Bab 8. Ipar Adalah Maut

1346 Words
Ketukan di pintu terdengar sekali, lalu dua kali—lebih berat. Ethan menghentikan gerakannya seketika. Sorot matanya yang semula gelap dan penuh kepemilikan menajam. “Aku akan urus ini dengan cepat,” ucapnya pelan tapi tegas, nada suaranya seperti kunci yang mengikat Vivian di tempat. Vivian hanya bisa mengangguk pelan. Napasnya masih memburu, pipinya panas, dan pikirannya bercampur antara rasa takut, salah, dan … sesuatu yang tak mau ia akui. Ethan berbalik, melangkah menuju pintu. Gerakannya padat dan cepat, seperti singa yang siap menerkam. Ia memutar gagang pintu dan menariknya lebar. “Apa lagi, Roy?!” Suaranya meledak, penuh kemarahan yang membuat udara di lorong seakan mengeras. Roy sedikit tersentak tapi tetap menunduk. “Boss… ini tamu pribadi.” Ethan sudah bersiap memaki lagi, tapi begitu matanya menangkap sosok di balik Roy, semuanya berubah. Ketegangan di rahangnya meluruh, bahunya sedikit turun, dan nada suaranya … melunak begitu saja. “Ma?” ucapnya, kali ini dengan suara yang hangat, nyaris berbisik. Vivian yang mendengar dari dalam kamar nyaris tak percaya itu suara yang sama. Di depan Ethan berdiri seorang wanita paruh baya yang anggun, dengan aura yang sulit diabaikan. Rambut hitam legamnya ditata bergelombang, jatuh elegan di bahu, dan kulitnya mulus seperti porselen. Ia mengenakan mantel krem di atas gaun biru tua, dan seuntai kalung safir melingkari lehernya—tidak mencolok, tapi jelas mahal. Sepasang mata teduh itu menatap Ethan dengan campuran lega dan khawatir. “Ethan Alexander Sinclair….” Suaranya merdu, namun mengandung nada teguran seorang ibu. “Sudah tiga hari Mama tidak melihat kamu. Ponselmu mati. Kamu menghilang begitu saja,” katanya. Ethan tersenyum kecil, ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang nyaris manis. “Aku baik-baik saja, Mam. Hanya … terlalu sibuk dengan beberapa hal.” Wanita itu—Isabelle Sinclair—menghela napas panjang, langkahnya maju mendekat, dan tanpa ragu menangkup pipi putranya. “Sibuk sampai melupakan keluarga? Atau sibuk membuat keputusan gegabah? Mama dengar kamu mengambil alih posisi di perusahaan dari kakakmu. Tanpa pembicaraan keluarga,” kata Isabelle Vivian yang diam di balik pintu sedikit membuka celah, cukup untuk melihat bagaimana lelaki yang tadi menguasainya tanpa ampun kini membiarkan dirinya disentuh seperti anak kecil. Ia tercengang. Namun, tidak berniat keluar. Ethan memegang lembut tangan ibunya, suaranya rendah dan penuh kesabaran—jauh dari tajamnya nada yang ia tujukan pada Roy. “Percayalah, Ma. Semua yang kulakukan … demi perusahaan. Demi keluarga kita.” Isabelle menatap dalam ke matanya, seolah mencoba menembus tembok yang selalu Ethan bangun. “Mama tahu kamu pintar, Ethan. Tapi kamu juga keras kepala. Persis seperti Papamu. Itu yang membuat Mama cemas.” Senyum tipis Ethan merekah. “Jangan khawatir, Ma. Aku tahu apa yang aku lakukan.” Isabelle menghela napas lagi, kali ini lebih lembut. “Papa menunggumu di rumah. Dia ingin bicara langsung. Kamu ikut Mama sekarang, ya.” Ethan sempat menoleh sekilas ke arah pintu kamar—tepat ke arah Vivian yang bersembunyi. Tatapan itu singkat, tapi penuh pesan, Tunggu aku. Kemudian, ia kembali menatap Isabelle dengan wajah anak patuh. “Iya, Ma.” Ia meraih mantel hitamnya dari gantungan, mengenakannya tanpa tergesa, lalu berjalan berdampingan dengan Isabelle menuju lift. Suara langkah mereka memudar di lorong, meninggalkan Vivian sendirian di kamar yang tiba-tiba terasa terlalu besar dan sunyi. Ethan berjalan di belakang Isabelle menuju pintu keluar apartemen. Namun, sebelum melangkah melewati ambang pintu, ia berhenti dan memanggil pelan, “Roy.” Pria itu segera mendekat, posturnya kaku siap menerima instruksi. “Jangan biarkan Vivian keluar dari kamar itu,” perintah Ethan, nadanya dingin seperti baja. “Aku mau dia tetap di sini sampai aku kembali. Dan pastikan kamu minta orang mengantar pakaian ganti untuknya—lengkap. Pilih yang sesuai standarku, kamu tahu maksudku,” katanya. Roy mengangguk cepat. “Mengerti, Boss.” Ethan menatapnya sejenak, memastikan instruksi itu akan dilaksanakan tanpa celah, lalu menambahkan, “Aku hanya pergi sebentar. Setelah ketemu orang tuaku, aku akan kembali.” Baru setelah itu ia menoleh lagi pada Isabelle, yang tersenyum seolah tak menyadari dinginnya nada Ethan beberapa detik lalu. Dalam sekejap, sikap Ethan kembali hangat, hampir manja di hadapan sang ibu. Ia pun melangkah keluar bersama Isabelle, meninggalkan Roy yang langsung bergerak memberi arahan ke staf. Di balik pintu kamar, Vivian tak tahu bahwa malamnya baru saja berubah menjadi permainan dengan aturan yang sepenuhnya dipegang Ethan Sinclair. *** Mobil hitam mengilap itu meluncur mulus melewati gerbang besi tinggi, diikuti deretan pohon maple yang berbaris rapi menuju halaman depan. Rumah keluarga Sinclair berdiri megah—arsitektur kolonial klasik bercampur sentuhan modern, dengan jendela tinggi dan cahaya hangat yang mengundang dari dalam. Begitu memasuki ruang tamu, aroma kopi segar bercampur wangi kayu mahoni menyambut mereka. Ruangan itu luas dengan perapian marmer putih di tengah, rak buku tinggi di kedua sisi, dan lukisan keluarga Sinclair tergantung gagah di atas mantel perapian. Di sana, Richard Sinclair—patriarki keluarga—duduk di kursi kulit cokelat gelap. Usianya sudah melewati enam puluh, tapi posturnya masih tegak, matanya tajam seperti pria yang terbiasa memimpin dan membuat keputusan besar. Di sebelahnya, Adrian Sinclair, kakak laki-laki Ethan yang dua tahun lebih tua, dengan senyum ramah dan sikap tenang yang kontras dengan adiknya. Adrian mengenakan setelan kasual elegan, sementara di sampingnya duduk Clara, istrinya, wanita berwajah lembut, tapi penuh rahasia dengan rambut cokelat bergelombang yang jatuh di bahu. “Papa.” Ethan menyapa singkat, suaranya rendah namun penuh respek. Ia mencium pipi Isabelle sebelum berjalan mendekat dan duduk santai di sofa seberang ayahnya. Richard menatap putra bungsunya itu dengan tatapan menilai, lalu sebuah senyum tipis terbit di wajahnya. “Baru beberapa hari, dan profit harian perusahaan naik,” ucapnya tanpa basa-basi. Nada suaranya datar, tapi itu jelas sebuah pengakuan. “Aku tak salah menyerahkan kendali sementara pada tanganmu, Ethan.” Adrian mengangguk setuju, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Selamat, adik. Kamu memulai dengan sangat kuat. Bahkan aku terkesan,” kata Adrian. Senyum tipis terbentuk di bibir Ethan—senyum yang hanya sedikit melengkung, tapi matanya menyimpan kebanggaan dingin. “Aku tidak mengambil alih untuk main-main,” jawabnya singkat. Isabelle yang duduk di sebelah Richard tersenyum bangga, menepuk tangan putranya seolah Ethan masih anak kecil yang baru saja memenangkan lomba sekolah. Ethan membiarkan perlakuan itu, bahkan mencondongkan tubuh sedikit, kontras dengan wibawanya di luar sana. Bincang keluarga itu berlangsung dengan percakapan sopan dan tawa kecil, tapi di balik semua itu, Ethan menangkap tatapan yang sesekali dikirimkan Clara ke arahnya—tatapan yang bukan sekadar basa-basi ipar, melainkan penuh lapisan masa lalu. Kesempatan datang ketika Adrian dan Richard sibuk membicarakan laporan keuangan bersama Isabelle di sudut ruangan. Clara berdiri dan berjalan menuju balkon kaca yang menghadap taman belakang, seolah ingin menghirup udara segar. Ethan melihatnya, lalu tanpa berkata apa-apa, mengikuti dari belakang. Pintu kaca bergeser menutup di belakang mereka, meredam suara obrolan keluarga di dalam. Udara sore terasa dingin, tapi yang membuat bulu kuduk Clara berdiri adalah kehadiran Ethan di belakangnya. Clara menoleh, mencoba tersenyum pada adik iparnya. “Kudengar profit perusahaan naik pesat sejak kamu ambil alih,” katanya pelan, nada suaranya seperti ingin terdengar netral tapi ada getar penasaran. “Tapi … kenapa, Ethan? Kenapa mengambil alih posisi yang seharusnya milik suamiku?” Ethan berdiri santai, satu tangan di saku, menatapnya dengan mata gelap yang tak menyisakan kehangatan. “Kamu benar-benar ingin tahu alasannya?” tanyanya, suaranya rendah, nyaris seperti desisan halus. Clara menahan napas. “Ya.” Senyum tipis muncul di sudut bibir Ethan—senyum yang tak pernah sampai ke matanya. “Karena aku tahu alasan sebenarnya kamu menikah dengan Adrian.” I a melangkah mendekat, jaraknya cukup untuk membuat Clara merasa terpojok. “Bukan karena cinta. Bukan karena dia. Tapi karena nama Sinclair … dan semua harta yang kamu pikir akan menjadi miliknya,” kata Ethan. Clara membeku, pupil matanya sedikit membesar. Ethan menunduk sedikit, suaranya semakin dingin. “Kamu meninggalkanku demi itu, Clara. Jadi sekarang, aku pastikan kamu mendapat yang kamu inginkan—seorang suami baik hati … tanpa kekuasaan di tangannya.” Clara menelan ludah, tapi tak menemukan kata-kata untuk membalas. Ethan berdiri tegak kembali, menatapnya sejenak dengan tatapan penuh kemenangan yang tenang, lalu berbalik masuk ke dalam rumah seolah percakapan itu tak pernah terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD