" Abang,sore ini Afila nggak mandi ya."
Ucapan yang membuat Nanda tertawa pelan di ambang pintu masuk,langkahnya terasa berat menuju ke ruang tamu di mana Afila masih menikmati sorenya.
" Enggak baik lo sayang,kasihan kan anak kita nggak di mandiin sama mamanya sore ini," Nanda mengecup kening Afila yang sudah berada di pelukannya.
" Abang nggak lihat habis hujan,kasihan dia kedinginan.Huh! papa enggak sayang kamu nak," Afila mengusap perutnya yang masih rata.
" Ya udah,apa maunya Afila aja deh,abang ada bawain buah Anggur nih.Afila mau?"
" Kan Afila nggak pesen apa-apa ke abang? "
" Abang inisiatif untuk perhatiin kamu sama anak kita,apalagi semenjak jadi bumil Afila jarang lho makan buah - buahan."
" Kalau Afila nggak pesan abang jangan beliin deh,tapi karena abang udah terlanjur beli ya gapapa sini,Afila mau coba rasain."
" Sabar,masih di ambil."
"Nginep di rumah mama Husna nanti malam yuk bang."
" Tumben," kata Nanda menyuapkan Anggur ke dalam mulut Afila.
" Kenapa emangnya? kan kita udah lama nggak kesana."
" Abang tapi mau ikut perkumpulan bapak-bapak,malam besok aja ya."
Afila langsung menatap kesal pada Nanda,ia bahkan menyudahi makannya dan bersiap-siap membuang yang ada di dalam mulut.
" Iya - iya,kita nginap di sana,segitunya banget sama abang."
" Abis abang suka buat kesel sih,ini bukan Afila yang mau."
" Uh,anak papa udah mulai rindu oma ya?" Nanda mencium perut Afila begitu lembut,membuat tawa Afila terdengar manis.
" Abang,apaan sih." Afila mengusap kepala Nanda.
" Tawa yang abang rindukan selama ini."
" Ngomong apa barusan?"
" Rindu sama tawa Afila, semuanya yang buat abang langsung jatuh cinta."
" Ngomong apa sih?"
" Mungkin Afila nggak merasakan abang yang kesepian tiap malam,yang sedih Afila abaikan.Suami kamu ini belajar kuat karena anak kita,sepertinya papanya harus merasakan apa yang mamanya rasakan dulu,mungkin sih."
Afila kembali tertawa dan mengangguk setuju." Hanya ikatan batin seorang anak dan mamanya yang sekuat ini."
" Berarti nanti malam abang udah boleh tidur bareng Afila ya?"
" Belum," Afila menggeleng.
" Kenapa? kan udah ke bales semuanya.Boleh lah ya sayang," rayu Nanda menggoda Afila di sampingnya.
" Emm," Afila berfikir,menatap Nanda yang masih melihatkan tampang memelas." Ia deh boleh."
" Nah gitu dong istri abang,akhirnya dapat pelukan juga dari istri." Nanda merenggangkan kedua tangannya begitu bahagia.
" Jangan seneng dulu.Afila beru..." Belum menyempurnakan ucapannya,Nanda lebih dulu meletakkan bibirnya pada bibir perempuan yang masih berbicara di hadapannya itu.
Tidak lama memang,Afila sudah menjauhkan tubuhnya terlebih dulu.
" Afila si ratu istana rumah kita,abang tau kok." Nanda bangun dari duduknya dan mengambil handuk. " Abang mandi dulu ya."
LYMS
Hanya menggunakan Daster rumahan!
itulah penampilan Afila malam ini untuk berkunjung ke rumah mama sambung dari suaminya.
" Bawa Afila masuk Nan,angin malam nggak bagus untuk kesehatan ibu hamil." Perintah Husna.
" Iya ma,"
" kok banyak berubah ya mama lihat sekarang dari kamu Fil,"
" apa ma yang berubah?" tanya Afila sembari duduk di sofa.
" Mungkin karena penampilan kamu yang sederhana,jadi ngerasa kamu kurusan.
" Biasa lah kalau ibu hamil ma." Afila terkekeh.
