“Enggak ada yang jual diri ke saya.” Suara itu berat, dalam, dan dingin. Mengiris suasana hening di ruang tunggu rumah sakit. Semua kepala sontak menoleh ke arah lorong rumah sakit. Ethan Sinclaire berdiri di sana, tubuh tegapnya terbungkus kemeja putih dengan lengan terlipat sampai ke siku, tatapannya menusuk bak bilah pisau. Wajahnya tanpa senyum, penuh kuasa. Dengan langkah tenang, ia berjalan mendekat. Vivian menahan napas, hatinya berdegup keras. Hans membeku, sementara Alexander Reinhard dan istrinya, Elisabeth, sama-sama memasang ekspresi tegang. Begitu jarak tinggal beberapa langkah, Ethan berhenti. Pandangannya bergulir, pertama ke Alexander, lalu singgah lama pada Vivian, seolah memastikan wanita itu masih utuh, sebelum akhirnya kembali menancap ke arah Hans. “Vivian tidak p

