“Baik, sampai di sini materi kita hari ini,” ucap Pak Alan sambil menutup buku tebal yang selalu ia bawa setiap kali mengajar. “Karena ulah pasangan yang sok romantis tadi kita jadi kehilangan banyak waktu, waktu belajar kita jadi terbatas dan sekarang jam mata kuliah saya sudah habis, jadi sesi tanya jawab terpaksa kita tiadakan. Dan kalau ada yang mau bertanya bisa temui saya langsung di ruangan saya,” tukasnya, yang aku tahu kalau dia tengah menyindirku tajam.
“Oh, ya. Ini tadi punya siapa?” kata Pak Alan sambil menunjuk buket bunga dan cokelat yang tadi aku letakkan di depan, sesuai apa yang dia perintahkan padaku.
“Punya saya, Pak,” lirihku sembari mengangkat tangan rendah.
“Oh, kamu. Siapa nama kamu?” tanyanya.
Kepalaku yang tadinya menunduk takut, kini langsung mendongak saat mendengar Pak Alan menanyakan namaku. Aku bahkan tanpa sadar sampai menatapnya dengan kening berkerut heran. Ya Tuhan, Aku ini padahal istrinya, lho. Bahkan kemarin malam aku mendengar Pak Alan dengan sangat lancar menyebut namaku di saat ijab kabul. Tapi sekarang, dia tiba-tiba tanya namaku siapa? Astaga, orang kalau sudah tua memang susah, ya.
“Kenapa malah diam saja? Kamu itu memang hobi membuang waktu saya, ya,” ocehnya.
“Eh, enggak, Pak. Maaf. Tadi saya tiba-tiba lupa sama nama saya sendiri,” balasku seraya mengulas senyum penuh makna padanya. Ya iyalah, bukan Reya namanya kalau enggak balas menyindir.
Pak Alan tampak diam sesaat, tapi walaupun dia diam, sorot matanya yang tajam itu terus menghunusku penuh penekanan. Aku bahkan sampai terpaksa mengalihkan pandanganku darinya.
“Kamu hari ini ada sesi bimbingan sama saya, ‘kan? Saya tunggu di ruangan saya. Satu menit terlambat, saya akan hapus sesi bimbingan kamu hari ini,” tegasnya, yang kemudian mengambil buket bunga dan kotak cokelat yang ada di depan kelas. Setelah itu, Pak Alan melangkah keluar dari kelas mata kuliah terakhirku ini.
Aku menghela napas berat. Kenapa sih hidupku harus semiris ini? Di rumah ketemu Pak Alan, di kampus juga ketemu Pak Alan. Tragis banget. Mending kalau dia itu baik hati dan tidak kejam, pasti aku bakalan jatuh cinta. Jatuh cinta? Hei, aku bilang ‘gitu karena itu mustahil. Ya enggak mungkin banget lah aku jatuh cinta sama Pak Alan, karena faktanya aku sudah benci setengah mati sama dosen satu itu.
Haah. Sabar, Reya. Sebentar lagi semester tujuh juga bakalan berakhir. Setelah itu, kamu cuma bakal ketemu sama Pak Alan pas sesi bimbingan aja. Eh, tapi ‘kan di rumah juga pastinya masih ketemu.
“Ya Tuhan, kenapa sial banget sih hidup gue?!” jeritku, tanpa lagi peduli dengan beberapa mahasiswa yang masih ada di kelas, mereka semua tampak menatapku dengan raut aneh. Mungkin mereka sedang mengasihaniku karena mendapatkan sindiran keras dari Pak Alan tadi, apalagi aku juga harus menemui ... tunggu. Oh, iya, aku harus ke ruangan Pak Alan. Sial, kalau sampai telat satu menit bisa enggak kelar-kelar nanti urusan skripsiku sama dia.
Seketika itu, aku langsung menyambar tas dan berlari keluar dari kelas. Biarkan orang lain berpikir aku sudah tidak waras karena melihat tingkahku yang aneh. Tapi faktanya, setelah aku menikah dengan Pak Alan, aku memang merasa kadar kewarasanku menurun perlahan-lahan. Berbanding terbalik dengan tingkat stresku yang seakan-akan naik drastis.
* * *
“Permisi, Pak,” ucapku seraya membuka pintu ruangan Pak Alan.
“Kalau masuk ke ruangan dosen itu ketuk pintu dulu, minta izin masuk, kalau sudah diizinkan baru masuk. Sudah semester tujuh masa enggak ngerti tentang sopan santun mahasiswa,” oceh Pak Alan.
Aku terdiam, mematung di tempatku sambil menghela napas pelan, mengatur emosiku yang rasanya sudah menjerit-jerit sampai di puncak ubun-ubun. Setelah merasa sedikit tenang, senyum palsuku pun kuukir tipis. Lalu, dengan kerendahan hatiku yang sangat luar binasa, aku meminta maaf pada dosen itu.
“Maaf, Pak. Lain kali saya akan lebih sopan lagi,” ucapku, bertutur kata sehalus mungkin.
“Enggak perlu, lain kali kalau kamu mau masuk, langsung masuk saja,” kata Pak Alan sambil terus sibuk memeriksa tugas-tugas mahasiswanya.
Sabar. Ini ujian, Reya.
Mana mungkin aku sabar. Ini bukan ujian, tapi ancaman untuk mentalitasku. Lama-lama aku bisa gila kalau terus-terusan ngadepin orang super menyebalkan seperti Pak Alan ini.
“Lagian kamu itu istri saya, jadi enggak ada larangan bagi kamu buat nemuin saya, suami kamu sendiri,” lanjut Pak Alan, kata-katanya itu kembali berhasil membuat mataku terbuka lebar, bahkan kali ini aku langsung menatap sekitar dan memastikan kalau pintu ruangannya ini tertutup rapat. Aku takut kalau ada orang di luar sana mendengarkan perkataannya barusan, bisa habis aku jadi bahan gosip seisi kampus.
“Pak, tolong dong jangan ngomong suami istri di kampus. Nanti kalau ada yang denger, ‘gimana?” lirihku, pelan.
“Kenapa? Kamu enggak suka kalau seluruh kampus ini tahu soal hubungan kita?” tanya Pak Alan, kali ini pria itu menatapku, lekat.
“Bukan enggak suka. Tapi ‘kan tadi pagi pas di mobil Bapak, saya sudah bilang sama Bapak, kalau saya —”
“Kalau saya enggak peduli sama keberadaan pacar kamu itu,” potong Pak Alan.
Aku mengerutkan keningku bingung. “Maksud, Bapak?”
“Saya enggak mau menutupi fakta kalau kamu adalah istri saya, dan saya adalah suami kamu,” tegasnya.
“Lho, kok ‘gitu sih, Pak? Ya enggak bisa ‘gitu dong, Pak,” keluhku.
“Begini, sekarang saya tanya sama kamu. Apa alasan kamu enggak mau status kita terungkap sama seluruh penghuni kampus?”
Aku diam sejenak, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk menutup mulut pria itu agar kalah telak dariku.
“Kenapa diam saja?” tukas Pak Alan.
“Ya, bentar dong, Pak. Lagi mikir jawabannya ini,” kataku.
“Saya enggak punya banyak waktu buat nunggu kamu mikir.”
Aku menatapnya kesal, isi kepalaku bahkan sudah penuh dengan umpatan kasar yang tertahan. Ya, tertahan, karena bagaimanapun juga dia tetap suamiku, menghormatinya dengan tidak mengumpatinya kata-kata buruk adalah salah satu prinsipku. Lihat, betapa baiknya aku pada dosen kejam itu.
“Alasannya ... ya karena sudah pasti kita tidak saling cinta,” jawabku, asal. Tapi, itu memang benar, ‘kan?
“Bukannya saya sudah pernah tekankan sama kamu. Tahu apa kamu soal cinta?” sergah Pak Alan. “Kamu mau samain antara cinta kamu sama pacar kamu itu dengan cinta yang ada di dalam rumah tangga kita? Tentu saja enggak bisa, karena sudah pasti beda. Apalagi kalau sudah ada anak di antara kita,” paparnya.
“Anak?!” pekikku. “Bapak barusan bilang apa? Anak?! Anak?!” Aku benar-benar kalap. Seperti seseorang yang kehilangan satu ginjalnya, begitulah saat ini aku bersikap. Syok.
“Kita sudah menikah, Reya. Kamu dan saya memiliki seorang anak bukanlah hal yang tabu. Sudah sah secara agama dan juga hukum. Apalagi saya ini suami kamu, kamu tahu ‘kan kalau saya punya hak untuk meminta kamu melayani —”
“Stop. Jangan dilanjutin,” tegasku, yang sudah tahu ke arah mana perkataannya itu akan berlabuh. “Saya enggak nyangka, ya. Ternyata Pak Alan itu m***m,” timpalku.
“m***m? Bagaimana bisa kamu hina saya seperti itu? Saya cuma mengingatkan kamu bahwa saya punya hak untuk meminta kamu melayani saya, dan kamu punya kewajiban untuk melayani saya. Inget, ada hadisnya itu, kalau seorang istri menolak suaminya —”
“Iya, udah, udah. Saya tahu. Udah, enggak usah dilanjutin,” potongku. Aku sungguh tidak tahan dengan pembahasan yang Pak Alan jabarkan padaku.
Pak Alan pun akhirnya bungkam. Sedangkan aku, aku menatapnya dengan napas naik turun menahan emosi.
“Hari ini, hari Kamis,” ucapnya tiba-tiba. Aku masih diam menatapnya. “Artinya nanti malam, malam Jumat. Sunah rasul,” lanjut Pak Alan, parahnya dia berkata seperti itu dengan raut tegasnya, yang sontak membuatku bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi nanti malam antara aku dan dirinya.
Seketika itu emosiku meledak. Aku malu sekaligus kesal dengan arah pembicaraan Pak Alan yang terus mengarah pada hal berbau sensitif. Aku sangat benci dengan pembahasan yang bagiku terlalu intim ini, walau kami sudah sah sebagai suami istri yang bebas melakukan apa pun, tapi aku sungguh tidak mau hal seperti itu terjadi, aku beneran enggak akan ikhlas.
“Saya permisi, Pak,” pamitku, yang sudah tidak tahan lagi menghadapinya.
“Lho? Mau ke mana kamu? Sesi bimbingan kamu belum dimulai,” kata Pak Alan, menahan langkahku yang hendak berbalik.
“Bapak enggak sadar, ya? Barusan Bapak sudah kasih saya bimbingan tentang hak dan kewajiban suami istri dalam urusan ranjang,” tukasku. "Padahal saya ingat lho, ada yang nyindir saya kalau dia enggak akan tertarik sama saya karena aset saya masih kecil," sindirku, dan setelah itu aku langsung melangkah pergi dari dalam ruangannya.