My Little Girl

598 Words
RIDWAN *** Saat ku lirik jam yang bertengger di dinding ruanganku, ternyata jarum pendeknya sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, itu artinya ini hampir tengah malam. Apa mungkin dia masih terjaga untuk menungguku pulang ke rumah? Aku harap dia tidak-akan-pernah menungguku. Aaa..... aku benar-benar tak sanggup jika harus berhadapan dengannya. Aku takut hatiku akan lemah dan merusak semuanya. Entah bagaimana bisa, selama hampir dua minggu terakhir aku menghindarinya. Jujur, hatiku tak terima atas tindakan yang kulakukan padanya, namun tetap saja aku tidak boleh egois dengan hanya memikirkan perasaanku. Aku harus memikirkan bagaimana perasaannya jika ia tau yang sebenarnya. Kenyataan yang terburuk dia akan membenciku atau bahkan dia akan mengusirku dari kehidupannya. Tidak. Aku tidak ingin itu terjadi. Kadang, ketika aku melihat raut kesedihan dan kelelahan diwajahnya, ingin sekali aku memberikan pelukan kenyamanan agar kesedihannya atau apupun itu hilang dan tergantikan senyum manis di wajahnya. Ya Allah, kuatkan aku, entah apa yang akan terjadi kedepannya sku tidak bisa meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun aku percaya bahwa rencana-Mu selalu luar biasa. Aku menghela nafas berat, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengubungi Robi, karena malam ini aku akan menginap 'lagi' dirumahnya. Ya, ini akan menjadi kesekian kalinya aku menginap dirumah sahabatku itu untuk menghindari my little girl itu. Untungnya, sampai detik ini Robi belum menikah, entah fakta itu sebuah keberuntungan untukku atau mungkin ketidakberuntungan baginya. Sebab itu artinya dia tinggal sendirian di apartemennya yang tak jauh dari sini dan aku bisa bermalam disana sampai semuanya menjadi lebih baik. "gadis kecilku, aku harap kamu bisa tidur dengan nyenyak dan esok harinya kamu dapat menjalani kehidupanmu dengan baik, nice dream"   *** "Wan, kamu ga pulang 'lagi'? Sampai kapan kamu akan menghindarinya seperti seorang lelaki pengecut? Hah?" "Sudahlah Bi, aku sudah ngantuk sekali, boleh aku tidur disini? Dengan ataupun tanpa pernyanyaan darimu, ok terimah kasih kau memang sahabat terbaik. Aaa.. Aku ngantuk sekali, selamat malam gadisku." "ckckckck.. Wan.. Wan, sampai kapan kau akan menyiksa hatimu seperti itu?" "Bi?" "Hmm? Kenapa lagi? Kau rindu padanya seperti malam-malam sebelumnya hah? Lalu kau akan mengoceh panjang lebar tentangnya lalu tertidur dengan sendirinya? Iya?" "Parahnya lagi, kau akan mengigau memanggil-manggil namanya!" "Bukan itu! Ini tentang kamu? Kapan kamu mau menikah hah? Ingat kau itu sudah tua Bi? Kamu mau punya anak nanti tapi berasa punya cucu?" "Hmm kupikir kau akan membicarakan gadis kecilmu itu lagi dan lagi? Apa? Berasa punya cucu? Enak saja, kau pikir aku tidak berpikir sampai kesana? Aku belum menikah karena memang belum menemukan wanita yang menurutku cocok untuk dijadikan makmumku nanti". "Lihat! Cara bicaramu itu hahah katakan saja kalau kau itu masih belum bisa move one dari nya kan!? Jangan katakan tidak!" Walaupun sudah lama sekali kau tak pernah membahasnya, namun menurutku itu alasan yang lebih logis. "Aahh terserah kaulah Wan! Kau itu memang benar-benar... Sahabat yang SOK TAU!" Kamu kan tau bahwasanya pernikahan itu adalah salah satu ibadah jangka panjang. Mana mungkin aku sembarangan mencari pasangan untuk menemaniku beribadah. "Masyaa Allah, kau benar-benar sahabatku ternyata." ".........." "Bi? " ".........." "kau tidur?" ".........." Huh! Aku menghela nafas lelah dengan lega. Akhirnya Robi tidur juga. Sungguh aku sangat tidak nyaman kalau dia terus membahas hal yang bahkan setiap saat ingin ku hindari yaitu mengenai gadis kecilku, atau lebih tepatnya istriku, bukan karena benci! Bukan sama sekali. Aku bahkan sangat ingin memeluknya, mendengar cerita apa saja yang ia lalui setiap harinya, berada disampingnya dan mengusap air matanya serta memberikan kenyamanan padanya.. Tidakk,, tidak! Lebih dari itu aku akan berusaha membuatnya selalu tersenyum dan tertawa bahagia dengan atau tanpa aku di sampingnya. Namun pada kenyataannya aku tidak bisa melakukan itu, walaupun bisa, itu hanya akan lebih menyakitinya suatu saat nanti. *** Jangan lupa tersenyum:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD