Terkadang, rasa bersalah bisa seperti kegelapan tanpa bulan. Ketika rasa bersalah masuk menyelimuti sanubari, cahaya seolah lenyap tanpa jejak. Gelap, sesak, hanya bisa berteriak dalam keheningan.
* * *
Aku terbangun lebih awal dari biasanya, setelah semalam aku terpaksa tidur di sofa ruang tamu yang kini membuat seluruh badanku terasa sakit. Alasanku tidur di sofa bukan karena aku tidak mau tidur satu kamar dengan Pak Alan, hanya saja ... aku terlalu takut padanya, setelah pertengkaran kami semalam.
Aku menghela napas pelan, mengingat kejadian semalam—sungguh membuat semangat pagiku meredup. Rasa bersalahku pun terasa masih mengakar kuat di dalam hati dan pikiran. Bahkan, aku sampai bangun pagi dan juga menyiapkan sarapan, hanya untuk mengutarakan maafku padanya. Aku melakukan semua ini, karena aku tidak mau perasaan tidak nyaman yang mengganjal hatiku ini terus-menerus mengusik isi kepalaku. Aku ingin terbebas dari sesuatu yang mungkin di kemudian hari bisa menjadi penyesalan tersendiri untukku. Karena itu, sebelum nasi benar-benar menjadi bubur, aku ingin memperbaiki semuanya. Meluruskan semua yang selama ini terasa kusut di antara kami.
“Baik, Pak. Iya, ini saya sudah mau berangkat. Iya, Pak. Iya, Baik. Baik.”
Mendengar suara Pak Alan yang mulai mendekat, tanpa sadar bibirku ternyata sudah mengembang sempurna. Syukurlah dia turun tanpa aku perlu naik ke atas untuk memanggilnya. Padahal baru saja aku ingin pergi ke kamar untuk mengajaknya sarapan bersama.
“Pak Alan,” panggilku, saat dia sudah sampai di anak tangga terakhir yang berada tak jauh dari dapur. Pak Alan sepertinya tidak menyadari keberadaanku, karena pria itu hampir saja melangkah lurus tanpa menoleh ke arah dapur.
Tak lama setelah panggilanku itu menggema di telinganya, ia tampak menoleh padaku. Dengan segera aku pun semakin mengembangkan senyumanku padanya. Lalu, aku melangkah mendekati Pak Alan yang sudah rapi dengan baju kemeja merah polosnya dan celana dasar hitamnya yang tampak digosok rapi, tapi bukan aku yang menggosoknya. Karena selama kami menikah, aku belum pernah mengurus barang-barang Pak Alan sedikit pun.
Pak Alan diam di tempatnya, ia menungguku sampai di hadapannya dengan raut wajah tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Datar dan terkesan dingin. Aku hampir mendesah pelan saat melihat raut mukanya yang tak bersahabat itu. Namun, demi mendapatkan maaf darinya dan demi menuntaskan rasa bersalahku padanya. Aku harus menepis egoku yang sejujurnya tidak suka dengan ekspresi yang Pak Alan sajikan padaku.
“Pak Alan sudah mau berangkat ke kampus, ya?” tanyaku, berbasa-basi terlebih dahulu.
Tapi, sekali lagi aku harus menahan egoku. Karena pria itu masih diam tak menanggapiku, raut wajahnya pun masih tetap sama, tidak ada reaksi atau bahkan respons sedikit pun dari dirinya. Emosiku mulai bercampur aduk, rasa kesal tanpa permisi sedikit menyelinap masuk ke dalam hatiku.
“Eng ... saya sudah masakan sarapan buat Pak Alan,” kataku lagi. Kini barulah aku melihat sorot matanya mulai merespons perkataanku. Pria itu terlihat menatap ke arah meja makan yang sudah tersaji dua piring nasi goreng, lengkap dengan telur gulung, buah dan kopi—yang kata mertuaku alias ibunya Pak Alan bilang bahwa Pak Alan sangat menyukai kopi dengan takaran yang pas. Jadi, aku meracik kopi itu sesuai dengan takaran yang biasa Pak Alan minum. Satu banding satu, satu sendok gula dan satu sendok kopi.
“Pak Alan makan dulu ya sebelum berangkat ke kampus?” tawarku.
Cukup lama bagi Pak Alan untuk memutuskan. Sampai pada akhirnya, pria itu terlihat menghela napasnya panjang. Dan kemudian, ia melangkah melewatiku. Aku senang saat ia mulai melangkah mendekati meja makan, dan bahkan senyumku langsung mengembang hingga deretan gigiku tampil penuh percaya diri ketika dia sudah duduk di kursinya. Kemudian, aku melihat Pak Alan mulai menyendok nasi goreng buatanku.
Melihatnya sudah mulai menyantap makanan buatanku, aku pun segera menyusulnya. Aku duduk di kursi lain, lalu menatap pria itu sekilas. Ia tampak lahap dengan masakanku. Aku sungguh tidak menyangka, ternyata aku cukup pandai membuat masakan yang sesuai dengan seleranya.
“Pak Alan suka enggak sama masakan aku?” tanyaku, setelah dia menelan suapan terakhirnya ke dalam perut.
Pak Alan menatapku sekilas, sebelum kemudian ia mengambil kopinya dan meminumnya sedikit demi sedikit hingga hanya tersisa ampasnya saja. Usai menyantap sarapan dan kopinya, ia kemudian meraih tas kerjanya.
“Makasih sarapannya,” ucap Pak Alan seraya berdiri dari duduknya.
“Sama-sama, Pak,” balasku, tersenyum senang menatapnya. “Jadi, menurut Pak Alan, masakan saya ‘gimana? Bapak suka, ‘kan?” tanyaku, lagi.
“Hm, ya, lumayan. Setidaknya masih bisa dimakan,” jawabnya, yang seketika itu membuatku mengerutkan kening heran. “Sudah, ya. Saya mau berangkat ke kampus dulu, pagi ini ada rapat dengan para dosen. Assalamu’alaikum,” pamit Pak Alan.
“Wa’alaikumussalam,” balasku sembari mengamit tangannya dan menciumnya sekilas. Pak Alan sepertinya terkejut melihat sikapku yang berubah dalam waktu satu malam. Ya, aku dapat menebaknya dari respons tubuh Pak Alan yang terasa menegang saat aku mencium tangannya layaknya seorang istri pada suaminya.
“Saya berangkat,” pamitnya lagi, usai aku melepaskan tangannya.
“Iya, Pak. Hati-hati di jalan,” ucapku, tak lupa tersenyum.
Pak Alan kemudian pergi dari hadapanku. Tapi, beberapa saat kemudian, aku baru teringat satu hal. Iya, benar. Aku lupa meminta maaf padanya tentang kejadian semalam.
“Pak Alan,” panggilku.
Mendengarku memanggil namanya, pria itu langsung menoleh padaku. Ia bahkan berbalik dan menghadap ke arahku. Pak Alan diam berdiri di tempatnya sambil menungguku melanjutkan perkataan yang ingin aku utarakan padanya—sebuah kalimat yang sejujurnya berat kulepaskan begitu saja dari mulutku. Tapi, kerendahan hati bukanlah hal yang buruk untuk ditanamkan di dalam diri, bukan? Karena itu, aku harus meminta maaf padanya. Sebab aku sadar bahwa pertengkaran kami semalam, semuanya adalah salahku. Apalagi aku yang seorang cinta damai ini sangat tidak mau jika rasa bersalahku padanya semakin mengakar kuat di dalam hatiku.
“Ada apa, Re? Kenapa malah diam saja?” tanyanya, nada suaranya sungguh berbeda dengan yang biasa ia tunjukkan padaku. Kali ini ia berbicara dengan penuh sabar dan kelembutan. Aku sampai tercenung sejenak mendengarnya berbicara dengan suara rendah seperti itu. Padahal biasanya ia selalu tegas dan sarkas padaku.
“Tentang pertengkaran kita semalam ... saya mau minta maaf sama Bapak. Saya yang salah, seharusnya saya—”
“Sudah, tidak usah dibahas lagi. Saya juga salah karena sudah menasihatimu terlalu kasar. Dan bahkan menuduhmu yang tidak-tidak. Saya minta maaf karena semua itu,” sergah Pak Alan.
“Sebenarnya semalam ... saya pulang terlambat karena ... karena saya ... saya ....”
“Kalau kamu tidak bisa mengatakannya, sudahlah lupakan saja. Saya janji sama kamu. Saya tidak akan lagi menuntut kamu untuk menjelaskan tentang sesuatu yang tidak ingin kamu jelaskan pada saya,” terang Pak Alan, entah kenapa pria itu berubah menjadi sosok yang begitu bijaksana dan sangat dewasa. Sekali lagi aku dibuat tercenung dengan sikapnya yang berubah lembut padaku.
Tunggu. Atau jangan-jangan ... dia bersikap baik padaku karena dia luluh sudah aku buatkan sarapan? Jika benar seperti itu, artinya aku hanya perlu menjadi istri yang baik untuknya, dan mungkin dengan begitu dia tidak akan mencampuri urusan pribadiku. Bahkan, sekarang saja dia berubah menjadi sosok yang sangat lembut dan penuh pengertian. Jika tahu semudah ini meluluhkan Pak Alan agar tidak mengganggu kehidupanku, sudah sejak dulu aku merayunya, agar pria itu tidak bersikap kasar padaku terus-menerus.