“Enggak bisa hilang. Ethan sialan. Kenapa dia bisa bikin tanda merah seperti ini di leher. Aku harus kerja dan ketemu banyak orang. Aah … aku enggak bawa bedak apa pun yang bisa menyamarkannya lagi. Gimana ini?” Vivian terus saja mengomel ketika berada di depan kaca wastafel. Wanita itu menatap pantulan dirinya di cermin demi memastikan satu hal. Tanda kepemilikan yang tersebar di leher dan dadanya. Dan itu semua adalah ulah Ethan. “Sekarang aku akan tampil seperti korban vampir,” gumamnya lagi. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka tanpa ketukan. Ethan masuk dengan santainya, hanya mengenakan celana panjang, rambutnya masih berantakan. Matanya langsung jatuh pada refleksi Vivian di cermin. Senyum miring terbit di wajahnya. “Jangan lihat terlalu lama,” ucap Ethan rendah, suarany