" Tadi udah Nanda minta supaya ganti baju yang lain tapi dia nggak mau," sambung Nanda setelah masuk ke rumah
" Males ribet-ribet,mau yang simple aja." Afila langsung mengambil buah yang berada di atas meja dan membaringkan tubuhnya di pangkuan Nanda lagi.
Husna tertawa pelan." Masih suka lemes?"
" Kadang-kadang sih ma,cuma kalau ngantuk ya tiap hari." Afila memejamkan matanya sambil menikmati buah anggur.
" Mama dulu waktu hamil kakak kamu nggak terlalu banget mabuknya seperti ini,cuma Dua minggu mual - muntah."
" Afila malah nggak ada mual - muntah,ya kan sayang?"
Hanya mengangguk,Afila melanjutkan matanya untuk kembali terpejam.
" Itulah wanita Nan,banyak sebenarnya yang harus lelaki hargai dari wanita.Susahnya menemani kehidupan pasangan tidak pernah ada keinginan untuk di tinggalkan,bahkan ia berani berjuang bareng,setelah menikah ia juga siap menanggung segala susah-payahnya untuk memiliki buah hati,belum lagi ketika waktunya sudah akan melahirkan.Nyawa akan menjadi taruhan dia." Ungkap Husna menatap pada Afila yang sedang terlelap." Jangan pernah menyakiti dia."
" Nanda juga sudah tidak ingin bermain dengan hal yang seperti itu ma,dia istri Nanda dan calon ibu dari anak-anak Nanda,mana mungkin sanggup untuk melukai hatinya lagi."
" kakak kamu juga lagi isi dan Varo kewalahan," Husna menertawakan anak perempuannya yang juga sudah menikah.
" Kewalahan kenapa ma? Nanda lama nggak ada kabar dari mereka."
" Ya sama dengan Afila,bedanya si Erin nggak bisa keluar dari kamar mandi.Dua bulan ini muntah - muntah,ngikut mama dulu."
" Berarti Afila ngikut mama Anisa nih," Nanda mengusap kepala Afila penuh kasih- sayang.
" Gimana kantor? baik-baik aja kan?"
Nanda mengangguk " baik ma,tapi kontrak kerja dengan perusahaan Nesya sudah tidak di perpanjang lagi,Nanda sedikit keberatan dengan perhatian Nesya walaupun hanya sebatas rekan kerja."
" Mama selalu mendukung kamu selagi itu baik dan tidak menganggu hubungan kamu dengan Afila dan Nesya."
" Iya ma,Nanda ngerti kok.Papa mana ma?"
" Papa lagi di luar kota barusan tadi sore berangkat,kamu nggak ada di kabarin?"
" Enggak,papa bilang cuma sibuk bisnis Aja.Mama sering sendiri?"
" Nggak juga,palingan cuma sesekali papa ke luarkota kalau memang udah Urgent banget." Husna mengusap bahu Nanda tersenyum.
" Bilangin sama papa,ajak kek mama sesekali ke luarkota gitu."
" Mama yang males Nan,capek.Mau nginep di sini atau gimana?"
" Iya nginep,kamar Nanda masih seperti biasa kan ma nggak di jadikan gudang?"
" Ya enggak lah,sana bawa Afila pindah ke kamar.Mama juga sudah ngantuk nih,nanti kalau mau makan malam ambil di lemari ya Nan,mama tadi udah masak kok." Husna bangun dari tempat duduk menuju ke kamar.
" Iya ma," Nanda menggendong tubuh Afila untuk di pindahkan ke kamar.
" Maaf kan abang ya kalau selama kita menikah ada sikap abang yang ngeselin,abang sayang Afila tulus banget tanpa ingin menyakiti lagi," ujar Nanda pelan,membaringkan tubuh Afila ke kasur.
Seperti biasa Nanda akan menyelimutinya dan menatap hampir Lima menit wajah yang tidak pernah bosan-bosan membuat rasa cintanya hadir.
" Hei jagoan papa,terimakasih ya telah datang menemani mama dan papa di sini,kamu sehat - sehat terus ya nak ya." Sambung Nanda mengecup singkat perut Afila dan langsung menuju ke dapur.Sebenarnya ia sudah merasakan lapar sejak di rumah namun memilih bungkam,menghindari omelan Afila jika harus lebih dulu menikmati malam malam daripada menuju ke rumah mamanya.