Mobil yang Sean kendarai tampak terparkir rapi di area kampus. Pria itu kemudian menoleh ke arah Reya yang duduk di sampingnya. Dengan sigap ia membuka sabuk pengaman milik kekasihnya itu.
“Tunggu sebentar. Jangan keluar dulu,” suruh Sean, usai melepaskan sabuk pengaman yang Reya pakai.
Reya menghela napasnya pelan, ia kemudian menatap gerak-gerik Sean yang sudah keluar dari dalam mobil dan berlari kecil mendekati pintu mobilnya. Tak lama kemudian, pintu mobil Reya pun terbuka. Sean terlihat mengulurkan tangannya setelah meraih tas Reya dan menyampirkan tas tersebut ke lehernya.
“Duh, bisa enggak sih kalian jangan romantis di depan gue? Niat banget bikin gue iri,” celetuk seorang gadis yang tampak berdiri di dekat tempat parkiran kampus.
“Siang, La,” sapa Sean, yang selalu terlihat bersemangat setiap kali berada di samping Reya.
“Dih, sok ramah lo,” sahut gadis lainnya, ia datang menghampiri ketiga orang itu.
“Lo belum balik?” tanya Lala, setelah Clara sampai di dekatnya.
“Belum, barusan mau balik tapi enggak sengaja liat kalian,” jawabnya. “Oh, ya, Sean. Gue tadi liat ruangan MAPALA rame banget, kalian mau jadi bolang di mana lagi?” timpal Clara, yang kemudian menatap ke arah Sean.
“Ah, itu. Kita mau briefing untuk rencana pendakian selanjutnya,” jujur Sean.
“Kamu mau pergi lagi?” tanya Reya.
Sean mengulas senyumnya, kemudian pria itu menjawab, “Iya.”
“Belum ada seminggu kamu balik dari Yogyakarta, dan sekarang mau pergi lagi?” Reya kembali bertanya, satu alisnya tampak terangkat ke atas, menegaskan kalau sebenarnya dia kurang setuju dengan rencana Sean yang ingin kembali melakukan pendakian lagi. Padahal belum ada seminggu pria itu kembali dalam sapuan pandangnya.
“Kan biasanya juga ‘gitu, Sayang,” balas Sean sambil mengacak gemas rambut pacarnya itu.
Reya mengembuskan napasnya pelan, perempuan itu kemudian terlihat menganggukkan kepalanya ringan, ia mencoba mengerti Sean. Nyatanya, Reya juga sudah tidak heran lagi dengan sikap Sean yang suka pergi dan pulang dari pendakian sesuka hati pria itu. Dan untungnya, selama tiga tahun ini, Hati Reya tidak pernah mengeluhkan perihal tersebut. Reya selalu mendukung setiap rencana dan langkah yang Sean pilih, kemudian gadis itu akan menyambut Sean saat pria itu kembali padanya ataupun membutuhkannya. Itulah alasan kenapa Sean sangat mencintai Reya, karena Reya satu-satunya wanita yang paling memahami dirinya. Reya adalah sosok perempuan yang penuh kelembutan dan sangat perhatian padanya.
“Tapi, Sean. Mau sampai kapan lo kayak ‘gini terus? Lo itu bahkan seharusnya udah lulus kuliah dari tahun kemaren. Tapi, karena lo lebih pentingin kegiatan alam lo itu, lo jadi harus nunda tugas akhir kuliah lo. Dan tahun ini, lo mau tunda skripsi lo lagi? Enggak kasihan apa lo sama Reya?” tukas Clara, mencoba memberikan petuahnya pada kekasih teman baiknya itu.
“Satu lagi, kalau lo terus kayak ‘gini, gue enggak akan jamin kalau gue bakalan mau restuin lo buat bertahan sama Reya," lanjutnya. " Dan sekalipun lo berasal dari keluarga sultan yang bisa beliin Reya ini itu pakai duit bokap sama nyokap lo, gue tetep enggak akan biarin Reya hidup sama orang yang cuma peduli sama urusan pendakian doang. Enggak akan, inget itu,” timpal Clara, masih berceloteh penuh ancaman yang baik agar Sean mau berpikir tentang masa depannya bersama Reya.
Sean tampak menghela napasnya sejenak. “Makasih sarannya. Tapi, asal lo tau saja sih, Clar. Tanpa lo kasih tahu tentang masa depan pun gue juga udah mikirin. Apalagi kalau soal masa depan gue sama Reya,” kata Sean, raut wajahnya terlihat serius, walaupun pria itu tampak menunjukkan deretan gigi bersihnya, yang seolah mengatakan kalau dia sedang bercanda.
