dan itu membuatnya semakin panik. Karena ia tahu, ia sedang berada di tepi jurang—jurang yang mungkin akan ia lompati lagi malam ini. Ethan berdiri tak jauh darinya, hanya mengenakan celana panjang gelap, menatapnya seperti pemangsa yang sudah memastikan mangsanya tak akan lari. Vivian menelan ludah, mencoba memalingkan wajah, tapi tatapan itu menahannya di tempat. Dan di kepalanya, satu kalimat terlintas. Aku salah. Tapi aku juga ingin. Vivian belum sempat mengatur napas ketika suara pintu tertutup di belakangnya terdengar begitu jelas. Ia menoleh cepat, dan di sana—Ethan berdiri, melepaskan kancing terakhir kemejanya. Gerakan itu lambat, nyaris malas, tapi setiap tarikan benang kain terasa seperti ancaman manis yang membuat jantungnya terhenti sesaat. Ia mundur sedikit ke tepi ranjang, seolah jarak yang tak seberapa itu bisa memberi rasa aman. Sementara Ethan tersenyum tipis—senyum yang tidak sepenuhnya manis, melainkan penuh keyakinan bahwa ia memegang kendali. “Kamu di sini karena aku mau kamu di sini, Vivian.” Nada suaranya rendah, dalam, membuat udara di kamar seolah lebih padat. “Dan malam ini … kamu milikku. Sepenuhnya,” imbuhnya. Vivian merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Kata-kata itu bukan sekadar pernyataan, tapi sebuah keputusan yang tak memberi ruang untuk penolakan. Ia ingin bicara, ingin membalas, tapi Ethan sudah melangkah maju, menghentikan jarak di antara mereka. Jemarinya mengangkat dagu Vivian, memaksanya menatap mata gelap yang tak memberinya tempat untuk lari. “Tak ada yang bisa mengambilmu dariku malam ini. Bahkan dirimu sendiri,” katanya lagi. Vivian menelan ludah, menyadari bahwa ia sudah terjebak di lingkaran yang sama sekali bukan hanya fisik—Ethan sedang menuntut sesuatu yang jauh lebih dalam, penyerahan tanpa syarat. Tidak ada aba-aba, Ethan mulai menelusuri lekuk tubuh Vivian, jemarinya menguasai setiap inci, membuat napasnya tercekat di tenggorokan. Wanita itu memejamkan mata, pasrah, tapi juga penuh rasa bersalah. Ruangan terasa berdenyut, dipenuhi napas mereka berdua—sampai suara ketukan keras memecah momen itu. "Boss, ada tamu penting," suara Roy terdengar dari balik pintu. Ethan langsung menghentikan gerakannya, rahangnya mengeras. “Anjing, siapa yang berani ganggu kesenanganku?!” gumamnya penuh amarah. Dia bangkit, menatap pintu seperti ingin menembusnya, lalu melirik Vivian yang tampak bingung dan tegang. "Aku akan urus ini dengan cepat," ucapnya dingin, tapi nadanya mengandung janji yang membuat Vivian kembali merasakan ketegangan yang luar biasa di dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD