Roger kembali melakukannya lagi. Memberi kecupan di beberapa titik. tak cukup bibir saja, tapi juga di pipi, leher, d**a, dan lainnya.
Roger begitu menikmati malam pertamanya dengan Najma. Dia seperti ketagihan. Karena hubungan intim terulang lagi untuk yang kedua kalinya. Bahkan ketiga, empat, dan lima kali.
Membuat Najma yang semula tidak percaya diri menjadi bangga karena sebagai seorang istri dia bisa membuat Roger puas dan ketagihan.
Namun setelah hubungan intim itu selesai, wajahnya berubah muram saat benaknya kembali mengingat tentang baju-baju wanita yang ada di lemari. Punya siapa baju-baju itu.
Najma menoleh pada Roger. Dia mendapati pria itu tengah tertidur sangat nyenyak. Terdengar dari dengkuran halusnya. Sebenarnya jika ingin mengenai baju-baju itu, ini adalah waktu yang tepat karena dirinya berada di samping Roger. Tapi dia tidak berani untuk membangunkan Roger. Takut itu akan membuat Roger marah.
Adzan subuh belumlah berkumandang ketika Najma keluar dari kamar utama menuju kamar awal dirinya ditempatkan. Hal pertama yang dia cari adalah sertifikat tanah panti yang semula dia taruh begitu saja di sofa. Ternyata masih ada di titik yang sama yang menandakan tidak ada yang menyentuhnya. Padahal dia yakin ada yang masuk ke kamar ini semalam atau dini hari untuk menaruh pakaian gandi lengkap yang baru di atas meja. Dia berencana pagi ini akan menyerahkan sertifikat itu pada Aliyah. Pimpinan panti itu pasti akan senang menerimanya.
Najma menaruh kembali sertifikat itu ke tempatnya semula. Lalu dia mengambil baju ganti di atas meja itu, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Lebih memilih memakai pakaian di dalam kamar mandi karena takutnya ada orang yang tiba-tiba masuk. Salah satu contohnya adalah Wilson. Assisten pribadi Roger yang sepertinya memiliki kebebasan penuh di rumah ini.
Setelah selesai mandi, sholat, dan berdandan ala kadarnya, Najma keluar dari kamar. Dia ingin mencari dapur tapi setelah berkeliling tidak menemukannya. Rumah ini begitu membingungkan. Hanya terdiri dari satu lantai tapi sangat luas. Sepertinya dia perlu bertanya pada seseorang.
Tapi siapa? Sedari tadi dia tidak menemukan siapa pun yang lewat. Sangat cocok jika dijadikan tempat bermain petak umpet. Bisa bersembunyi dengan leluasa. Hanya saja kasian pada yang sedang jaga.
Wajah Najma langsung berseri ketika dia melihat seorang wanita berpakaian pelayan yang tengah berjalan ke arahnya. Pelayan itu tampak terkejut melihat dirinya. "Lho, kok nona ada di sini?"
Najma tersipu malu. "Aku tersesat sepertinya. Rencananya ingin ke dapur. Tapi rumah ini sangat luas sehingga aku aku tidak menemukannya."
"Memangnya kenapa nona harus ke dapur? Apa yang nona cari? Kalau nona butuh apa-apa bisa minta pada Wilson. Nanti dia akan ambilkan."
"Tidak, bukan itu. Aku ingin ke dapur untuk bantu memasak sarapan."
"Tapi nona kan...."
"Aku biasa melakukannya. Setiap pagi aku akan masak dan beres-beres. Kalau tidak ada yang dikerjakan rasanya tidak enak saja. Tolong antar aku ke dapur ya?"
Setelah berusaha keras merayu dengan setengah memohon, pelayan itu akhirnya luluh. Dia lalu mengantarkan Najma ke dapur.
Tentu saja kehadiran Najma di dapur membuat pelayan di sana terkejut bukan kepalang. Mereka meminta Najma kembali ke kamar dan melarang membantu memasak karena takut dimarah oleh majikan mereka, Roger. Minimal dimarah oleh Wilson. Setelah Roger, Wilson adalah orang yang paling disegani di rumah ini.
Tapi bukan Najma namanya kalau tidak keras kepala. Dia menolak keras untuk kembali ke kamar dan keukeuh ingin bantu memasak. Tak dapat berbuat apa-apa, para pelayan dapur akhirnya mengizinkan Najma untuk sibuk di sana.
Selesai memasak, Najma ikut menata makanan yang sudah dimasak ke atas meja makan. Selama masak tadi, baru dia mengetahui kalau makanan untuk Roger dibedakan dengan makanan orang-orang yang bekerja di rumah ini.
Selain itu, Najma juga menata peralatan makan seperti gelas, sendok, garpu, mangkok, dan serbet yang nanti akan digunakan oleh Roger dan istri Roger. Yaitu dirinya sendiri.
"Apakah sarapan untuk Tuan Roger dan Nona Najma sudah siap?" sebuah suara di belakang punggungnya membuat Najma terhenyak. Dia menoleh. Dan yang terkejut kemudian adalah orang yang bertanya.
"Ada apa ini? Sebentar lagi tuan akan turun tapi kalian malah saling berkumpul di sini?"
Suara tegas itu membuat semua pelayan mengarah pandang ke sumber suara. Sementara Najma, harus membalikkan badan untuk memastikan pemilik suara. Itu adalah Wilson.
"Nona, sejak kapan anda ada di sini?" tanya Wilson begitu mengetahui kalau pelayan yang disapanya adalah Najma. Membuat para pelayan menepi karena takut disalahkan dan dimarahi oleh Wilson.
"Ee sejak setelah sholat subuh," jawab Najma kemudian.
Wilson melirik serbet yang ada dalam genggaman tangan Najma. "Nona yang menyiapkan makanan di meja makan? Atau jangan-jangan...." Wilson memperhatikan dengan seksama penampilan Najma. Apron masih membalut tubuh bagian depan wanita itu. "nona ikut masak?" sambungnya.
Najma mengangguk pelan. "Iya, aku ikut masak. Memangnya salah?"
"Jelas salah. Memasak itu tugas pelayan sementara tugas nona sendiri adalah melayani Tuan Roger sebagaimana istri melayani suami."
"Aku... aku tidak tau apa yang harus aku kerjakan padanya. Apakah aku harus menyisir rambutnya begitu?"
"Saya belum tau soal itu. Nanti saya tanyakan tuan apa yang dia inginkan dari nona."
"Baiklah."
"Sekarang buka apron, letakan kain serbet, dan duduklah untuk sarapan bersama tuan."
Najma mengangguk. "Iya."
Najma langsung bergerak ke dapur. Melepas apron dan menaruh serbet dengan diiringi tatapan para pelayan dapur. Lalu dia kembali lagi ke meja makan yang di sana sudah duduk manis Roger.
Jantung Najma berdegup kencang begitu melihat pria itu. Bukan karena pria itu tampak dingin dan tanpa senyum tapi karena apa yang sudah dilakukan semalam sampai dini hari bersama pria tersebut. Malam yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.
Tapi berbeda dengannya, Roger tampak biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa dengan mereka. Padahal semalam Roger begitu agresif dan tidak mau melepaskannya. Bahkan Roger tidak puas menikmati tubuhnya hanya satu kali saja, melainkan hingga berkali-kali.
'Apa dia memang pelupa? Atau karena sudah sering melakukannya dengan wanita lain sehingga yang terjadi semalam bukanlah hal yang istimewa?'
Najma menelan saliva. Merasa kecewa dengan keadaan ini. Tak dianggap oleh suami sendiri ternyata rasanya menyakitkan.
Najma menghela nafas. Mencoba menenangkan hatinya yang terluka. 'Sadar Najma, ingat! Kamu itu bukan istri yang diharapkannya. Kamu dinikahi olehnya karena kamu begitu menginginkan sertifikat tanah panti. Jadi, jangan pernah merasa terluka,' ucap hatinya.
'Ah, ya. Bodoh sekali aku ini. Kenapa harus punya rasa kecewa? Kenapa aku harus terluka dengan sikapnya? Apa yang terjadi semalam bukan karena dia mengharapkan aku apalagi cinta. Kejadian semalam adalah bayaran atas sertifikat tanah panti asuhan yang sudah aku terima,' sambung hatinya.
'Ya, begitu.' Hatinya kembali menambahkan agar hatinya menjadi tenang.
"Nona! Kenapa anda masih berdiri saja di sana?!" Wilson menegurnya.
Najma terhenyak. "Oh, maaf. Aku... aku segera ke sana."
Najma melangkah cepat menuju meja makan. Dia lalu mengambil duduk di kursi yang berhadapan-hadapan dengan kursi yang diduduki Roger. Dalam keadaan yang sudah berhadap-hadapan seperti ini saja, Roger tidak mau melihatnya. Ah, jangankan melihat, melirik pun tidak. Sepertinya dia memang tidak berharga sama sekali bagi pria itu.
Bersambung.