Pandangan Alan menghunus lurus ke depan. Pikirannya seakan mengawang jauh dalam keheningan. Di sampingnya terlihat seorang gadis duduk dalam diam bersamanya. “Kamu masih inget enggak? Dulu waktu kamu pertama kali kamu nyatain perasaan ke aku, kamu pernah bilang ‘gini, you can’t make an omelet without breaking a few eggs,” ujar Resti, memecah keheningan yang sudah beberapa saat lamanya menyelimuti dirinya dan Alan. Alan menoleh, pria itu menatap Resti sejenak, sebelum kemudian ia kembali memandang lurus ke depan. “Kamu masih inget artinya?” tanya Resti, ia memiringkan kepalanya, menatap Alan bersama senyum hangatnya, sehangat senja sore itu. “Kamu tidak bisa membuat omelet tanpa memecahkan beberapa telur,” jawab Alan, menerjemahkan peribahasa tersebut. “Lalu, maknanya?” Resti bertanya