“Ehem,” dehem Reya, cukup keras, sampai mampu membuat perhatian Clara, Sean dan juga Lala teralih padanya. “Em ..., Sayang. Kamu mending buruan ke ruangan MAPALA deh. Mereka pasti sudah nungguin kamu, kamu ‘kan ketuanya,” sahut Reya, gadis itu berusaha memisahkan kedua orang yang tampak sedang berseteru itu. Reya sungguh tidak mau, jikalau dua orang yang ia sayangi itu akan bermusuhan di kemudian hari. Ya, walaupun ini bukan kali pertamanya Sean dan Clara terlihat beradu dingin seperti sekarang ini.
Tak lama kemudian, Sean tampak menganggukkan kepalanya, ia menyetujui saran dari kekasihnya itu. Mungkin lebih baik ia memang harus segera pergi dari sana agar Clara tidak terus menerus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tak bertepi, bersudut, dan tentu saja tak berujung.
“Kalau 'gitu, aku pergi dulu, ya. Daa, Sayang,” pamit Sean, yang kemudian pergi setelah mengusap rambut Reya lembut.
“Dasar cowok,” celetuk Clara sembari menatap Sean yang lambat laun lenyap dari pandangan mereka. “Mau sampai kapan lo biarin dia terus, Re? Lain kali lo harus tegas sama dia. Kalau dia terus sibuk sama dunianya itu, mau dibawa ke mana hubungan kalian nantinya?” imbuh Clara.
“Iya, Clara. Gue paham maksud lo. Lo tenang aja, gue bakal coba ingetin dia. Semoga aja dia mau dengerin kata-kata gue, ya,” ujar Reya seraya tersenyum tipis pada teman baiknya itu.
“Kita selalu dukung yang terbaik buat lo, Re,” kata Lala.
Reya menganggukkan kepalanya, ia percaya dengan penuturan perempuan itu. “Ya udah, ya. Gue ada sesi bimbingan sama Pak Alan sebelum nanti ada mata kuliah jam dua siang,” ucap Reya, berpamitan.
***
Rapat para dosen terlihat telah usai. Alan keluar dari ruang rapat tersebut setelah rapat ditutup dengan membawa hasil dari keputusan bersama. Kemudian, seperti biasa, Alan tampak melangkah seorang diri sembari sesekali tersenyum tipis membalas sapaan dari para dosen lainnya.
“Pak Alan,” panggil seorang dosen wanita, Resti. Ya, tentu saja dia.
Alan pun dengan terpaksa menghentikan langkahnya, ia kemudian berbalik dan mendapati Resti sudah berdiri di depannya.
“Ya, ada apa, Bu Resti?” tanya Alan, sopan.
Resti diam sejenak, perempuan itu kemudian mengamati sekitarnya, yang sudah mulai sepi. Dalam pandangannya, tak ada lagi dosen yang tampak masih berada di area ruang rapat itu.
“Ini, berkas kamu ketinggalan,” kata Resti seraya menyodorkan berkas yang merupakan milik Alan. Nada bicara Resti pun terdengar berbeda dari sebelumnya. Padahal, biasanya ia terdengar menggunakan aksen yang terkesan sopan dan begitu profesional. Berbeda dengan aksen yang ia ucapkan barusan.
Alan pun dengan segera meraih berkas tersebut, lalu sejenak ia memeriksa berkas yang terjilid rapi oleh paper klip itu dengan teliti, memastikan apakah betul itu berkas miliknya atau bukan. Sampai beberapa saat kemudian, ia kembali menatap ke arah Resti, masih dengan raut sopannya, layaknya seorang dosen pada dosen lainnya.
“Makasih, ya,” ucap Alan, tulus.
"Em, sama-sama," balas Resti.
Setelah mendapatkan tanggapan dari Resti, yaitu berupa senyum manis dan juga anggukan kepala. Alan pun kemudian memutar tubuhnya, ia hendak kembali melangkah pergi dari hadapan wanita itu kalau saja Resti tidak lebih cepat mencekal lengannya.
Alan mengerutkan keningnya heran. Sorot matanya pun seketika itu tak lepas dari menatap tajam ke arah tangan Resti yang tampak menahan lengannya erat, seolah-olah perempuan itu tengah menegaskan pada Alan bahwa pria itu tidak boleh pergi begitu saja dari hadapannya. Sikap Resti itu, sontak membuat Alan merasakan ada sesuatu yang aneh menggelitik isi kepalanya. Dan entah kenapa, rasanya kenangan masa lalu antara dirinya dan Resti beberapa tahun silam seakan terputar kembali secara acak.