Malam Pertama

1220 Words
Najma memperhatikan pintu besar di depannya sekali lagi. Degup jantungan semakin tidak karuan. Sepintas, dia menyesali takdirnya yang seperti ini. Menikah tiba-tiba, menikah karena sebuah syarat, menikah tanpa cinta, dan menikah tanpa rasa bahagia. Namun, apa mau dikata. Diamnya tanpa melakukan sesuatu membuat banyak pasang mata menangis. "Bismillahirrahmanirrahim." Najma membuka pintu besar itu. Saat bergerak terbuka, pintu itu mengeluarkan suara yang membahana. Lalu dia melangkah masuk tanpa memperdulikan apakah Wilson masih ada di belakangnya atau tidak. Terus menoleh ke belakang akan membuatnya ragu melangkah ke depan. Tiga langkah Najma melangkah ke depan, pintu ditutup dari luar. Sudah bisa dipastikan siapa yang menutupnya. Siapa lagi kalau bukan Wilson karena hanya pria itu yang tadi ada di dekatnya. Najma abaikan pintu yang tertutup itu karena dia kini terfokus pada seorang pria yang memakai piyama dan berdiri menghadap jendela kaca dan membelakangi dirinya. Pria itu memakai piyama yang menandakan siap untuk tidur. Dan kini apa yang harus dilakukannya karena tidak mungkin Roger tidak mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup? Mendekatinya karena pria itu tidak bergeming sama sekali dari posisinya? Oh, no. Mengapa harus wanita yang lebih dulu mendekati pria? Harusnya Roger yang melakukan sesuatu. Najma memejamkan matanya sejenak. Mencoba menenangkan hati yang tidak karuan. Lalu baju-baju wanita yang bergantungan di lemari pakaian di kamar yang tadi ditempatnya, membayang di pelupuk mata. Ingin sekali bertanya siapa pemilik baju-baju itu, tapi tak memiliki keberanian. Ini bukan haknya. "Mendekatlah." Suara itu membuat Najma terhenyak. Dia langsung memandang lurus ke depan lagi, pada punggung Roger yang terlihat bidang. Sejenak dia tercenung memastikan apakah Roger tadi benar-benar berbicara dengan memintanya mendekat? "Men__ dekat?" tanya Najma memastikan perintah Roger. Tak menanggapi pertanyaan Najma, Roger berbalik badan. "Apa suaraku tidak cukup jelas sampai di telingamu?" Najma mengerjapkan mata. Jelas dia terlihat seperti orang yang bodoh. "Je-las. Jelas kok." "Lalu apa yang kamu tunggu? Bukankah seorang istri itu harus taat pada sang suami?" Najma menarik kedua sudut bibirnya dengan getaran. Senyum yang begitu dipaksakan. "Ma_maaf. Sa_saya akan ke sana sekarang." Najma melangkah ke arah Roger dengan telapak tangan dan kaki yang dingin. Tubuhnya pun sedikit gemetar. Bukan tanpa sebab, ini kali pertama dia berada satu kamar dengan seorang pria yang berstatus suami tapi terasa asing. Namun, apa pun alasannya, entah itu takut, canggung, malu, atau pun itu, Roger adalah suaminya. "Stop! Cukup sampai di sana!" Belum juga dekat, langkahnya sudah dihentikan. Kening Najma pun langsung mengerut. "Kenapa tuan?" "Sebelum kamu mendekat kepadaku, aku ingin kamu membuka hijabmu dulu. Aku ingin melihat apakah kamu punya telinga atau tidak. Dan, aku juga ingin tau kamu punya rambut atau botak." Mata Najma melebar mendengar itu. Bagaimana Roger bisa mengatakan hal itu? Ah, ya. Roger adalah pria yang nyaris sempurna dengan wajah tampan dan kekayaan yang berlimpah. Pria seperti itu tentu khawatir dan tak mau bersama wanita yang 'cacat'. Bisa dipastikan jika dirinya memiliki kekurangan, pasti langsung ditendang. Memang pria yang 'nyaris' sempurna hanya cocok dengan wanita yang 'nyaris' sempurna juga. "Kenapa kamu diam? Kamu datang ke kamar ini untuk melakukan malam pertama kita bukan? Mustahil kamu tidak mau menunjukkan bagian tubuhmu yang tertutupi oleh hijab itu. Kita tidak mungkin melakukannya dengan pakaian lengkap atau kamu masih dengan hijabmu itu." Najma mengangguk tanpa kata. Cukup mengerti dengan penjelasan Roger. Dia pun tak mau mengecewakan suami... sementaranya. Perlahan dia pun membuka hijab instan yang menutupi kepalanya sekaligus membuka tali rambut yang mengikat rambut tebalnya sehingga rambut panjangnya kemudian tergerai indah. Roger terdiam menatap Najma dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, membuat Najma salah tingkah dan menundukkan wajah. Rasanya malu sekali memperlihatkan rambutnya pada seorang pria untuk pertama kalinya sejak memutuskan berhijab penuh. Yaitu sejak dia duduk di bangku kelas 7 SMP. Masih dengan tatapan yang sama, Roger lalu melangkah ke arah Najma. Langkahnya itu membuat Najma menelan saliva beberapa kali. Hingga langkah Roger terhenti tepat di depan Najma. Dengan tangan kekarnya, Roger menyingsingkan beberapa helai rambut yang berada di depan wajah Najma ke belakang telinga. "Angkat wajahmu." Sebuah perintah yang lembut, tapi membuat hati Najma bergetar hebat. Seandainya saja Roger adalah suami yang benar-benar menginginkannya untuk menemani pria itu selama hidup di dunia, tentu ceritanya beda lagi. Getaran di dalam hati tentu akan dipenuhi dengan rasa bahagia. Perlahan, Najma mengangkat wajahnya. Kedua matanya yang bening indah, langsung beradu dengan mata tajam Roger. Ternyata mereka berada dalam jarak yang sangat dekat sehingga dia bisa dengan jelas melihat wajah Roger. Begitu bersih dan mulus. Dia berpikir pasti Roger melakukan perawatan wajah di klinik mahal. "Apa kamu sudah siap?" Tiba-tiba Roger bertanya dengan pertanyaan yang rancu. Sudah siap apa maksudnya? Najma tidak begitu paham. Dia juga tidak mau menebak-nebak meskipun pikirannya sudah mengarah ke sana. "Diam berarti siap." Roger menjawab pertanyaannya sendiri karena Najma terlihat berat untuk menjawab. Lalu Roger mengarahkan tangan kekarnya ke wajah cantik Najma. Menangkup di pipi kiri gadis itu. Ibu jarinya bergerak maju mundur memastikan kelembutan permukaan kulit sang istri sembari terpikat dengan bibir mungil merah muda yang tersaji di hadapannya itu. Tanpa memberi aba-aba tanpa canggung, Roger kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Najma dan mereguk manisnya bibir mungil Najma. Najma tidak bisa menghindar dan tidak berniat untuk menghindari karena takut dosa. Di detik berikutnya, Roger mereguk manisnya madu Najma dengan puas hingga kelelahan. Setelah hasratnya tersalurkan, dia pun kemudian tertidur di samping istrinya tersebut. Sementara Najma, justru sebaliknya. Dia belum merasa mengantuk. Wanita itu malah termenung sembari mencengkram erat selimut tebalnya di d**a sembari terus memikirkan apa yang barusan terjadi dengan dirinya. Roger tak terlihat jijik dengan tubuhnya malah terkesan sangat menikmati. Apakah semua pria bisa melakukan itu tanpa cinta? Najma menoleh ke sebelah kanannya. Roger tidur miring ke arahnya. Najma langsung tertegun. 'Ya Allah, tampan sekali pria yang baru saja mengagahiku ini. Sepertinya aku....' Di detik berikutnya, Najma memukul kepalanya sendiri. "Bodoh! Apa yang sedang aku pikirkan?! Tidakkah kamu berkaca siapa kamu?! Dasar bodoh! Bodoh!" "Siapa yang kamu maki bodoh?" Suara berat itu membuat Najma tersentak kaget. Dia melirik dan mendapati Roger membuka sedikit matanya. Tampaknya pria itu terbangun karena suaranya. Najma menggeleng dengan cepat. "Ma-maaf saya sudah mengganggu tidur anda. Itu yang bodoh... nyamuk. Ya nyamuk. Dia menggigit saya. Karena itu saya memaki bodoh." Kening Roger mengerut. "Nyamuk? Sejak kapan di kamar ini ada nyamuk?" "Memangnya selama ini di kamar ini tidak ada nyamuk?" Najma malah bingung. Roger tak menjawab. Pria itu justru menatap Najma dengan tatapan aneh. Najma pun langsung terdiam dan merasakan atmosfer di sekitarnya sembari melirik kanan dan ke kiri. Pipinya langsung menghangat begitu menyadari kalau di kamar ini memang tidak ada nyamuk. Bahkan satu pun. Najma memaksakan senyum. "Oh, sepertinya saya salah mengenali. Mungkin bukan nyamuk tapi semut yang barusan menggigit saya." Mata Roger menyipit. "Semut? Kamu yakin ada semut di kamar ini?" Najma kembali tertohok. Kamar sebagus dan sebersih ini tentu tidak akan didatangi semut. Bukan seperti kos-annya. Pelayan pasti membersihkannya dengan sangat bersih. "E_entahlah. Mungkin hanya perasaan saya saja digigit sesuatu," jawab Najma gugup. Roger tersenyum penuh arti mendengar jawaban-jawaban Najma. Dia lalu melirik ke bawah, pada selimut yang dicengkeram Najma dengan kuat. Selimut itu yang menutupi tubuh Najma yang polos dari ujung kaki hingga sebatas d**a. "Aku rasa... kamu memang sedang ingin terus digigit tanpa berhenti," ucap Roger kemudian. "Apakah semua gigitanku tadi belum memuaskanmu?" Najma mengerjap mendengar apa yang diucapkan oleh Roger. "Ti_dak! Bu-bukan begitu!" sanggahnya. Tapi terlambat, karena Roger sudah naik kembali ke atas tubuhnya. 'Tuhan, apakah dia akan melakukannya lagi?' Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD