“Sean,” sapa Reya pada Sean yang tampak berdiri di depan pintu rumah suaminya itu. “Sayang.” Sean tiba-tiba langsung menghambur memeluk Reya, membuat gadis itu terdorong ke belakang beberapa hasta, hingga sosok Alan yang berdiri di dekat tangga dapat melihat adegan tersebut dengan sangat jelas. Tangan Alan bahkan sudah tampak terkepal kuat, ketegasan yang tergores di wajahnya pun semakin jelas. Jika saja ia tidak ingat dengan janjinya pada Reya untuk mengizinkan perempuan itu menemui sang kekasi, mungkin saat ini Alan sudah bergerak maju dan menghajar habis sosok Sean. Anggap saja emosi yang sedang membuncah di dalam hati Alan saat ini adalah rasa cemburunya yang entah bagaimana terasa semakin mengental. “A-ada apa, Sean? Apa sesuatu terjadi?” tanya Reya. Pelan, ia mendorong tu

