Sebuah Kamar.

1114 Words
"Nona kenapa anda belum mau keluar juga dari dalam mobil?" Pertanyaan itu membuat Najma terhenyak dalam lamunan. Dia menoleh dan mendapati Wilson sudah berdiri di sampingnya tapi di bagian luar mobil dengan pintunya yang sudah terbuka. "E... I-iya ini mau turun. Maaf...." Dengan memeluk amplop berisi sertifikat tanah, Najma bergerak turun. Setelah itu, dia baru menyadari kalau Roger sudah tidak ada di dalam mobil dan entah sejak kapan. Apa karena sangking terpesonanya dengan penampakan rumah Roger dia sampai tidak menyadari pria itu keluar dari mobil? Sungguh, kampungan sekali dirinya. "Di mana Tuan Roger?" tanya Najma pada Wilson yang tengah menutup pintu mobil. "Tuan sudah masuk ke dalam rumah, nona." "Ah, cepat sekali. Saya sampai tidak menyadarinya." Najma menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terbalut hijab. Wilson tidak menggubris ucapan Najma. Dia lalu mengulurkan tangannya ke arah bangunan rumah. "Mari saya antar nona masuk ke dalam rumah. Ini sudah Maghrib." "Ah, iya ya." Najma gugup sekali. Bukan hanya baru kali ini datang ke rumah semewah ini tapi juga karena menyadari bahwa dirinya adalah pengantin baru. Menyadari akan malam pertama dengan Roger, membuat perasaannya tidak karuan. Najma dan Wilson berjalan bersisian masuk ke dalam rumah yang megah itu. Rumah ini memang tidak bertingkat atau hanya ada satu lantai. Tapi sangat luas dan penampakannya sangat megah. Najma bahkan kesulitan untuk menggambarkan bagusnya kediaman Roger ini. Menginjak kaki di ruang tamu, dia berpapasan dengan dua wanita berseragam pelayan. Pelayan itu tampak membungkuk pada mereka memberi hormat. Tapi Najma merasa bukan padanya para pelayan itu memberi hormat melainkan pada Wilson. Mungkin meskipun hanya seorang assisten, Wilson dihormati di rumah ini. Begitu pikir Najma. "Apakah kamu tinggal di sini juga, Wil?" tanya Najma spontan. Entah, meluncur saja dari bibirnya tanpa sempat dia pikirkan apakah pertanyaan tadi patut atau tidak. "Iya, saya tinggal di sini, nona. Jadi bisa dikatakan saya melayani Tuan Roger dua puluh empat jam." "O assisten pribadi dua puluh empat jam." Najma angguk-anggukkan kepala tanda mengerti. "Jadi kamu melayani Tuan Roger dari bangun tidur sampai tidur lagi ya?" Tak ada obrolan membuatnya tidak nyaman. Najma asal bicara agar terjadi obrolan di antara mereka. "Bisa dikatakan begitu, nona." Jawaban Wilson barusan mengakhiri obrolan mereka. Selanjutnya hanya terdengar langkah kaki menyentuh lantai granit. Setelah melewati beberapa ruangan dan koridor, dan belokan, sampailah mereka di sebuah kamar yang besar. Najma nyaris tak berkedip melihat keadaan kamar itu. Jelas saja, isinya semua menjelaskan betapa kayanya Roger. Tempat tidur besar dan berwarna emas, lemari pakaian dengan banyak pintu dan sangat tinggi, lalu karpet lantai yang terlihat empuk dan halus, serta lainnya. "Ini kamar nona untuk sementara," ucap Wilson sembari mengulurkan tangan ke arah dalam sebagai isyarat menyuruh Najma masuk. "Kamar saya?" Bukannya segera masuk, Najma malah bertanya untuk memastikan. "Hanya untuk saya?" "Iya, hanya untuk nona." "Lalu di mana kamar Tuan Roger? Kami tidak satu kamar?" Bukan tidak sabar ingin sekamar dengan Roger, Najma hanya ingin bertanya. Di balik kepolosannya, dia adalah sosok yang kritis. "Nanti jika nona dipanggil, nona akan tau di mana kamar Tuan Roger." "Jadi kami tidak tidur di kamar yang sama?" tanya Najma lagi. Belum mengerti dengan penjelasan Wilson. "Tidak. Kalian hanya akan bersama jika Tuan Roger memerlukan nona." "Kenapa bisa begitu? Kami suami istri kan?" Oh, God! kenapa kamu terus menerus bertanya Najma? "Saya tidak tau soal itu. Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Roger. Sekarang silahkan nona membersihkan diri. Jam tujuh nona akan makan malam bersama Tuan Roger untuk yang pertama kali. Apa ada yang masih mau nona tanyakan?" "Ada," jawab Najma antusias. "Saya tidak membawa pakaian ganti karena kamu tidak menyuruhnya dan saya tidak kepikiran akan langsung dibawa ke rumah ini." "Jangan khawatirkan kalau soal itu. Saya sudah menyiapkan pakaian ganti lengkap untuk nona. Ada di atas meja. Barangkali nona mau sholat, saya juga sudah menyiapkan mukena." Mata Najma melebar tak menyangka. "Oh, oke. Terima kasih." "Sama-sama, nona. Ada yang mau ditanyakan lagi?" Najma menggeleng. "Tidak. Cukup." "Kalau sudah jelas, saya permisi." Wilson hendak melangkah, tapi ujung jasnya ditarik oleh Najma. Spontan Wilson menoleh. "Apa lagi nona?" Najma segera melepaskan ujung jas Wilson dengan senyum kikuk. "Maaf, ada yang ketinggalan. Saya mau bertanya satu hal lagi. Bolehkah saya keluar nanti malam? Tidak akan lama kok. Saya janji. Paling satu atau satu setengah jam." Wilson menyipit pandang. "Nona mau kemana?" "Mengantarkan sertifikat tanah. Mungkin akan lebih aman kalau sudah berada di tangan Ibu Aliyah." "Di sini jauh lebih aman, Nona. Tenang saja. Ada banyak cctv tersembunyi. Dipastikan tidak akan ada orang yang berani mencuri. Karena jika terjadi hal itu, mudah sekali ditangkap." Najma percaya dengan penjelasan Wilson. Akan tetapi jika sertifikat sudah di tangan Aliyah, maka dia bisa bernafas dengan lega. "Jadi saya tidak boleh keluar malam ini?" "Ya, nona. Seperti yang saya katakan tadi, di rumah ini aman. Sertifikat tidak akan hilang. Selain itu, saya tidak dapat izin dari Tuan Roger untuk membiarkan anda pergi." Najma meringis. "Kayaknya Tuan Roger orang yang sulit ya? Mau keluar sebentar saja tidak boleh." "E... tergantung siapa yang menilai. Karena saya bekerja padanya, saya tidak pernah berfikir dia orang seperti itu. Oya, ada pesan dari Tuan Roger. Selama nona adalah istrinya, kebutuhan nona akan dia tanggung. Jadi nona bisa resign dari pekerjaan nona." Najma tersenyum menanggapi pesan dari Roger itu. "Sepertinya saya akan tetap bekerja. Soalnya pernikahan ini sementara, sedangkan mencari pekerjaan untuk tamatan SMA seperti saya susah. Kalau saya melepaskannya, tidak yakin bisa mendapatkan pekerjaan sebagus pekerjaan saya sekarang." "Saya hanya menyampaikan. Semua keputusan kembali pada nona." "Oke." "Saya rasa sudah tidak ada yang harus kita bicarakan. Bisakah saya pergi sekarang?" Najma mengangguk. "Iya, silahkan. Maaf banyak bertanya." Wilson kali ini benar-benar pergi karena Najma tidak mencegahnya lagi. Setelah assisten pribadi Roger tersebut hilang dari pandangan, Najma pun masuk ke dalam kamar. Tidak lupa dia pun menutup pintunya. Pandangannya langsung tertuju ke atas meja. Pakaian ganti lengkap dan satu set mukena sudah ada di sana seperti ucapan Wilson. Lalu Najma mengitari ruangan. Mengamati semua furniture yang ada di sana. Dia mengagumi dan berdecak kagum. Langkah Najma kemudian terhenti di depan sebuah lemari pakaian yang panjang dan terdapat banyak pintu. Penasaran apakah lemari di depannya ini ada isinya atau tidak, dia pun membukanya. Untuk sesaat dia berhenti menghela nafas. Karena yang terpampang di depannya sekarang adalah pakaian wanita yang begitu banyak dan rata-rata bentuknya seksi. 'Pakaian siapa ini?' tanya hatinya. Najma mundur menjauhi lemari dengan hati yang berdebar-debar. Semua pakaian wanita yang ada di lemari itu menandakan bahwa ada seorang wanita yang tinggal di rumah ini atau minimal pernah singgah. Tapi siapa? Roger tidak mungkin punya istri atau seorang duda karena ketika di KUA tadi indera dengarnya menangkap status Roger belum menikah. Lalu pakaian-pakaian wanita itu milik siapa? Apakah kekasih Roger? Jika iya, kenapa bisa ada di rumah ini? Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD