Kiara dapat merasakan semuanya dalam ciuman yang masih terlaksana, betapa frustasinya Aditya untuk mencoba meyakinkannya terlihat jelas meski tak terucap, betapa Aditya benar-benar mencintainya dan betapa pria itu menyesali semua yang telah ia lakukan sebelumnya. Kiara tau meski ia hanya diam tanpa membalas hingga tak beberapa lama pagutan itu terlepas.
Hanya deru napas memburu yang terdengar setelahnya, Kiara masih terdiam, pikirannya blank, tak tau harus berbuat apa dalam kondisi seperti ini, apa ia harus menerima Aditya atau malah mendorong pemuda itu untuk tak mendekatinya. Sumpah, Kiara benar-benar dilemma meski ia tau ciuman tadi sudah menunjukkan semuanya. Kiara hanya takut, itu saja.
Elusan lembut yang merambat di pipinya, aroma mint yang menguar pekat di depannya membuat Kiara tersadar jika Aditya mendekat kembali, kali ini pria itu meletakkan sebelah tangannya di pipi Kiara yang lembut, mengusapnya pelan penuh perasaan, membawa Kiara untuk menatap balik obsidian di depannya yang memandangnya teduh.
"Kiara, aku memang bersalah selama ini. Aku selalu mengatakan banyak cacian padamu, tidak mempedulikan betapa sakit hatimu saat mendengarnya-" Aditya menjeda, menarik napas dalam-dalam, matanya berkaca-kaca dan Kiara sedikit tersentak. Kiara selalu melihat Aditya yang arogan dan datar, tapi sekarang Kiara tau bahwa Aditya begitu rapuh, dan semuanya terjadi karena dirinya, "-Aku menyesal Kiara. Aku memang tidak bisa sepenuhnya mengembalikan hatimu yang terluka, tapi saat ini aku bersungguh-sungguh bahwa aku yang bodoh ini berniat mengambil semuanya yang telah aku campakkan. Aku akan memperbaiki semuanya, Kiara, walaupun tak utuh seperti semula. Setidaknya aku ingin kau kembali padaku, kali ini sebagai seorang Kiara Azellia yang mencintai Aditya Naufal. Dan begitupula sebaliknya." Aditya berucap panjang lebar, menjelaskan semuanya meski ia tau bahwa hal ini tidak semudah yang ia kira.
Aditya pikir setidaknya hati Kiara sedikit tergerak untuk memberinya kesempatan lagi, tapi yang ia dapatkan adalah pandangan Kiara yang begitu datar padanya, rahang gadis itu yang terlihat mengeras, dan air muka nya yang menunjukkan bahwa ia merasa tersinggung akan suatu hal.
"Aditya, aku memang benar-benar berhasil membuatmu mencintaiku ya-" Ada satu senyum miring terpampang di wajah manis itu, tapi senyum itu bukan menunjukkan sebuah kepuasan, senyum itu seperti menjelaskan bahwa Kiara berusaha menyimpan jauh rasa sakitnya.
Kiara mendekat, menepuk dua kali pundak Aditya seakan menyuruh pria bertubuh tinggi itu untuk kembali dalam realita yang tidak seperti ekspektasi nya, "-Tapi seperti yang aku katakan, Aditya. Ini semua tidak mudah, kau ingin membuatku menerimamu disaat kau mengatakan jika kau mencintaiku. Apa kau menganggap semuanya bisa berjalan semudah pikiranmu? Apa kau menganggap aku akan dengan mudah dibuang seperti sampah, dan setelah itu dengan mudah kembali untuk dipungut?" Kiara menahan air matanya yang terus mendesak di pelupuk, ia tersenyum miris menatap Aditya yang kini terlihat menegang.
"-Aku mengantuk, selamat malam." Ada banyak yang ingin Kiara sampaikan, tapi semuanya hanya terhenti di ujung tenggorokkannya. Dia tidak ingin jatuh untuk yang kedua kalinya dalam lubang yang sama. Kiara tidak ingin disaat ia benar-benar memberikan hatinya, maka Aditya akan mempermainkannya lebih kejam lagi.
Kiara juga secara tidak langsung mengatakan pada Aditya bahwa untuk memperbaiki hal yang rusak tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Semuanya butuh kesabaran dan perjuangan.
Ya, jika Aditya mau bersabar dan berjuang untuknya.
Mungkin Kiara akan mempertimbangkan semuanya.
.
.
Jasmine mengumpat keras setelah berhasil mendorong tubuh Danish darinya, ia menatap tajam pria berkulit pucat yang meringis sambil bergumam betapa kuatnya tenaga Jasmine saat ia dalam mode kesal.
"Cabut perkataanmu, Danish. Aku benar-benar tidak ingin pria sepertimu jatuh hati padaku." Jasmine berujar malas, memutar bola mata kesal pada Danish yang kini berdecih singkat.
"s****n, aku juga tak ingin mengatakan hal itu padamu. Anggap saja aku tak sengaja tadi." Jelasnya dengan suara serak yang Jasmine akui terdengar seksi sebelum ia menggeleng keras untuk membuang jauh pikirannya.
Jasmine hendak berujar kembali, tapi Danish lebih dulu berdiri, melihat jam tangannya dan berkata tanpa semangat, "Sudah malam, aku pulang." Benar-benar singkat dan jelas, khas Danish Naufal. Lalu pria itu berjalan ke arah pintu keluar sebelum suara teriakkan Jasmine yang memanggil namanya membuat langkahnya terhenti.
Ia melirik ke belakang pada Jasmine yang berusaha berdiri, kemudian berlari kecil untuk bergelayut di lengannya dengan wajah super kusut dan kedua mata yang membengkak benar-benar membuat Danish menyesal telah mengatakan 'manis' pada gadis ini.
"Antar aku pulang. Aku tidak berani berkendara jika malam begini."
Shit. Jasmine dengan segala tingkah menyebalkannya.
.
.
.
.
Ini sudah seminggu setelah kejadian itu, dimana sehari setelahnya Adrian datang ke kamar asramanya bersama Pratama dan Pricelia yang mengatakan bahwa mereka adalah teman kecil Adrian. Kiara tidak tau bahwa dunia sesempit ini. Kiara masih ingat bagaimana Adrian yang menangis deras saat memeluknya dan mengatakan ia sangat khawatir pada Kiara, bahkan kakak satu-satunya itu menginginka Kiara untuk segera pindah kembali ke Bandung sebelum Aditya lebih dulu maju dan mengatakan pada Adrian bahwa ia berjanji untuk menjaga Kiara dan tidak membiarkannya disakiti lagi, Kiara akui saat itu hatinya menghangat akan perkataan Aditya, pemuda itu sedikit demi sedikit mulai berubah. Dan hari itu berakhir dengan Adrian yang menggenggam kedua bahu Aditya, berkata pada Aditya untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga janjinya yang membuat Kiara memutar bola mata malas meski bibirnya tanpa sadar tersenyum tipis. Tipis sekali hingga tak ada satu orang pun yang menyadarinya.
Semuanya mulai terasa berubah, tidak ada obrolan yang terlalu mencolok antara mereka di kamar asrama, lalu hubungan pertemanannya dengan Jasmine yang benar-benar berakhir dan gadis itu yang akan selalu menatapnya sinis saat dirinya lewat di depan matanya, Danish yang tak pernah mendekat lagi padanya. Menurut Kiara orang seperti Danish dan Jasmine akan dengan rela melakukan segala macam cara untuk membuatnya semakin hancur, tapi hal itu tak pernah terjadi, membuat Kiara heran setengah mati sebelum ia sadar akan satu hal.
Selama ini Aditya selalu pulang ke kamar asrama mereka lebih lama dibanding dirinya. Awalnya Kiara tak mau ambil pusing sebelum ia pernah tanpa sengaja melihat di kaca dinding cafetaria, dimana sosok Aditya duduk di meja belakangnya, pria itu memperhatikannya dengan intens, menjaganya tanpa Kiara sadari sebab semuanya sudah terungkap jelas.
Aditya selalu ada di belakangnya, membuat Danish dan Jasmine benar-benar tak mempunyai celah sedikitpun untuk melukainya. Kiara tanpa sadar tersenyum sendiri, senyum manis yang menggemaskan sembari menatap buku di tangannya yang tak benar-benar ia baca. Ia hanya memikirkan Aditya. Itu saja.
"Hah, sudah lama sekali rasanya aku tak melihat senyum manis itu." Suara yang berbisik di telinganya membuat Kiara terkesiap, ia memperbaiki letak kaca matanya sebelum berdecih saat tau bahwa orang itu adalah Aditya. Kiara benar-benar hebat dalam mengontrol ekspresinya.
"Berhentilah untuk membuntutiku." Kiara berujar malas meski jantungnya berdegup tak karuan. Sebab ini pertama kalinya mereka benar-benar berbicara lagi setelah seminggu lamanya.
Aditya menghela napas, Kiara benar-benar masih marah padanya, tapi Aditya tak akan menyerah untuk membuktikan perasaannya.
"Tidak mau. Aku hanya tidak ingin kau terluka." Aditya berujar lembut, tatapannya meneduh pada Kiara yang kini berusaha acuh sembari membalik setiap lembaran buku di tangannya. Sebenarnya Kiara gugup bukan main, berharap Aditya segera pergi dari sini agar ia bisa mengontrol dirinya.
"Aku ini menguasai banyak bela diri asal kau tau. Jadi jangan perlakukan aku seperti wanita lemah." Kiara mengangkat kepalanya, memberikan Aditya tatapan tajam meski pandangannya tetaplah terlihat menggemaskan. Ia berdiri dari duduknya, memasukkan buku ke dalam tas dan berniat pergi melewati Aditya sebelum tangan yang lebih besar menariknya dan berakhir dengan dirinya yang jatuh di pangkuan Aditya.
Sial, ini di tempat umum dan Aditya berani melakukannya. Ah, untungnya mereka sedang duduk di bagian pojok.
Kiara mendengus, memperbaiki letak kacamata yang melorot di hidung mungilnya sebelum berujar penuh penekanan pada Aditya yang menatapnya intens, "Lepaskan. Aku. Aditya. Naufal." Kiara benar-benar bersumpah akan menendang Aditya dengan jurus taekwondo nya jika pemuda itu masih keras kepala juga.
Kedua tangan Aditya melingkar di pinggangnya, pemuda itu menekan tengkuk Kiara sedikit yang membuat si mungil menahan napas sebentar, "Tidak mau. Aku benar-benar sabar selama ini untuk tidak dekat-dekat denganmu. Tapi sekarang sepertinya aku sudah sampai pada batasnya." Kiara berdecih kesal mendengar perkataan dengan nada penuh aura dominan itu, ia benar-benar hampir menendang Aditya, tapi kedua tangan pemuda itu lebih dulu menahan kaki Kiara hingga dia tidak bisa bergerak dan bangkit dari posisi memalukannya.
"Hey! Kau mau cari mati ya?!" Kiara berbisik penuh peringatan, tak ingin seorangpun melirik ke arah mereka dalam kondisi seperti ini.
Kiara pikir Aditya akan melepaskannya, tapi memang benar, realita tak seperti ekspektasi nya.
Aditya kini malah memeluknya erat, mengecup belakang telinganya dan sapuan bibirnya mengusap leher Kiara dengan penuh penghayatan bersamaan dengan satu kalimat yang terucap mutlak.
"Kalau mati untukmu sih, aku mau-mau saja Kiara."
"Brengsek." Kiara menggeram, memberontak sekuat tenaga, tapi tak berdampak sedikitpun. Aditya memeluknya terlalu erat.
"Hey, aku pikir sudah selesai main-mainnya dimana kita bersikap layaknya sepasang kekasih di drama yang sedang bertengkar dan melakukan itu benar-benar melelahkan-"
"Kita bukan sepasang kekasih, ingat itu." Kiara berujar datar, tapi dalam nada penekanan yang sama.
Aditya menyeringai, "Hmm, kalau begitu bagaimana jika kita menjadi sepasang kekasih mulai saat ini? Sudah cukup seminggu ini aku menahan sifat asliku. Kau tau kan kalau aku adalah orang yang tidak suka dibantah, Kiara." Suara yang turun satu oktaf, sedikit serak, terdengar seksi dan Kiara entah kenapa menggigil jadinya.
Lalu sebuah kecupan mendarat di bibir plum Kiara.
"Jadi... kau setuju kan? Atau.. kau ingin aku melakukan suatu hal yang tak pernah kau duga, little girl?
-TBC-