I'm Sorry

671 Words
 RIDWAN "Wan, bangun! Hei, ini sudah hampir jam delapan pagi. Kamu tidak ingin pulang? Hah? Ayolah Wan, jangan jadi pengecut terlalu lama sepertu ini." Robi membangunkanku dengan sedikit cacian yang membuatku lagi-lagi merasa bersalah. "Apa yang kau bicarakan Bi? Aku tidak mengerti maksudmu." jujur saja aku masih ngantuk dan dia malah mengomeli ku layaknya seorang ibu yang sedang membangunkan anaknya. "Apa kau tidak mengecek hp mu? Lihat! Istrimu sudah menelpon puluhan kali, bahkan mengrim pesan singkat belasan kali. Kau tidak sedikitpun membalasnya karena tidak tau, atau kau sengaja mengabaikannya." "Aku memang tidak tau kalau ada panggilan dan sms masuk, bukan sengaja mengabaikannya." "Heh! Kau tidak tau atau pura - pura tidak tau terserah? Pokoknya kamu pulang sekarang juga, aku tidak mau membantumu mendzolimi istrimu sendiri." Jawabnya dengan menggebu untuk segera mengusirku dari apartemennya ini. "Hei, memang apa yang aku lakukan?" "Kau mengabaikannya Wan! Apa itu tidak zolim? Kau bahkan tidak menatapnya atau sekedar membuka mulutmu untuk menanyakan keadaannya." "Baiklah aku akan pulang, terima kasih atas kemurahan hatimu yang telah memgizinkaku untuk menginap disini. Lain kali aku tidak akan merepotkanmu". "Wan, maksudku.. bukan," perkataanya mengambang diudara. "Tak apa Bi, kamu memang benar. Aku memang lelaki pengecut dan tak pantas untuk tetap disampingnya. Aku pulang, Assalamualaikum". "Wa'alaikummusalam". Akupun mengambil barang-barangku, dan segera berlalu meninggalkan apartemen Robi. "aku tidak pernah bermaksud untuk mengabaikannya dan kaupun tau itu Bi, tapi yasudalah. ini memang salahku, aku telah mengabaikannya, menyakiti hatinya, bahkan mungkin membuatnya menangis. Maafkan aku Fa. Maafkan lelaki pengecut ini. *** AKU mengacak rambut dengan frustrasi, apa mungkin semalaman dia menungguku? Tak hanya pesan singkat, namun dia juga telah menelponku puluhan kali, tapi-, tapi aku mengabaikannya. Rasanya aku benar benar membenci diriku sendiri. From : My Litle Girl ♡ "mas, apa mas sudah makan malam?" "mas pasti sedang sibuk, ya:)" "malam ini mas pulang kan?" "mas, mas dimana? sekarang sudah hampir tengah malam, apa mas lembur? atau menginap di tempat mas Robi lagi?" ".......... "........ ada belasan pesan yang ia kirimkan, dan semuanya menunjukkan kalau ia menkhawatirkanku. apa aku jahat? Ya tentu saja aku sangat jahat. Aku mulai menstarter mobil sebentar dan melajukannya dengan cepat menuju apartemen. Sepanjang perjalanan aku memikirkannya, ahhh 'fokus Wan' jangan lemah! kalau kau lemah, semuanya akan berantakkan, atau bahkan aku akan kehilangannya? TIDAK, aku tidak ingin itu terjadi.  Aku melangkahkan kaki menuju apartemen yang aku dan istriku tempati, namun aku lebih sering membiarkannya sendirian disana. Bagaimana dengan keadaannya? apa dia baik - baik saja? semua pertanyaan itu memdominasi di dalam kepalaku. aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, dan tak lama kemudian dia menjawab salamku dan membukakan pintu. Raut wajahnya terlihat sangat sendu dan sepertinya dia lega melihatku sudah pulang. Apa dia tidak tidur semalaman karena menungguku? Tidak! kuharap prasangkaku ini salah. Kumohon siapapun, katakan padaku kalau itu tidak benar. Kalau benar dia tidak tidur hanya karena menungguku semalaman, maka aku akan semakin membenci diriku sendiri. Sungguh. Aku akan sangat membenci diriku sendiri. Seperti biasa, tanpa mengatakan apapun lagi, aku langsung berlalu menuju kamar tanpa mengatakan sepatah katapun padanya. Aku tidak tahan melihat wajahnya yang polos dan sendu itu, aku takut aku akan memeluknya dengan kuat dan erat sampai aku tak akan beranjak lagi. *** Setelah selesai mandi dan bersiap - siap, aku memutuskan untuk tidur sebentar. 10 menit... 20 menit... drttttttt... drttttt... from : Sinta "Wan, kau tidak mempunyai kesibukkan apapun hari ini, iya kan? ayo kita makan diluar. aku ingin membicarakan sesuatu, ku tunggu di kafe dekat kantor kita." Aku beranjak dari kamar, saat aku keluar kamar aku tidak mendapati keberadaannya, diamana dia? Ah, ternyata dia sedang sibuk di dapur, sepertinya dia sedang memasak sesuatu. apa aku harus membatalkan pertemuan dengan Sinta dan makan bersama dengannya? setelah aku pikir - pikir lebih baik aku menemui Sinta. Sekarang aku sedang menatap punggungnya, dia sangat semangat memasak untukku. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku disini, jadi aku bisa pergi tanpa harus melihat kekecewaan di wajahnya. setelah sampai di mobil, aku mengirimkan pesan singkat padanya, To : My litle girl♡ "aku buru -buru karena ada janji dengan teman kantor. Maaf aku tidak bisa makan di rumah bersamamu." send... Maafkan aku.. Maafkan aku Fa.. Maafkan suamimu yang pengecut ini. Tanpa babibu akupun melajukan mobil dan menuju kafe di dekat kantor tempatku berkerja.  Jangan lupa tersenyum:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD