Bab 9. Aku Sudah Tidak Sabar

1000 Words
Clara menatap kosong ke taman di bawah balkon, jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. Napasnya berat, bukan karena udara sore yang dingin, melainkan karena kata-kata Ethan yang masih bergaung di kepalanya. Ia tidak menyangka—tidak pernah menyangka—bahwa Ethan bisa begitu dingin padanya. Pria itu dulu … lain. Hangat, perhatian, dan lembut. Memandangnya seperti dunia ini hanya milik mereka berdua. Tapi sekarang? Sorot mata itu tajam, penuh perhitungan, seperti sedang mengukur seberapa jauh ia bisa dijatuhkan. Clara memejamkan mata, dan ingatannya menyeretnya kembali ke malam itu—malam ia memutuskan Ethan. Saat itu, Ethan hanyalah pria muda tampan tanpa pekerjaan jelas. Ia tidak pernah tahu bahwa darah Sinclair mengalir di nadinya. Baru setelah ia kadung dikenalkan Adrian pada Isabelle dan Richard sebagai kekasihnya, semua terlambat. Tidak mungkin ia memutuskan Adrian dan memilih Ethan. Tidak di tengah tatapan keluarga Sinclair yang penuh ekspektasi itu. Dan sekarang? Ethan bukan hanya kembali. Ia mengambil alih perusahaan dari tangan Adrian, memegang kendali penuh seakan ingin menunjukkan betapa salahnya Clara menilai dirinya dulu. Clara menggigit bibirnya. Kebencian bercampur rasa bersalah mengalir bersama satu pertanyaan yang enggan ia akui—Apakah ia sebaiknya merayu Ethan lagi? Matanya memandang kosong ke pintu balkon yang baru saja dilewati Ethan. Ada sesuatu di tatapan pria itu tadi. Bukan hanya dendam. Bukan hanya amarah. Ada sisa hangat yang ia kenal. Dan jika itu benar… mungkin, hanya mungkin, ia masih bisa menariknya kembali ke sisinya. Clara kembali ke ruang tamu dengan langkah anggun, menyembunyikan kemarahan yang tadi hampir meledak di balkon. Adrian sedang bercerita pada Richard tentang pertemuan dengan klien besar, sementara Isabelle menanggapi dengan tawa kecil. Semua tampak normal. Ethan duduk di ujung sofa, memegang ponselnya. Bukan untuk membaca email atau mengecek laporan—jari-jarinya justru menggeser layar ke aplikasi CCTV yang ada di apartemennya. Clara menangkap senyum samar yang muncul di bibirnya. Senyum yang jarang ia lihat, dan jelas bukan untuk siapa pun di ruangan itu. Tatapannya terpaku pada layar, seolah dunia di sekitarnya tak lagi penting. Namun, bukan itu fokus Clara sekarang. Clara melirik sekilas dan hanya menangkap bayangan samar sosok wanita di layar ponsel itu—Vivian. Wanita yang entah siapa. Selama ini, Ethan tidak pernah dekat dengan wanita mana pun selain dirinya dulu. Atau sekarang dia punya kekasih? Clara tak mau menebaknya tanpa mencari tahu. “Papa, Mama … aku naik dulu,” kata Ethan tiba-tiba, menyimpan ponselnya. “Ada yang perlu kusiapkan untuk besok.” Richard hanya mengangguk, Adrian melanjutkan pembicaraan, dan Isabelle menepuk lutut putranya sambil tersenyum. “Nanti tidur di rumah saja, ya.” Ethan mengangguk singkat, lalu berbalik menuju tangga. Clara menunggu beberapa detik sebelum berdiri. Ia pamit pada semua orang untuk beristirahat lebih awal karena besok ada kegiatan di yayasan. Padahal itu hanya alibi. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara, menyusulnya melewati lorong yang mulai redup. “Ethan,” panggilnya pelan. Pria itu berhenti di pertengahan tangga, bahunya sedikit menegang sebelum berbalik. “Ada apa?” Suaranya datar, tanpa emosi. Clara menelan ludah. Ia melangkah mendekat, menatapnya dengan mata yang sedikit memerah. “Aku… aku cuma mau bilang kalau… sebenarnya, aku masih sayang sama kamu.” Alis Ethan terangkat tipis, tapi matanya tetap gelap. Clara buru-buru menambahkan, “Dulu… Mama yang memaksaku bersama Adrian. Aku… aku nggak punya pilihan, Ethan.” Hening sesaat. Lalu, sebuah senyum tipis muncul di bibir Ethan—senyum yang tidak pernah berarti kehangatan. “Alasan yang indah,” ucapnya perlahan. “Sayang sekali aku sudah tahu kebenarannya.” Ia menurunkan suaranya, nadanya menjadi dingin, berlapis ancaman halus. “Kamu memilih Adrian karena kamu pikir dia akan mewarisi semuanya. Dan sekarang, kamu ingin kembali karena aku memegang kekuasaan itu.” Clara terdiam, merasakan napasnya tercekat. Ethan menatapnya seperti predator menilai mangsanya. “Terlambat, Clara. Bahkan kalau pun aku mau… kamu tetap akan tenggelam bersama pilihanmu.” Tanpa menunggu jawaban, Ethan berbalik dan melanjutkan langkahnya ke atas, meninggalkan Clara berdiri di tangga dengan d**a berdebar, tak tahu apakah ia baru saja ditolak… atau diancam. *** Vivian hampir melompat dari sofa ketika pintu kamar diketuk. “Siapa?” tanyanya waspada. “Roy,” jawab suara di luar. “Boss minta saya antar pakaian untuk Anda.” Vivian membuka pintu sedikit, cukup untuk melihat paper bag hitam elegan dengan logo butik mewah. Ia menerimanya, menggumamkan terima kasih singkat, lalu buru-buru menutup pintu. Begitu dibuka, napasnya langsung tercekat. “Ya Tuhan….” Di dalam, bukan setelan kasual atau dress sopan yang ia harapkan, melainkan deretan lingerie tipis, gaun mini dengan belahan tinggi, dan camisole satin yang bahkan lebih seperti undangan daripada pakaian rumah. Semua dalam nuansa hitam, merah, dan champagne—warna yang terkesan mahal sekaligus … menggoda. Vivian mengangkat salah satu gaun mini itu, menatapnya dengan ngeri. “Dia pikir aku mau pakai ini di dalam kamar?!” gumamnya, separuh kesal, separuh tidak percaya. Tapi rasa penasaran—dan mungkin sedikit keterpaksaan—membuatnya mencoba beberapa potong. Sebab setelan kerjanya terasa sudah lengket karena keringat. Setiap kali ia berdiri di depan cermin, ia menggeleng sendiri, bergumam, “Ini gila… dia pasti sudah kehilangan akal sehatnya.” Vivian tidak tahu bahwa di tempat lain, Ethan sedang duduk santai di ruang kerjanya, ponsel di tangan, menyaksikan semua melalui CCTV tersembunyi. Senyum tipis terukir di wajahnya setiap kali Vivian memutar badan di depan cermin sambil mengomel. Jemarinya mengetuk pelan lengan kursi, menunggu. Ketika akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan, tulisannya singkat: [Kamu terlihat sempurna di setiap pilihan] Ponsel Vivian bergetar. Begitu membaca pesan itu, darahnya langsung naik ke wajah. Ia menoleh panik ke sekeliling kamar, mencari kemungkinan letak kamera. Satu pesan lagi masuk: [ Aku tidak sabar untuk melihatnya langsung] Vivian menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Astaga … dia benar-benar gila.” Sementara di tempatnya, Ethan hanya menyandarkan punggung dan tersenyum puas—seperti pemain catur yang sudah menunggu langkah lawan berikutnya. Dadanya berdebar. Ia tak tahu apakah perintah mamanya tadi bisa menahannya untuk tetap tinggal di sini atau kabur setelah melihat Vivian yang terlihat makin kesal karena ulahnya. “Vivian …. “ Ia berguman rendah, “... kamu benar-benar menggoda.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD