Kejutan Yang Mengejutkan

1885 Words
Dulu, aku pikir pernikahan adalah sesuatu yang indah. Berwarna-warni seperti pelangi yang selalu hadir usai hujan. Namun, faktanya, pernikahan tidak seindah itu. Apalagi pernikahan yang berlandaskan atas dasar keterpaksaan.   Aku menghela napas pelan, menatap keluar jendela mobil Pak Alan yang melaju normal di jalanan. Tubuhku yang awalnya kusandarkan lesu pada kursi mobil pun seketika duduk tegap saat aku mulai menyadari bahwa kami hampir sampai di area kampus. Tak ingin para penghuni kampus melihatku keluar dari mobil Pak Alan, lantas aku pun segera menoleh pada pria yang tengah fokus menyetir mobilnya itu.   “Eh, Pak, Pak, berhenti di sini aja,” pintaku pada Pak Alan yang terlihat menatap lurus jalanan di depannya.   “Gerbang kampus masih ada di depan,” jawab Pak Alan tanpa menoleh padaku. Pria itu masih terus melajukan mobilnya, seolah tak mengindahkan perkataanku sama sekali.   “Iya, tau. Tapi saya mau berhenti di sini, Pak.” Aku membalas perkataannya sambil menatap wajahnya serius, walaupun pria itu sama sekali tidak membalas tatapanku, dan masih fokus pada jalanan di depannya.. “Berhenti dong, Pak,” rengekku, yang sepertinya berhasil membuat Pak Alan akhirnya menepikan mobilnya ke pinggir jalan.   Pak Alan menghela napasnya pelan, ia kemudian menatapku setelah mematikan mesin mobilnya usai memberhentikan mobilnya sesuai dengan permintaanku.   “Kenapa harus berhenti di sini? Lagian kita juga satu tujuan,” kata Pak Alan, ia terlihat kesal.   “Ya ... saya enggak mau aja nanti kalau ada anak kampus yang lihat kita ‘gimana? Saya enggak mau nanti temen-temen saya curiga kalau mereka lihat saya keluar dari mobil Bapak,” jelasku.   Pak Alan mengalihkan pandangannya dariku, pria itu kemudian terlihat mengusap wajahnya seraya menghela napasnya berat.   “Kamu malu kalau temen-temen kamu tahu saya ini suami kamu?” tanya Pak Alan, ia kembali menatapku, dan saat itulah aku melihat dari wajahnya yang tegas itu ada sorot sendu yang tak kutahu apa maknanya.   “Enggak, bukan begitu maksud saya, Pak. Saya cuma —”   “Takut kalau pacar kamu tau?” sela Pak Alan, cepat.   Aku terdiam. Kami berdua sama-sama diam dalam pandangan yang masih terus beradu lekat. Sampai beberapa saat kemudian, aku kembali mendengar helaan napas berat dari Pak Alan. Ia bahkan seketika itu mengalihkan pandangannya dariku, lagi.   “Keluar,” suruhnya tiba-tiba.   “Ya?”   “Keluar dari mobil saya,” suruhnya lagi, tanpa menoleh ke arahku sedikit pun. Apa dia marah?   “Kenapa malah bengong natap saya? Tadi kamu bilang kalau kamu enggak mau temen-temen kamu curiga, ‘kan? Ya udah, keluar dari mobil saya,” tandasnya.   “Oh,” ucapku menanggapi. “Iya, Pak. Saya keluar,” lanjutku sembari meraih tas kuliahku dan membuka pintu mobilnya perlahan.   “Makasih untuk tumpangannya, Pak,” ucapku, berbasa-basi sejenak, sebelum kemudian aku bergegas untuk pergi dari sapuan pandangnya.   “Jangan asal pergi aja, tutup lagi pintu mobilnya,” tukas Pak Alan saat melihatku langsung melangkah pergi begitu saja, tanpa ingat lagi untuk menutup pintu mobilnya yang masih terbuka.   Aku yang baru mengambil langkah beberapa hasta pun terpaksa memutarbalik tubuhku dan kembali menuju mobil Pak Alan lagi sambil merutuki kecerobohanku yang selalu hadir di waktu yang tidak tepat.   “Maaf, Pak. Saya lupa,” kataku seraya mengulas senyum kudaku padanya.   Pak Alan diam tak menanggapiku, melihat sikapnya yang acuh itu, aku pun dengan segera menutup pintu mobilnya, pelan. Lalu, setelah pintu mobil itu aku tutup, Pak Alan terlihat langsung mengunci pintu mobilnya dari dalam. Kemudian, dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju gerbang kampus yang berjarak tak jauh dari tempatku berdiri.   Aku mendesis melihat tingkahnya yang terlihat seolah sedang marah padaku. Memangnya salah apa aku? Padahal aku hanya tidak ingin merepotkannya, karena jika anak kampus tahu dia menikah dengan salah satu mahasiswinya, bukankah dia akan menjadi bual-bualan sepanjang tahun akademik ini. Dasar aneh.   * * *   Aku mengambil tempat duduk pada salah satu kursi yang ada di kelas mata kuliah terakhir hari ini—mata kuliah Pak Alan.   Tak lama setelah aku duduk, beberapa mahasiswa lainnya pun juga tampak mulai masuk ke dalam kelas yang sebenarnya masih sepuluh menit lagi dimulai. Namun, karena para mahasiswa tahu kalau dosen mata kuliah ini adalah Pak Alan yang super power kedisiplinannya sangat tinggi, maka para mahasiswa pun datang lebih awal agar tidak mendapatkan ocehan panjang dan tugas tak masuk akal dari Pak Alan. Ya, pria yang faktanya adalah suamiku itu memang suka sekali memberikan tugas mematikan pada mahasiswanya yang terlambat masuk ke dalam kelasnya—walau hanya terlambat satu menit saja. Karena itu, para mahasiswa yang mengenal Pak Alan, pasti tidak ada yang berani terlambat untuk masuk kelas mata kuliahnya. Termasuk aku.   “Wah, kayaknya bakal ada yang dapet kejutan nih,” seru seorang pria yang baru masuk ke dalam kelas, anehnya pria yang aku yakini bukan berasal dari jurusan yang sama dengan itu tampak melirik padaku, seolah perkataannya tadi ia tujukan untuk diriku. Tapi, aku yang tidak mau kepedean pun hanya memilih diam dan pura-pura tidak tahu dengan tatapan berkodenya.   “Ehem.” Kali ini pria aneh itu berdehem keras, membuat semua isi kelas menoleh ke arahnya. “Mohon perhatian dan waktunya sebentar, ya.” Izin pria itu.   Semua mahasiswa yang ada di dalam kelas pun kini berfokus padanya. Tebakanku, pria itu mungkin berniat ingin mengutarakan perasaannya pada salah satu mahasiswi di kelas ini. Dan aku yakin itu bukan aku, untung saja tadi aku pura-pura tidak tahu.   “Kepada pangeran kampus kita, Sean Aditya Putra, dipersilakan untuk memasuki ruangan dan menjemput sang kekasih tercinta, Reyana Milanisti,” seru pria itu, yang sontak membuatku terbengong hebat.   Tak lama dari itu, aku melihat Sean masuk ke dalam kelas sambil membawa sebuket bunga mawar putih segar dan dua kotak yang berbeda ukuran. Di belakang Sean ada Lala dan juga Clara yang tampak membawa banner bertuliskan ‘Happy anniversary 3 years’.   Sorakan dan tepuk tangan meriah pun seketika menjadi melodi tersendiri dalam telingaku. Beberapa mahasiswa bahkan ada yang memotretku tanpa alasan, aku sampai harus menutupi wajahku lantaran malu, bukan malu karena tidak menyukai semua ini. Tapi, aku malu karena terlalu tersipu dengan semua sikap Sean yang benar-benar di luar dugaanku ini. Pria itu memang terkadang romantis, tapi ini pertama kalinya ia membiarkan banyak pasang mata melihatnya memberikan kejutan padaku. Karena tahun-tahun sebelumnya, Sean hanya mengajakku makan malam bersama sahabat-sahabatku, dan itu sudah cukup membuatku bahagia.   “Selamat hari jadi yang ketiga tahun, kesayanganku,” kata Sean yang masih menungguku agar melangkah ke depan, menghampirinya.   Aku menggaruk leherku yang tak gatal, rasanya malu saat setiap pasang mata seolah memandangku lekat. Tapi, karena tak mau membuat Sean menungguku lama di depan sana, perlahan aku pun bangkit dari kursiku sambil tersenyum canggung pada semua orang yang menatapku dengan raut wajah mereka yang berbeda-beda. Dan pada akhirnya, aku pun melangkah maju ke depan menghampiri Sean yang semakin mengembangkan senyumannya padaku.   “Kenapa kamu harus ngelakuin semua ini?” bisikku saat aku sudah berada di depan pria itu.   “Kamu enggak suka ya, Sayang?” tanya Sean, raut wajahnya berubah sedih.   “Bukan. Maksud aku bukan enggak suka. Tapi, enggak biasanya kamu kasih kejutan kayak ‘gini,” kataku.   Sean kembali mengukir senyumnya. “Jadi, artinya kamu suka ‘kan, Sayang?” tanyanya, lagi.   Aku menganggukkan kepalaku pelan seraya membalas senyumnya dengan senyum terbaikku. “Terima kasih, Sean,” ucapku.   “I love you,” bisik Sean seraya membuka salah satu dari dua kotak yang dibawanya. “Now and forever,” lanjutnya, yang seketika itu membuatku ternganga saat melihat isi kotak berwarna merah pekat itu.   “Sean, ini —”   “Jangan menolaknya,” sela Sean. “Aku tahu kamu tidak menyukai hadiah seperti ini, tapi aku tetap membelikannya untukmu sebagai tanda bahwa aku serius pada hubungan kita. Anggap saja saat ini aku sedang ... melamarmu,” kata Sean, yang aku yakin mampu didengar oleh semua mahasiswa yang melihat kami. Karena, pada kalimat terakhir Sean, aku kembali mendengar seisi kelas ini bersorak meriah.   Namun, berbeda dengan mereka yang seolah turut ikut bahagia. Aku yang seharusnya bahagia dengan perkataan Sean pun malah merasa sedih dan tak berdaya, apalagi ketika aku ingat sebuah kenyataan pahit yang saat ini sedang menyapa hidupku. Aku sudah menikah, Sean. Rasanya aku ingin meneriakkan kata-kata itu padanya, tapi aku tidak sanggup. Sean adalah pria yang terlalu baik untuk dilukai.   “Aku akan melamarmu secara resmi setelah aku dan kamu wisuda nanti,” lanjut Sean sambil memasangkan kalung yang ia ambil dari kotak merah itu ke leherku.   “Cantik,” ucapnya, saat kalung itu telah melekat sempurna di leherku.   “Romantis sekali,” sahut seseorang dari arah pintu kelas.   Suara itu ....   “Tapi, kenapa harus di kelas mata kuliah saya?” lanjut suara itu lagi, suara Pak Alan. Sungguh, saking terkejutnya dan juga saking takutnya, aku sampai merasa leherku kaku dan terus menatap lurus ke depan, aku sama sekali tidak berani menoleh ke arah pria itu, yang hawa seramnya saja sudah mampu membuat semua mahasiswa langsung duduk di tempatnya. Aku bahkan melihat Lala dan Clara juga kabur keluar dari kelas yang bukan mata kuliah mereka ini.   “Pak Alan,” sapa Sean, tindakannya itu justru semakin membuat jantungku berdebar tak karuan.   Hell. Bayangin aja, ‘gimana rasanya suami sama pacar berada dalam satu ruangan, saling berhadapan langsung, dan parahnya ini di kelas, dilihat oleh banyak pasang mata. Aku bahkan sampai keringat dingin saking paniknya.   “Kamu bukan mahasiswa saya, kenapa masih ada di sini? Cepat keluar sana,” suruh Pak Alan.   “Iya, Pak. Bentar ya, Pak,” jawab Sean. Ia kemudian memberikan buket bunga dan kotak yang dibawanya itu kepadaku.   “Nanti pulang bareng, ya,” bisik Sean setelah aku menerima buket bunga dan kotak berisi cokelat darinya. Aku pun hanya mengangguk pelan menanggapinya.   Setelah itu, Sean menatap ke arah Pak Alan lagi. “Pak, tolong jangan marahin pacar saya, ya. Dia enggak salah, saya yang rencanain ini semua. Jadi, kalau Bapak mau marah, marah saja sama saya. Bapak bisa panggil saya ke ruangan Bapak kapan pun Bapak mau. Terima kasih, Pak,” cakap Sean, yang kemudian baru pergi dari ruang kelas ini.   Dan kini, tinggal aku seorang diri yang berdiri di depan kelas bersama Pak Alan yang tak aku ketahui bagaimana ekspresi wajahnya saat ini, karena sampai detik ini pun aku masih belum berani menatapnya satu kilas saja.   “Kenapa masih berdiri di situ? Cepat duduk sana, jam mengajar saya habis gara-gara kamu dan pacar kamu itu,” ketus Pak Alan.   “Iya, Pak. Maaf,” lirihku, pelan, sangat pelan, hampir seperti bisikan yang sulit untuk didengar.   Kemudian, aku pun berbalik, dan segera melangkah menuju bangku yang ada di bagian paling depan, karena bangkuku tadi sudah ditempati oleh mahasiswa lain.   “Tunggu dulu.” Suara Pak Alan kembali menginterupsiku. Aku yang sedang melangkah pun sontak menghentikan langkahku yang padahal hampir mencapai bangku tujuan. Hatiku mendesah frustrasi. Apalagi sih maunya?   “Itu, bunga sama cokelat kamu taruh di depan sini,” suruh Pak Alan.   Aku pun langsung menoleh padanya, menatapnya dengan kening berkerut heran. “Tapi ... ini ‘kan punya saya, Pak,” balasku.   “Taruh di depan sini atau saya suruh kamu buang semua pemberian pacar kamu itu ke kotak sampah sekarang juga,” ancamnya.   “Tapi, Pak —”   “Taruh di depan sini, cepat. Nanti setelah jam mata kuliah saya selesai, kamu bisa ambil ke ruangan saya,” kata Pak Alan, tegas.   Mampus. Aku seolah sudah tahu apa yang direncanakan oleh pria kejam itu. Dia pasti punya niat jahat padaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD