제2화 : Aku Bukan Pria Buruk

1267 Words
Malam semakin larut, Eun Woo menghentikan mobilnya. Sejeong berterima kasih lalu turun dari mobil. Eun Woo tersenyum dan berpamitan untuk langsung pulang. Ia melajukan mobilnya meninggalkan Sejeong yang masih berdiri menatapnya. "Wasseo (kau pulang)." Tanya seorang wanita paruh baya sedang membersihkan meja. " Immo (bibi)." Sapa Sejeong tersenyum memeluk bibinya. " Sebaiknya kau makan, immo akan menghangatkan makanan untukmu." " Andwaeyo, aku sudah makan." Jawab Sejeong memegangi perutnya yang terasa sesak karena kenyang. " Siapa yang mengantarmu?" " Cha Eun Woo songsae." Kata Sejeong mengambil cangkir di sampingnya. " Aigoo, anak itu selalu baik padamu, sepertinya dia menyukaimu." Jawab immo menuangkan minuman. " Apa maksudnya, dia itu dokter yang keren dan sangat baik." Jawab Sejeong tersenyum lalu menyeruput minuman di tangannya. " Da Reum sudah pulang dan dia langsung naik ke atas." " Ne, terima kasih karena bibi sangat perhatian pada kami." " Musun irriya (apa maksudmu), bukankah kita keluarga." " Aku senang mendengarnya." " Tadi Park ssaem menelpon, beliau ingin kau kembali lagi mengajar taekwondo." " Tadi beliau juga mengirim pesan padaku." " Kau tidak ingin kembali kesana?" Sejeong menghela nafas panjang. Sebenarnya taekwondo adalah hobinya sejak kecil. Sebelumnya Sejeong adalah pelatih taekwondo, tapi sejak ayahnya koma gadis itu berhenti dan memilih melamar pekerjaan di perusahaan agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak untuk mencukupi kebutuhannya dan membayar rumah sakit. Immo merasa bangga melihat gadis itu, ia selalu mendukung apa yang Sejeong lakukan. " Apa Jennie eonni sudah tidur, aku tidak melihatnya." " Dia bilang kepalanya pusing jadi dia langsung tidur di kamarnya." (NB: Immo (ibunya Jennie) adalah adik dari Tuan Kim (ayah Sejeong). Beliau memiliki kedai ayam goreng dan rumah mereka berdekatan). ------------------- Sejeong meletakkan tasnya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Wajahnya tampak sedih memikirkan keadaan ayahnya yang belum ada perubahan. Sudah setahun Tuan Kim (ayah Sejeong) berada di rumah sakit sanatorium. Beliau mengalami kecelakaan yang menyebabkannya koma. Tuan Kim sebelumnya adalah seorang pemadam kebakaran. Sedangkan nyonya Kim (Ibu Sejeong) sudah meninggal ketika Sejeong masih sekolah menengah. Dia juga mempunyai adik laki-laki bernama Kim Da Reum, sebenarnya Da Reum bukanlah adik kandungnya, ayahnya pernah menyelamatkannya waktu orang tuanya meninggal karena kecelakaan di sebuah apartement dan beliau memutuskan untuk merawatnya. •••••••••••••••••• Sehun sibuk dengan komputer di depannya. Jong In mengetuk pintu ruangannya dan masuk dengan senyuman sumringah. " Kau sudah sarapan?" Tanya pria itu. " Aku sedang tidak nafsu makan." Jawab Sehun menutup beranjak dari tempat duduknya. " Bukankah sekarang kau CEO di sini, kau harus menjaga kesehatanmu." Kata Jong In menepuk punggung Sehun. Sehun tersenyum dan berterima kasih karena Jong In selalu menghawatirkan nya, tapi hari ini dia benar-benar tidak nafsu makan. Pekerjaan barunya sedikit membuatnya kelelahan. " Kau memang gila kerja." Ucap Jong In mulai lelah membujuk Sehun. Ia membuka tab nya lalu menyuruh Sehun untuk membukanya. " Ige mwoya (apa ini)?" Tanya Sehun bingung. " Bukankah kau butuh sekretaris, aku akan mengadakan wawancara." Jawab Jong In. " Andwae (jangan), kau tidak perlu mengadakan wawancara." Balas Sehun tiba-tiba dan berhasil membuat Jong In terkejut. " Gokjongma (jangan khawatir), aku sudah memikirkannya." Lanjutnya tersenyum jahat. ----------------- Sejeong sibuk dengan pikirannya, sebenarnya ia takut kalau CEO baru itu benar-benar akan memecatnya. Gadis itu menatap Jong In yang berjalan ke arahnya. " Sejeong-ssi, Oh daepyo-nim memanggilmu." Kata Jong In. " Ne?" Balas Sejeong terkejut, ia menghela nafas lalu berjalan dengan malas menemui Sehun. Jong In menatapnya aneh karena sepertinya telah terjadi sesuatu diantara mereka. " Sepertinya perang akan segera dimulai." Gumam Jennie fokus dengan laptopnya. " Perang apa?" Tanya Jong In tiba-tiba dan berhasil membuat gadis itu memegang dadanya karena terkejut. " Mian (maaf)." Kata Jong In menyesal. " Gwenchanaseyo sajang-nim (tidak apa-apa Pak)." Kata Jennie sedikit membungkuk. " Kau tidak perlu formal seperti itu, bukankah kita sudah resmi berpacaran." Kata Jong In tersenyum memegang tangan Jennie. Gadis itu sedikit