Fall In Love

999 Words
___ Dua makhluk Tuhan yang sedang di mabuk cinta seperti awal mula bertemu___ LYMS Afila menatap lama lelaki yang tengah menyiapkan makan siang di dapur,senyumnya hadir menghias bibir melihat tangan kekar Nanda begitu terlatih untuk pekerjaan dapur,namun juga mahir dalam urusan kantornya. Suami idaman,Dududu. " Mau abang siapin vitaminnya sekarang?" Nanda menatap istrinya yang tengah tersenyum manis,bahkan manis sekali. Afila menggeleng tanpa menjawab,justru tangannya di letakkan pada Dagu,menatap Nanda kembali.Ia memajukan bibirnya,mencium lelaki itu dari kejauhan. " Jangan buat abang ke sana ya Fil," Nanda melihat tingkah Afila yang tengah tiduran di sofa ruang tamu. " Siap sayang," jawabnya tertawa. Beberapa acara TV tidak di hiraukan oleh Afila,ia terlihat lebih menikmati majalah seputar kehamilan yang beberapa hari di belikan oleh Nanda. Bahkan tangannya berulangkali mengusap perutnya yang terbilang masih cukup rata," mama seneng kamu ada di sini." " Papa yang lebih bahagia nak punya mamanya kamu di rumah ini," ujar Nanda sudah berada di samping Afila. " Abang suka banget sih ngagetin." Afila mencubit pinggang nanda. " Makan siang dulu,udah abang siapin." " Tapi kan Afila udah nggak laper,nanti aja ya." " Enggak boleh gitu dong,nanti jagoan abang kelaperan di dalen sana.Gimana?" " Kayak udah tau aja anak abang nanti bakal cowok," Nanda mengangguk mantap," lihat aja mamanya,maaf ya sayang bukan abang gimana,tapi dengan sikap sayang semenjak hamil nggak suka mandi,bukan,bukan itu maksud abang Afila jadi takut air,sukanya tidur terus,jelas dong anak kita cowok." " Abang aja yang nggak tau Afila gimana,memang dasarnya seperti ini kok.Bukan bawaan bayi tapi bawaan lahir." " Memang abang nggak ngenal kamu lama,tapi kan Afila udah jadi istri dari Nanda Eko Putra.Nggak sesulit itu buat abang ngenal kamu." " Ih abang apaan sih," " Hayo kenapa malu-malu gitu," Nanda membuka selimut yang menutupi wajah istrinya,bahkan tawanya telah terdengar di barengi Afila yang cekikikan. " Afila sayang abang,boleh?" ujarnya dari dalam selimut. " Ih istri abang kok malah manja ya," " Memangnya salah?" " Salah kalau ngomongnya tutup - tutup gitu,buka dulu dong biar abang bisa lihat wajah Afila." " Dari sini aja kan udah kedengeran," " Apa Fil? abang nggak denger nih kamu ngomong apa." Tertawa pelan Nanda memperhatikan Afila yang belum membuka selimut. " Abang pasti denger,alasan aja kan biar Afila buka selimutnya." Tawa Nanda terdengar lebih keras dan terdengar menjauh dari ruang tamu. Setelah cukup lama menyadari keberadaan Nanda tidak di sampingnya,Afila membuka selimut dan menghirup udara dengan baik. Cup. Ciuman dari Nanda membuat tawa afila kembali menghias indra pendengaran lelaki yang tengah mengecup kening istrinya. " Dapet juga kan," Nanda mencubit hidung Afila gemas." Afila sih harus malu-malu kucing buat abang cium," " Bukan begitu,abang aja yang nggak ngerti ucapan Afila." " Sayang kenapa sih,malu-malu gitu sama abang,"tatap Nanda heran. " Enggak tau kenapa,tapi di sini Afila ngerasa beda ketemu abang,apa mungkin jatuh cinta lagi?" berulangkali perempuan yang hanya menggunakan Daster langsungan Batik menunjuk ke arah hatinya. " Iya tau,abang ganteng kan hari ini.Makanya Afila nervous gitu," dengan bangga Nanda merapikan rambutnya. " Abang ganteng? dih yang serius dong kalau ngomong." Afila membenarkan duduknya dan mendekati Nanda." Hidung kotor gini kok iya ganteng" " Masa? bekas apa?" Nanda mengusap hidungnya buru-buru. " Enggak tau bekas apa,mungkin sisa tepung.Sini Afila yang bersihin karena kebetulan lagi nyantai." " Sayang kan emang selalu nyantai,tanyain aja sama bantal sama selimut juga,mereka tuh tau." Hanya tawa yang terdengar dari Afila,ia langsung mengusap sisa tepung yang berada di hidung Nanda dan membalas kecupan yang tadi lelaki itu lakukan padanya. " Ayo makan siang,abang yang suapin."Ajak Nanda. " Beneran? " Afila menarik tangan Nanda penuh semangat. " Nanti sore abang temenin Afila jalan-jalan ya di sekitar kompleks sini," Afila menatap kesal pada Nanda,melangkah malas ke meja makan. " Habis ini Afila tidur siang ya bang,jangan di bangunin biar Afila yang bangun sendiri." " Itu nanti sengaja kan bangunnya sore," " Ya tanya anak abang dong,kan dia yang ngajak mamanya tidur." " Si anak lagi yang jadi alasan,nanti harus jalan-jalan sore ya sama abang,nggak mau tau." Afila diam tanpa menjawab ucapan Nanda,ia langsung menikmati menu makan siang yang sudah berada di atas meja. Harum masakan Nanda menyerbu indera penciuman,perut Afila langsung lapar melihat menu yang tersedia. Duh pak koki Nanda,memang suami the best. Perfect husband. LYMS Matanya tetap lekat pada foto yang tersimpan rapi di file komputer,ia menghela nafas pelan dengan di sertai tawa kecil. " Rindu nggak sih Nan sama kenangan seperti ini,walau udah beberapa tahun lalu lamanya kita saling menjauh." Derit pintu ruangan yang terbuka membuat ia langsung menutup file itu seperti semula. " Maaf bu,saya menganggu waktunya sebentar.Untuk kontrak kerja sama dengan perusahaan pak Nanda sudah tidak perpanjang lagi.Hari ini sudah habis masa kontraknya," ungkap perempuan dengan stelan Bletzer Hitam di padu dengan Rok span pendek berwarna Hitam. " Kenapa tidak di perpanjang,ada masalah?" tanya Nesya bingung. " Dari pihak pak Nanda yang tidak menginginkan kembali untuk tetap kerjasamanya berlanjut bu." " Ya sudah tidak apa - apa,kamu siapkan saja berkas-berkas yang saya sepakati saat mulai bekerja sama dengan pak Nanda." " Baik bu,dan ada pak Adit yang sudah menunggu." Nesya mengangguk,mempersilahkan sekretarisnya keluar. " Ada apa sih dengan kamu Nan?" ujarnya lirih dan bersiap - siap untuk langsung menemui suaminya yang sudah menunggu. " Eh Adit,kok tumben dateng kesini nggak ngabarin dulu." Sapa Nesya setelah mendapati Adit di depan ruangannya. " Aku bawain kamu makan siang,sekalian mau ajak kamu untuk makan bareng di sini.Boleh?" Senyum Nesya menghias bibir dan." Good Father," " Bagaimanapun dia tetap anak aku Nes dan aku papanya." " Adit,jangan buat aku semakin merasa bersalah,kita sudah menikah dan jika kamu memang menginginkan anak dari aku ya itu sesuatu yang wajar." " Terimakasih Nes,hingga saat ini kamu tetap menjadi seorang istri yang baik." " sudah lah sayang,apa perlu kita liburan untuk si buah hati?" " Apa kamu menginginkannya?" Adit mencium sekilas perut Nesya yang sudah membesar di usia kandungannya yang memang cukup di bilang tua. " Ia Dit," Nesya mengangguk di d**a bidang suaminya dengan mengusap airmata yang telah berhasil turun. ____ Walau semua ini berawal dari kesalahan,aku tidak bisa untuk membenci ____
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD