“Astaga … dia benar-benar gila,” ucap Vivian seraya meletakkan ponselnya. Namun, belum sempat benda elektronik itu mendarat di nakas, suara deringnya kembali memecah sunyi. Nama Ethan berkedip di layar. Wanita itu menghela napas panjang, lalu mengangkatnya. “Hmm,” sahut Vivian malas. “Kenapa pesanku kamu abaikan?” tanya Ethan. Tenang tapi menusuk. “Aku tidak punya kewajiban membalasnya,” geram Vivian. Suaranya bergetar, lebih banyak karena kesal pada dirinya sendiri ketimbang pria itu. “Aku tidak mau terjebak dalam permainanmu, Ethan.” Tawa rendah terdengar di ujung sana, berat, dalam, penuh ironi yang membuat bulu kuduk Vivian meremang. "Permainan?" Suara Ethan terdengar bagai bisikan beracun, lembut tapi menghantam. "Aku tidak pernah mempermainkanmu, Vivian. Aku tahu kamu mer

