Ethan melirik jam tangannya lalu berdiri, meraih jas yang tadi ia letakkan di sandaran kursi. Senyum kecil terbit di bibirnya, tapi matanya menyapu ke arah mamanya dulu. “Mama…” Suaranya dibuat lebih lembut, sedikit manja seperti biasa kalau ia minta restu. “Aku harus balik ke apartemen sekarang. Ada kerjaan yang nggak bisa ditunda.,” katanya. Mamaya langsung memandangnya khawatir. “Kerjaan lagi? Baru juga makan sama Mama sebentar, Nak.” Ethan menunduk sebentar, pura-pura bersalah, lalu meraih tangan Isabelle dan menciumnya. “Maaf, Ma. Aku janji besok kita makan bareng lagi. Tapi kalau aku nggak pergi sekarang, kepalaku bisa meledak mikirin deadline itu,” ucap Ethan mencoba merayu wanita itu. “Dasar anak Mama yang sibuk.” Mamanya mengusap kepala Ethan penuh sayang. Sejak kecil

