“Kamu masuk ke kamar aja dulu, biar saya yang ambil barang-barang kamu di mobil,” suruh Pak Alan, setelah kami masuk ke dalam rumahnya, yang ternyata berada tak jauh dari kosanku dulu.
“Iya, Pak,” jawabku seadanya, tapi kemudian aku baru ingat kalau aku tidak tahu di mana letak kamar yang akan aku tempati. Dengan ragu, akhirnya aku pun memberanikan diri memanggil Pak Alan yang sudah melangkah pergi.
“Pak,” panggilku. Pria itu langsung menoleh saat mendengarku memanggilnya sopan.
“Ada apa?” tanyanya.
“Kamar saya yang mana, ya?”
“Maksud kamu kamar kita? Itu ada di lantai atas, yang pintunya warna hitam,” kata Pak Alan, yang sontak membuatku terbengong sejenak.
“Anu, Pak. Maksud saya, kamar pribadi saya, bukan kamar kita,” jelasku, mencoba memberitahunya tentang apa yang ada di dalam isi kepalaku ini. Ya, aku tentu saja tidak mau tidur bersamanya. Dan aku berharap Pak Alan juga berpikiran sama denganku.
Namun, anehnya pria itu tak kunjung merespons. Ia masih tetap dalam posisinya, menatapku dengan sorot matanya yang selalu terkesan dingin dan tajam. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tapi tatapannya itu sama sekali tidak pernah membuatku nyaman sedikit pun.
“Kamu ngomong apa barusan? Saya enggak ngerti,” ujar Pak Alan. Jawabannya itu berhasil membuatku tercengang. Nyebelin enggak sih, sudah lama aku menunggu jawabannya, tapi dia justru menanggapiku dengan kalimat pura-pura tidak tahunya.
Tapi, sekalipun aku kesal dengan sikap Pak Alan, aku sama sekali tidak bisa menunjukkan amarahku padanya. Parahnya, aku bahkan dengan terpaksa harus mengulas senyumku sebaik mungkin. Ayolah, aku tidak mungkin tersenyum padanya kalau saja aku tidak ingat jika hari ini aku ada bimbingan skripsi dengannya.
“Kamar pribadi saya, Pak. Kamar pribadi saya ada di sebelah mana?” kataku, dengan sabar kembali mengulangi pertanyaanku tadi.
“Oh, jadi kamu enggak mau tidur sama saya, ‘gitu maksud kamu?” tebaknya.
“Bukan enggak mau, Pak. Tapi ‘kan kita enggak saling cinta, Pak. Jadi, enggak mungkin ‘kan kita tidur satu ranjang?” paparku, berdasarkan logika.
“Tahu apa kamu soal cinta,” sindir Pak Alan, yang tampak memandangku sebelah mata. “Di rumah ini cuma ada satu kamar. Kalau kamu enggak mau tidur sekamar sama sama, ya udah, tidur aja di sofa,” imbuhnya.
Sumpah, ya. Rasanya tanganku sudah gatal semua, ingin sekali aku menampar otak pria itu sekaliii saja. Dia itu beneran jahat benget sih jadi orang.
“Lagian walaupun kita tidur satu ranjang, kamu enggak usah khawatir, saya enggak akan sentuh kamu. Saya ‘kan sudah bilang sama kamu, aset kamu itu masih kecil buat saya,” tandas Pak Alan.
Kedua mataku terbelalak lebar mendengar perkataan Pak Alan barusan. Dia benar-benar sedang menguji kesabaranku, 'kan? Coba hitung saja, sudah berapa kali pria itu mengataiku dan menohokku dengan kata-kata kejamnya. Astaga, dosa apa aku menikah dengan pria yang sama sekali tidak ada baik-baiknya sedikit pun.
“Bapak ngatain saya, ya?” tudingku sambil mengembuskan napas kasar.
“Siapa yang ngatain kamu? Saya hanya berbicara tentang fakta,” balasnya.
“Terus barusan ngatain aset saya kecil itu maksudnya apa?” kesalku.
“Kamu marah sama saya?” tanya Pak Alan, yang sontak membuatku tersadar atas sikapku yang bisa saja membuat nasib skripsiku hancur.
“Enggak, saya enggak marah kok. Saya cuma ....” Perkataanku terhenti saat suara dering dari ponselku memecah suasana mencengkam yang sempat menyelimutiku. Cepat, aku pun langsung mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tas selempangku.
“Sean?” lirihku, pelan.
“Kenapa enggak diangkat?” tanya Pak Alan saat melihatku hanya bengong menatap ponselku dan sesekali meliriknya dengan raut ragu.
“Anu ... ini ... ini temen saya, si Lala yang telepon,” kataku, terdesak oleh rasa gugup.
“Saya enggak tanya siapa yang telepon kamu,” tukas Pak Alan, yang seketika itu membuat aku sadar kalau aku sendiri yang telah membuat pria itu mungkin saja curiga padaku. Sial, bodoh sekali kamu, Reya.
"Kenapa malah bengong lagi. Cepet angkat teleponnya. Mungkin yang telepon mau ngomong penting sama kamu."
Setelah berkata seperti itu, Pak Alan kembali melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah untuk mengambil barang-barangku yang masih ada di bagasi mobilnya. Aku mengembuskan napas lega saat melihatnya lenyap dari pandanganku. Akhirnya pria itu pergi juga. Dengan segera aku pun berlari menuju lantai dua rumah ini sembari menerima panggilan dari Sean yang sudah sejak beberapa menit lalu menghiasi layar ponselku.
“Halo, Sean,” sapaku.
“Sayang,” panggilnya penuh keceriaan.
“Ada perlu apa kamu telepon aku? Kamu sudah pulang dari Yogyakarta?” tanyaku, yang kini berhenti di depan pintu berwarna hitam. Sambil menunggu Sean menjawab, aku pun membuka pintu kamar itu, lalu masuk ke dalamnya dan menutup pintu itu kembali.
“Emangnya aku enggak boleh telepon kesayanganku, ya?” kata Sean, dengan nada suaranya yang seolah-olah sedang kecewa padaku.
“Ya, boleh. Tapi ‘kan bukannya kamu lagi sibuk naik turun gunung-gunung impian kamu itu,” tukasku, kini balik aku yang berpura-pura kesal padanya.
“Gunung?” sahut suara lain dari arah pintu kamar. Seketika itu, aku langsung menoleh dan mendapati Pak Alan tampak berdiri di ambang pintu sambil membawa dua koper besarku.
Panik enggak?
Panik enggak?
Sial. Ya sudah pasti aku panik lah. Siapa yang enggak panik kalau tiba-tiba Pak Alan muncul pas aku lagi teleponan sama Sean yang faktanya adalah pacarku. Ya, Sean pacarku, aku dan Sean sudah sekitar tiga tahun menjalin hubungan. Demi Tuhan, saat ini aku merasa seperti seorang istri durhaka yang tengah berkhianat pada suaminya. Aku merasa berdosa dan juga tak berdaya. Aish, aku benci situasi ini.
“Sayang? Halo, Sayang?” Sean terdengar terus memanggilku dari seberang sana. Aku yang beberapa saat lalu tercenung dalam keterkejutan pun akhirnya kembali sadar dan menanggapi panggilan Sean setelah sedikit memutar tubuhku untuk memunggungi Pak Alan, berharap pria itu tidak bisa mendengar pembicaraanku dengan Sean.
“Eng ... anu, Sean. Aku matiin ya panggilannya. Soalnya aku ....”
“Tadi aku denger ada suara laki-laki, kamu ada di mana sekarang?” sela Sean, cepat. Nada suaranya pun terdengar tegas dan sangat serius. Aku lupa satu hal dari sosok Sean, bahwa pria itu sangat pencemburu dan posesif padaku, walaupun terkadang ia sama sekali tidak peduli tentang kabarku saat sudah sibuk pada pendakiannya.
“Aku ... aku lagi di ....”
“Di mana?”
“Di ... itu ... aku ... aku lagi bimbingan sama Pak Alan,” jawabku, yang akhirnya menemukan alasan paling masuk akal yang bisa aku gunakan untuk membohongi Sean. Maafkan aku, Sean.
“Oh, kamu lagi bimbingan. Kenapa enggak bilang? Ya udah, kamu semangat, ya. Nanti aku jemput kamu di kampus. Kamu sekarang lagi ada di kampus, ‘kan?”
“Eh, itu ... iya, oke,” jawabku, lagi-lagi berbohong.
“Ya udah, kamu fokus aja sama sesi bimbingan kamu. Nanti kamu kena amuk Pak Alan yang kata kamu galak itu lho,” ujar Sean.
“Iya.”
“Oke, bye, Sayang. I love you.”
“Ya, too,” balasku, yang kemudian langsung mematikan panggilan tersebut. Lalu, dengan segera aku menoleh ke arah Pak Alan yang aku tahu masih berada di depan pintu. Tapi ... saat aku berbalik, jantungku hampir saja terlepas dari tempatnya, karena dibuat kaget dengan keberadaan Pak Alan yang entah sejak kapan sudah berada di depanku.
“Pak Alan ...,” lirihku, menatapnya takut. Takut kalau dia mendengar pembicaraanku dengan Sean.
“Suara Lala ... kok suaranya kayak laki-laki, ya?”
DEG
“Dan aku baru tahu, ternyata kamu itu pinter bohong, ya,” cibirnya. “Bukan cuma bohong sama saya, tapi juga sama pacar kamu,” timpalnya, yang sontak langsung membuatku menatapnya dengan raut terkejutku.
“Bapak tahu kalau saya punya ... pacar?”
“Semua orang di kampus hampir tahu tentang hubungan kamu sama Sean, si pria kaya raya itu, anak MAPALA,” terang Pak Alan.
Aku menutup mulutku tak percaya. “Jadi, Bapak sudah tahu kalau saya suka sama orang lain?”
Pak Alan menganggukkan kepalanya.
“Terus kenapa Bapak mau menikah sama saya?”
“Karena kemauan orang tua saya,” jawab Pak Alan.
“Berarti Bapak juga terpaksa menikah sama saya?” tanyaku, lagi. “Jadi, artinya kita sama-sama terpaksa menikah. Kalau begitu, kita bisa buat kesepakatan, ‘kan?”
“Menikah itu bukan permainan. Saya serius nikahin kamu,” tukasnya.
“Tapi, tadi Bapak bilang ....”
“Saya memang menikahi kamu karena usul dari orang tua saya. Tapi, bukan berarti saya menjadikan pernikahan ini sebagai sebuah keterpaksaan yang bisa dimainkan,” tandas Pak Alan. Perkataannya itu seratus persen berhasil membuat hatiku merasa ditampar keras.