Bertengkar

1494 Words
“Astaga,” pekikku saat aku tak sengaja melihat jam dinding yang melekat di pojok dapur apartemen Sean.   “Ada apa, Sayang?” sahut Sean dari arah ruang tamunya.   Tak lama kemudian, aku melihat Lala dan Clara datang dengan langkah cepat mereka, menghampiriku yang sudah diselimuti oleh rasa cemas dan panik.   “Kenapa, Re?” tanya mereka, hampir bersamaan.   “Gue harus pulang,” panikku, yang mulai bergerak gusar mencari barang-barangku. Handphone, tas, dan buku kuliah—yang bodohnya aku letakkan berpencar-pencar.   “Ini masih jam sepuluh, Sayang. Biasanya kamu aku anter balik jam dua belas malem oke aja tuh,” kata Sean, pria itu datang dari arah ruang tamu sambil membawa sampah makanan bekas kami mengadakan pesta tadi sore.   Ya, tadi sore—setelah aku melakukan sesi bimbingan yang menjengkelkan dengan Pak Alan, aku langsung pergi ke parkiran untuk menemui Sean yang sudah menungguku di sana. Dan ternyata saat aku sampai di sana, ada dua sahabat baikku, yaitu Lala dan Clara. Melihat dua sahabatku itu, aku sudah tahu ke mana kami akan pergi, dan apa yang akan kami lakukan untuk menghabiskan waktu bersama. Inilah hal yang paling aku sukai dari Sean, pria itu tidak pernah memisahkan aku dengan sahabatku, walaupun hari ini adalah hari spesial bagi kami berdua. Sean selalu membagikan kebahagiaan yang kami rasakan bersama dengan dua sahabatku, pria itu tahu kalau aku tipe wanita yang lebih memilih teman daripada seorang pria, karena itulah sejak awal kami menjalin hubungan, Sean mendekatiku sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang pria yang tertarik padaku. Trik yang sangat cerdas menurutku.   “Apa orang tuamu datang ke kosan kamu lagi, Sayang? Kalau iya, nanti biar aku yang bilang ke mereka. Lala sama Clara juga bakalan bantu kamu kok,” kata Sean, yang langsung ditanggapi dengan anggukan oleh dua sahabatku.   “Ih, bukan ‘gitu. Pokoknya sekarang udah enggak kayak dulu lagi. Seharusnya tadi aku balik jam delapan. Ah, mampus. Aku telat dua jam berarti. Ya Tuhan ...,” celotehku, membalas perkataan Sean sambil mengenakan totebag yang baru saja aku temukan di bawah meja makan.   “Ya udah, jangan panik. Biar aku anter kamu pulang, ya?” anjur Sean, usai membuang sampah makanan ke dalam plastik hitam yang terletak di pojok dapur.   “Kita juga bakal ikut Sean anter lo kok, Re. Biar orang tua lo percaya kalau lo enggak ngapa-ngapain sama Sean di apartemennya,” sahut Lala, diikuti anggukan kepala oleh Clara.   “Enggak, enggak usah. Aku naik taksi aja,” tolakku. “Udah, ya. Aku duluan, ya. Daaah, Sean, Lala, Clara,” pamitku sembari mengenakan sepatu, lalu kemudian melangkah cepat menuju pintu keluar apartemen Sean.   Sesampainya di luar apartemen Sean, aku pun berlarian menyusuri lorong gedung apartemen, persis seperti orang yang dikejar oleh waktu. Pintu lift yang berada di ujung lorong apartemen pun rasanya seolah-olah masih terlihat jauh dari jangkauan langkah kakiku.   “Reya, Sayang, Yang,” panggil Sean dari arah pintu apartemennya. Sedangkan aku yang sudah berlari menuju lift pun menoleh sekilas padanya, lalu melambaikan tanganku ke arah Sean, meminta agar pria itu tak perlu khawatir padaku. Senyum manisku pun aku ukir sebaik mungkin, untuk memastikan Sean percaya bahwa aku sungguh baik-baik saja. Walau ... sebenarnya tidak.   Aku sangat panik. Tentu saja, panik. Karena aku sadar kalau aku sudah punya suami, terlebih lagi suamiku adalah Pak Alan. Aku bahkan tadi tidak izin padanya kalau aku akan pergi dan pulang malam. Parahnya lagi, ini bukan hanya sekedar malam, tapi sudah larut malam.   Ah, mati aku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti saat sampai di rumah. Sekarang saja aku sudah bisa membayangkan bagaimana wajah seram Pak Alan yang sedang menungguku pulang ke rumah. Pria itu pasti sudah seperti banteng bertanduk dua.   * * *   AUTHOR POV   “Oh, jadi Reya enggak ada di sana ya, Mi?”   “Enggak ada, Lan. Emangnya ada apa, Lan? Reya kabur, ya?”   “Eh, enggak, Mi. Tadi itu, Reya izin mau ngerjain tugas sama temen-temennya di perpustakaan nasional, tapi barusan pas Alan hubungi hapenya Reya kayaknya mati deh. Mungkin saya yang terlalu khawatir sama Reya aja, Mi.”   “Oh, wajar dong kamu sebagai suaminya khawatir. Ya sudah, nanti kalau Reya pulang ke rumah, kamu nasihatin dia, ya. Lain kali jangan pulang larut malam. Kebiasaan. Lagian dia ‘kan sudah punya kamu, suaminya. Seharusnya dia tahu batasan jam malamnya.”   “Iya, Mi. Nanti Alan coba sampaikan ke Reya, pesan dari Mami barusan.”   “Iya. Pokoknya kamu inget ya, Lan. Kamu jangan terlalu lembut sama Reya. Kamu harus tegas kalau Reya misalnya bandel, susah diatur, atau susah dinasihati. Kamu boleh lho marahin dia. Karena Reya itu sudah tanggung jawab kamu.”   “Assalamu’alaikum.” Suara itu membuat Alan menoleh sekilas ke arah pintu rumah yang perlahan terbuka. Tak lama kemudian, Reya tampak melangkah masuk ke dalam rumah dengan kepalanya yang sudah tertunduk takut. Gadis itu kemudian berdiri di depan pintu usai ia menutup pintu rumah itu kembali.   “Iya, Mi. Alan bakalan inget nasihat Mami. Ya udah ya, Mi. Ini Reya barusan sudah pulang. Alan tutup dulu panggilannya, salam buat Papi. Assalamu’alaikum,” ujar Alan pada ibu mertuanya. Setelah mendapatkan balasan salam dari seberang sana, Alan lekas mematikan panggilannya dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja yang ada di ruang tamu itu. Lalu kemudian, ia menatap lekat ke arah Reya yang masih berdiam diri di tempatnya. Gadis itu seolah siap menerima hukuman yang akan Alan bebankan padanya.   Alan kemudian melangkah mendekati Reya yang semakin menundukkan kepalanya sembari memainkan jari jemarinya gelisah.   “Dari mana kamu?” tanya Alan, sesaat setelah ia sampai di hadapan sang istri.   “Dari ... dari rumah ... rumah temen,” jawab Reya. Rasa takutnya yang begitu pekat, membuat Reya terpaksa harus berbohong pada suaminya itu.   “Rumah temen,” ucap Alan, mengulangi jawaban dari Reya. “Rumah teman yang mana?” Alan kembali melontarkan pertanyaannya yang terasa seperti pisau tajam bagi Reya.   “La—”   “Lala lagi?” sela Alan. “Kamu mau jadiin temen kamu yang namanya Lala itu sebagai kambing hitam kamu, iya?” tukasnya.   Alan mengembuskan napasnya berat. Pria itu terlihat kembali bergerak maju, mengikis jarak antara Reya dan dirinya.   “Di hotel mana kamu menghabiskan malam bersama pacar kamu itu?” bisik Alan, bertanya dengan nada tegas tapi terdengar lirih, seperti ancaman yang tersembunyi dalam kelembutan.   Sedangkan Reya—gadis itu langsung mendongakkan kepalanya saat ia mendapat tudingan tak benar dari suaminya sendiri.   “Pak Alan barusan fitnah saya?” Reya akhirnya berani bersuara.   “Fitnah? Saya cuma tanya sama kamu, bukannya fitnah kamu. Lagian kalau itu memang benar, kenapa harus disebut fitnah? Bisa saja 'kan kamu memang menghabiskan malam bersama pacar kamu itu, karena itu kamu tidak mau saya sentuh. Mungkin saja kamu sudah tidak suci lagi,” sergah Alan, yang tak kalah emosi. Ia bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah Reya dengan tangannya, tindakan yang secara tidak langsung sangat melukai harga diri gadis itu.   Reya hampir saja menangis kalau saja ia tidak tahu bagaimana caranya bersikap sok tangguh di hadapan pria yang sangat dibencinya itu. Hati Reya rasanya sudah remuk dicabik-cabik oleh tuduhan Alan yang sama sekali tidak benar adanya. Aku masih suci, seperti itulah sanubari Reya berteriak, rasanya ia ingin sekali menampar wajah Alan dan mengatakan bahwa dirinya bukanlah w************n seperti yang pria itu bayangkan.   “Bapak lebih baik ceraikan saya saja, saya enggak tahan lagi punya suami kayak Bapak,” tukas Reya, menahan rasa sesak yang mengganjal di dalam dadanya.   Seketika itu, Alan terdiam. Tapi, bukan berarti amarahnya mereda. Pria itu semakin diselimuti emosi saat Reya dengan sangat gampangnya menyebut kata 'cerai' padanya.   “Ya, coba saja kamu katakan perkataan kamu itu di depan orang tua kamu. Kalau mereka setuju, saya juga akan setuju,” tandas Alan.   “Pak Alan—”   “Kenapa?! Kenapa kamu tidak bisa menjadi istri yang baik?! Kenapa kamu harus selingkuh? Kamu itu sudah menikah, dan saya ini suami kamu, Reya!” tegas Alan, saking emosinya, pria itu bahkan sampai berteriak di hadapan Reya, membuat gadis itu sampai ketakutan di depannya.   Sampai beberapa saat kemudian, Alan sadar kalau dirinya telah melampaui batasan dalam menasihati sang istri. Pada akhirnya, dia merasa bersalah karena telah bersikap keterlaluan pada Reya. Pria itu tampak mengusap wajahnya kasar sembari menghela napasnya berat. Lalu, ia terlihat memandang Reya sendu.   “Maaf,” lirihnya, yang kemudian melenggang pergi dari hadapan Reya tanpa mengatakan apa pun lagi.   Reya diam menatap suaminya yang tampak melangkah pergi dengan kepala tertunduk lesu dan bahu yang seolah dipenuhi beban yang begitu berat. Melihat suaminya itu, hati Reya tiba-tiba tertohok oleh rasa bersalahnya. Dia memang seharusnya pantas mendapatkan murka dari pria itu. Reya pun akhirnya jatuh terduduk di lantai, gadis itu menangis tersedu-sedu setelah Alan lenyap dari pandangannya.   Aku tahu kalau pernikahan ini bukanlah sebuah permainan. Aku juga sudah lelah jika harus terus-menerus membohongi semua orang. Tapi, aku juga tidak mau membuat Sean kecewa. Dan sekarang, aku  sangat merasa bersalah dengan Pak Alan. Aku sudah menjadi istri yang durhaka padanya. Kenapa hidupku seperti ini, Tuhan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD