Author POV
“Sean,” panggil seorang pria paruh baya dari arah tangga, rumah besar itu.
Sean yang baru ingin keluar dari rumah—usai mengambil beberapa barang dari kamarnya—terpaksa menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara bariton itu menyelinap masuk ke dalam gendang telinganya. Kemudian, ia pun memutar tubuhnya dan menatap ke arah pria paruh baya bernama Adijaya itu, ayahnya.
“Ada apa?” tanya Sean, malas. Terlihat jelas kalau dia enggan meladeni pria yang selalu menganggap dirinya bagai seorang raja yang harus dipatuhi di dalam rumah ini.
“Jangan menginap di apartemen lagi. Tinggal saja di rumah ini. Lagian jarak rumah kita sama kampus kamu itu enggak jauh,” usul sang ayah.
“Kenapa tiba-tiba Papa suruh aku balik ke rumah ini? Bukannya waktu itu Papa sendiri yang usir aku dari rumah ini?” tukas Sean. “Kalau bukan karena Mommy yang dulu pernah mengandung dan melahirkan aku dengan susah payah. Aku enggak akan mau nurutin permintaan Mommy yang mohon sama aku buat balik ke rumah ini, walaupun cuma untuk sarapan ataupun makan malam, atau ngambil barang-barangku yang ketinggalan di rumah ini,” timpalnya.
“Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah ada suara perdebatan?” sahut seseorang dari arah lantai atas rumah tersebut. Dia ibunya Sean—Mommy Jessy.
“Aku pergi dulu,” pamit Sean, yang kemudian langsung melenggang pergi dari dalam rumah besar itu.
Di sudut lain, Bi Inem terlihat menatap tuan mudanya itu dengan raut belas kasihannya. Bi Inem yang sudah bekerja di sana sangat lama, ia tahu betul kenapa Sean seperti itu pada kedua orang tuanya. Sean sebenarnya adalah korban dari kekacauan yang terjadi di dalam rumah ini beberapa tahun lalu. Namun, waktu telah mengubah pria itu menjadi tangguh, dan kini ia seolah menjadi anak pembangkang di hadapan orang tuanya sendiri.
* * *
Sean menepikan mobilnya yang sempat ia kendalikan di luar batas kecepatan normal. Napas pria itu terlihat naik turun tak beraturan. Ada goresan amarah yang terbendung rapat di dalam hatinya. Binaran bening pun tampak tertahan di pelupuk matanya yang terlihat sendu.
Pria itu kemudian meraih ponselnya. Ia hendak menghubungi seseorang yang selalu mampu membuat dirinya merasa lebih baik ketika sedang dalam kondisi kacau seperti ini. Dial angka satu pun Sean tekan lama, hingga panggilannya dengan nomor kontak bernama My World pun tersambung.
“Halo, Sean?”
Sean diam sesaat, pria itu terlihat mengatur napasnya yang seketika membuncah saat mendengar suara dari gadis yang sangat ia cintai itu. Air mata Sean bahkan luruh detik itu juga. Reya, gadis itu memang selalu mampu membuat Sean bisa menuntaskan semua gejolak emosi yang sering kali menggerogoti dirinya.
“Sean? Kamu baik-baik saja?” Reya sepertinya mulai cemas saat dia samar-samar mendengar suara isakan dari seberang sana.
“Kamu ada di mana sekarang? Aku butuh kamu, Re,” ucap Sean, yang sontak membuat Reya langsung paham dengan apa yang terjadi pada diri kekasihnya itu.
“Aku ada di rumah,” balas Reya. Bahkan ia tidak peduli lagi tentang dirinya yang seharusnya tidak memberitahukan alamat rumah itu pada siapa pun, walau Sean juga tidak tahu kalau rumah itu adalah rumah milik Pak Alan.
“Rumah? Rumah orang tua kamu?”
“Enggak, bukan. Aku masih di Jakarta. Aku ada di rumah, tempat tinggal aku yang baru,” jelas Reya.
“Boleh aku temui kamu?”
“Oke, aku kirim alamatnya lewat w******p, ya. Tapi, kamu harus janji sama aku, kamu datang ke sini jangan naik motor atau mobil sendiri, emosi kamu lagi enggak stabil. Aku tahu kamu bakal kebut-kebutan kalau kamu naik kendaraan sendiri,” pesan Reya.
“Tapi sekarang aku lagi di dalem mobil, aku lagi di pinggir jalan,” jujur Sean.
“Astaga, Sean. Kamu sekarang ada di mana? Biar aku aja yang samperin kamu. Kamu masih belum kapok sama kecelakaan yang menimpa kamu tahun lalu? Jangan buat aku cemas dong, Sean,” oceh Reya, khawatir.
Sean mengusap bekas air matanya yang sempat turun sejenak. Pria itu kemudian tampak terkekeh pelan. Benar bukan? Reya memang selalu mampu membuat diri Sean merasa lebih baik. Pria itu bahkan dengan mudah bisa melupakan kesedihannya hanya karena mendengar ocehan Reya yang terdengar sangat mengkhawatirkannya. Sean sungguh merasa sangat beruntung memiliki sosok Reya di sisinya.
“Sean? Kok diem aja sih? Kamu beneran enggak pa-pa, ‘kan?”
“Aku oke, Sayang,” jawab Sean. “Berkat kamu, aku sekarang merasa baik-baik aja,” imbuhnya.
“Beneran? Jangan bohong,” ujar Reya dari seberang sana.
“Iya, bener,” balas Sean.
“Syukurlah.”
“Makasih, Sayang,” ucap Sean.
‘Makasih karena udah selalu ada untuk aku, Re. Aku janji sama kamu. Aku enggak akan pernah lepasin kamu apalagi ninggalin kamu 'gitu aja. Karena di hatiku, cuma kamu satu-satunya wanita yang sangat aku cintai. Dan cuma kamu satu-satunya wanita yang paling ngerti dan paham sama penderitaan masa laluku. Re, tunggu aku sebentar lagi, ya. Tunggu aku selesaiin proyek bisnisku ya, Re. Karena setelah aku sukses dengan proyekku itu, aku akan langsung lamar kamu. Aku janji.’ batin Sean.
* * *
“Selamat pagi, Pak Alan,” sapa seorang dosen wanita, ia terlihat cantik dan menawan dengan blazer berwarna merahnya, senada dengan kemeja yang Alan kenakan.
“Pagi, Bu Resti.” Alan balas menyapa.
“Hayo, ini kenapa kalian berdua bajunya kok bisa samaan? Ciye, baju Couple, ya?” celetuk salah satu dosen pria, yang seketika itu memicu dosen lainnya untuk ikut menggoda Alan dan Resti.
“Eh, tapi itu di jarinya Pak Alan kok ada cincin, ya? Jangan-jangan kalian beneran udah klop ini,” sahut dosen pria lainnya, ikut menggoda.
Alan hanya tersenyum tipis menanggapi godaan para dosen yang memang sudah sejak dulu suka menjodoh-jodohkannya dengan Resti. Pria itu sudah tidak heran lagi dengan sikap mereka. Namun, berbeda dengan Resti, perempuan cantik yang sudah terlihat matang dan dewasa itu tampak menatap lekat cincin palladium yang melingkar di jari Alan. Dari raut wajah Resti—sudah jelas sekali kalau perempuan itu sangat penasaran dengan makna cincin yang melekat di jari manis sang mantan. Ya, Alan dan Resti—saat SMA dulu—pernah menjadi sepasang kekasih.