terkejut namun akhirnya dia pun tersenyum. ------------------- Sejeong mengetuk pintu ruangan Sehun ragu, ia membuang nafas dan perlahan membuka pintu tersebut. Ia berusaha tersenyum menyapa Sehun tapi wajahnya mengatakan kalau ia takut bertemu dengannya. " Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Sehun dingin. " Ye? ah, gwenchanaseyo (tidak apa-apa)." Jawab Sejeong gugup. " Mulai sekarang kau menjadi sekretarisku, jadi kau harus mengurus semua jadwalku." Kata Sehun beranjak dari kursinya. " Mwo (apa)?" Tanya Sejeong terkejut. " Semua jadwalku ada disini, kau harus mengaturnya dan menyiapkan semua yang aku butuhkan." Kata Sehun meletakkan tab di atas meja. " Hari ini ada meeting, kau ambilkan aku jas di lemari itu." Lanjutnya. " N ne daepyo-nim." Jawab Sejeong dengan wajah yang sulit diartikan. Gadis itu mengambil jas hitam dan memakaikannya untuk Sehun. Pria itu membenarkan pakaiannya sebentar lalu segera keluar dari ruangannya. Menyadari Sejeong masih belum bergeming dari tempat ia berdiri membuat langkahnya terhenti. " Kau tidak mau pergi?" Tanya Sehun menoleh ke belakang. Sejeong langsung tersadar dan mengambil file di atas meja. Ia sedikit berlari mengejar Sehun yang sudah berjalan mendahuluinya. Hari ini ada meeting dengan klien pertama mereka. ------------------ Jennie mengirim pesan untuk Sejeong berulang kali karena cemas terjadi sesuatu dengannya. " Kenapa kau terlihat sangat cemas?" Tanya Jong In. " Aku takut Oh daepyo-nim melakukan sesuatu pada Sejeong." Kata Jennie. " Yaa, Sehun tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, aku kenal baik sifatnya, sebaiknya kau jangan berpikir macam-macam dan habiskan makanannya." Jawab Jong In. " Majjayo (kau benar), aku harap tidak terjadi apa-apa padanya." Kata Jennie serius. Jong In sedikit tersenyum mendengarnya, sejujurnya ini pertama kali dirinya melihat Sehun tertarik dengan seorang gadis. ------------------- Sehun membenarkan jasnya lalu membungkuk memberi salam pada Tuan Ahn yaitu kliennya. Mereka bertemu di restoran ruangan VIP, mereka mulai membahas proyek yang akan datang. Sehun menjelaskan dengan sangat rinci dan terlihat sangat pintar dari cara menyampaikannya sedangkan Sejeong membantunya. " Aku sangat menantikan moment ini Oh daepyo-nim." Kata Tuan Ahn senang. " Aku sangat berterima kasih karena anda mau menanam saham untuk proyek baru kami." Jawab Sehun tersenyum. " Dasar muka dua." Batin Sejeong menatapnya kesal. " Kim Sejeong-ssi, kau juga sangat pintar dan cantik." Puji Tuan Ahn. " Khamsahamnida sajang-nim (terima kasih pak)." Jawab gadis itu tersenyum senang. Sejeong membuka file lalu mempersilahkan mereka untuk tanda tangan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi berulang kali. " Jamkkanmanyo (permisi sebentar)." Kata Sejeong berjalan meninggalkan mereka untuk mengangkat ponselnya. " Yeoboseyo Da Reum-ah." " Noona, appa, appa tiba-tiba kejang." Kata Da Reum menangis. " Mwo (apa katamu)?" " Noona, cepat kesini." Sejeong kembali duduk dengan Sehun dan Tuan Ahn. Sehun terus memperhatikan wajah Sejeong yang terlihat sangat gelisah setelah menerima telpon. " Josonghamnida daepyo-nim, Ahn sajang-nim aku harus pulang, sesuatu terjadi dengan ayahku." Kata Sejeong memberanikan diri. Sejeong berdiri lalu sedikit membungkuk dan segera pergi dengan tergesa-gesa. ------------------- @rumah sakit " Appa, appa, appa." Lirih Sejeong berlari menuju ruangan ayahnya. " Noona." Panggil Da Reum memeluk Sejeong yang baru datang. Jennie dan immo juga ada di sana. " Bagaimana keadaan ayah?" Tanya Sejeong pada mereka. " Keadaannya sudah stabil." Jawab Jennie sedih. Sejeong memegang tangan ayahnya erat. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada beliau. Sementara itu, Eun Woo datang menghampiri mereka. Ia memanggil Sejeong untuk ikut dengannya. @ruangan dokter Cha " Cha songsae, sebenarnya apa yang terjadi dengan ayahku?" " Dengan berat hati aku harus mengatakan ini padamu. Aku tidak tahu apa ayahmu akan sembuh melihat keadaannya yang sampai sekarang belum ada perkembangan." Kata Eun Woo. " Tolong sembuhkan dia." Pinta Sejeong menangis. " Aku mengusahakan semampuku." Jawab Eun Woo. Sejeong memegang dadanya yang terasa sesak karena tidak tega melihat kondisi ayahnya sekarang. Eun Woo menepuk-nepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya. Jangan lupa vote dan coment ya yeorobun....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD