Bab 11. Nikmat yang Kedua

1038 Words

“Astaga … astaga … dia gila banget,” gumam Vivian, suaranya lirih namun jelas bergetar. Ia mondar-mandir di dalam kamar, langkahnya gelisah seperti binatang yang terjebak dalam kandang. Tangannya saling meremas, dianyam begitu kencang seolah-olah dengan itu ia bisa meredam gugup yang terus membuncah di dadanya. Napasnya naik-turun tidak beraturan, dan sesekali matanya melirik pintu, takut kalau tiba-tiba Ethan benar-benar menepati ucapannya barusan. Jantung Vivian masih berdentum kacau, seakan-akan hendak pecah setelah percakapan mereka lewat telepon tadi. Kalau saja Isabelle—mama Ethan—tidak datang tepat waktu … kalau saja Ethan sempat melanjutkan apa yang sudah dimulainya tadi, Vivian tak bisa membayangkan apa yang terjadi. Mungkin tubuhnya sudah diacak-acak tanpa sisa oleh pria itu.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD