“Hans yang bayar semua biaya perawatan ibu. Termasuk menempatkan ibu di ruangan yang nyaman ini. Jangan kecewakan Hans, Vi. Dia suami yang baik,” kata Ibu Vivian yang terus memuji sang menantu. Vivian yang duduk di bangku sebelah brankar hanya melirik Hans sekilas. Senyumnya terbit, tapi terlalu getir untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada sang ibu. Bahwa, semua yang ia dapatkan sekarang bukanlah dari bantuan Hans. Melainkan ia yang harus menjual harga diri kepada bosnya. “Sudah, Bu. Jangan diungkit terus. Hans, kan, menantu Ibu. Jadi, Hans juga yang akan mengusahakan semua yang terbaik buat Ibu,” sahut Hans yang kemudian bangkit dan mendekat ke arah Vivian duduk. Senyumnya terbit, tangannya lancang mengusap bahu Vivian yang sejujurnya, sangat jijik kepada suaminya ini. Bisa-bisanya

