Tuan Menginginkan Anda

1152 Words
Baju-baju wanita yang ada di dalam lemari membuat pikiran Najma benar-benar kalut. Hatinya terus saja menebak-nebak siapa pemiliknya. Hingga sebuah adzan Maghrib yang mengalun merdu di udara, membuyarkan lamunannya. Dan dia pun beristighfar dengan hati yang sedih. "Astaghfirullah adzim. Apa yang sedang aku pikirkan ini? Bukankah aku tidak punya hak atas pernikahan ini? Bukankah aku tidak boleh menuntut dia menjadi layaknya seorang suami yang setia, perhatian, dan menyayangiku? Pernikahan ini terjadi karena sertifikat tanah panti. Hanya untuk sertifikat tanah panti. Kalau pun baju-baju itu adalah milik seorang wanita yang memiliki hubungan dengan dia, aku tidak boleh protes. Ya, tidak boleh." Najma menghela nafas panjang untuk melenyapkan rasa sesak yang menyerang. Sekaligus memberi kekuatan untuk kemungkinan terburuk dalam pernikahan yang baru terjadi hari ini. Tapi ternyata itu tidak mudah. Meskipun dia sudah mencoba, rasa sesak itu tetap ada. Satu-satunya cara yang bisa diharapkan adalah berdoa pada Sang Khalik. Najma beranjak dari duduknya. Mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkan Wilson sebelum masuk ke dalam kamar mandi. 10 menit kemudian, dia sudah keluar dengan pakaian yang baru, lalu mengambil mukena dan sajadah. Sajadah digelar menghadap kiblat. Najma mengenakan mukenanya. Sholat Maghrib tiga rakaat kemudian dia laksanakan dengan khusyuk. Dan terakhir ditutup dengan doa yang penuh dengan pengharapan. Harapannya hanya satu, diberi kekuatan hingga Roger bosan dan melepaskannya. Baru saja Najma melepaskan mukenanya, terdengar ketukan di pintu. Najma pun langsung beranjak untuk membuka pintu tersebut. Dia menemukan Wilson berduri di baliknya. "Ya?" “Waktunya makan malam, nona," jawab Wilson langsung tanpa basa-basi. "Mari saya antar ke ruang makan.” Najma mengangguk. "Baiklah." Setelah menutup pintu kamar, Najma berjalan bersisian dengan Wilson menuju ruang makan. Selama itu, dia ingin sekali bertanya perihal baju-baju wanita yang ada di dalam lemari. Tapi bibirnya terasa kelu untuk bertanya. Lagian dia tersadar dia tidak punya hak atas pernikahan ini. Yang artinya dia juga tidak punya hak untuk mengetahui siapa pemilik baju-baju itu. Langkah mereka sudah sampai di ruang makan. Wilson menarik satu kursi dan menunjuknya. "Silahkan duduk di sini, nona." Najma menurut. Mengambil duduk di kursi itu. Tapi sesaat kemudian dia baru ingat baru dirinya yang ada di meja makan ini. Roger belum terlihat. Ingin bertanya, tapi lagi-lagi dia ingat tidak punya hak atas diri Roger. Apakah dia akan makan sendirian di meja ini? Baru hatinya bertanya, tiba-tiba terdengar suara alas kaki melangkah mendekati meja makan. Najma spontan menoleh. Dia sudah menebak itu pasti pemiliki rumah ini karena dari suara langkahnya terdengar berat seperti ada ritme. Ternyata benar, yang datang mendekati meja adalah Roger. Wilson langsung menarik kursi yang ada di sisi kiri meja. Roger pun mendudukinya dengan santai tapi berkharisma. Seorang pelayan yang sejak tadi ada di dekat meja, langsung menuangkan nasi ke piring Roger dan Najma. Lalu pelayan itu juga menuangkan air minum ke gelas tinggi mereka. Najma hanya bisa diam melihat pelayan itu melakukan semuanya. Membuatnya merasa tidak nyaman karena dia tidak terbiasa dilayani. Malah, di restoran tempatnya bekerja, dia melayani pembeli karena dirinya adalah seorang pelayan di restoran itu. Najma tertawa dalam hati. Sepertinya Tuhan memang sedang bercanda dengannya kali ini. Seorang pelayan sedang dilayani layaknya seorang nyonya besar kaya raya. “Silahkan dinikmati, nona,” kata pelayan itu dengan sangat sopan dan lembut. Najma tersenyum dan mengangguk. “Iya, terima kasih, mbak.” Diliriknya Roger. Pria itu sudah mulai makan dengan sangat manis. Najma pun mengambil sendok dan garpunya. Niatnya untuk mulai memakan makanannya. Tapi dia tertegun begitu mendapati nasi di piringnya tidak sesuai dengan porsinya makan selama ini. Menurutnya sangat sedikit. Rupanya sikapnya mendapat perhatian dari Wilson. Pria itu pun mendekat dan bertanya. “Nona, apa masih ada yang kurang?” Najma terhenyak, lalu menoleh pada Wilson dan menggeleng. "Oh, tidak. Semuanya cukup." "Baiklah kalau begitu. Katakan saja jika ada yang kurang dan tidak sesuai dengan keinginan anda." Najma mengangguk dengan canggung. "I-iya." Wilson pun mundur kembali. Berdiri di tempatnya semula, di samping pelayan tadi. Tak mau terlihat bodoh lagi, Najma pun memasukan makanan ke dalam mulut. Karena rasa makanan ternyata sangat enak, dia tidak menunda untuk memasukkan suapan kedua ke dalam mulut meskipun suapan yang pertama belum dikunyah dengan halus. Begitu pun dengan suapan yang ketiga dan seterusnya. Najma makan dengan lahap. Pelayan yang melayaninya tadi menahan tawa melihat cara makan Najma yang tidak cantik. Tapi bukan tawa geli melainkan tawa mengejek. Najma menyadari itu sehingga hal itu membuatnya termenung di tepi jendela kamarnya setelah makan malam selesai. “Banyak wanita yang memimpikan bisa tinggal di rumah mewah seperti ini, termasuk aku. Tapi baru beberapa jam saja, aku sudah tidak betah. Makan saja rumit sekali, tidak bisa bebas seperti di kontrakan atau pun di panti. Aku malah ditertawakan lagi oleh pelayan itu. Jangan-jangan cara makanku lebih memalukan dibandingkan dengan para pelayan di sini? Mana tidak kenyang lagi?” Najma mengusap perutnya yang masih lapar. Dia terbiasa makan sampai porsi besar sehingga perut terasa padat dan banyak tenaga. Tapi jika tidak kenyang seperti ini, badannya terasa lemas. Rasanya dia ingin lari keluar dari rumah ini mencari tukang sate atau tukang bakso di pinggir jalan untuk membeli dagangan mereka sebagai pengenyang. Najma menghempaskan nafas dengan kuat. Dia beranjak dari duduknya dengan lemas menuju tempat tidur. Dia lalu membaringkan tubuhnya di sana dengan telentang sehingga wajahnya menghadap ke atas dan kedua matanya menatap plafon kamar yang bentuknya rumit. Masa depan buruk, tergambar di sana. Perihal baju-baju wanita di dalam lemari masih mengganggu pikirannya. Belum lagi pernikahan ini bersifat sementara. Roger bosan maka dia akan diceraikan. Tidak masalah diceraikan oleh Roger karena ini sesuai dengan perjanjian. Yang jadi masalah adalah bagaimana dia menjelaskan ke orang-orang nanti kalau dirinya sudah menjadi seorang janda sementara mereka tidak pernah tahu dengan pernikahannya. “Menikah hanya untuk menjadi seorang janda,” ucap Najma lirih. Dia lalu terkekeh menertawakan nasibnya. “Ini sangat konyol.” Najma terhenyak dan langsung berhenti menertawakan diri sendiri begitu mendengar ketukan di pintu. Dengan kening yang berkerut, dia beranjak bangun untuk membukakan pintu itu. Lagi-lagi Wilson yang berdiri di depan pintunya. “Ya?” tanya Najma langsung. “Nona, Tuan Roger menginginkan anda datang ke kamarnya sekarang. Mari saya antar.” Wilson hendak berbalik tapi Najma bertanya. “Ingin saya ke kamarnya?” Wilson mengangguk. “Iya. Ada masalah? Bukankah Tuan sudah menikahi nona tadi siang?” Najma menggaruk kepalanya yang terbalut hijab. Dia mendadak panik. “E… tidak masalah. Hanya saja__” “Hanya saja?” Wilson mengulangi ucapan Najma yang belum selesai itu. “Hanya saja saya___ saya agak takut. Ya takut.” “Apa yang nona takutkan? Saya jamin Tuan Roger tidak akan menyakiti nona. Jadi nona tidak perlu takut. Tunggu apa lagi? Mari saya antar.” Najma tak bisa menolak. Dia pun akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah Wilson yang terasa panjang dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dia seperti bukan hendak menemui suami melainkan pria asing yang membelinya itu karena pernikahan ini adalah pernikahan bersyarat. Tak lama kemudian, Najma sudah tiba di sebuah pintu yang besar. Dia memandangi pintu itu seperti memandang bahaya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD