Seperti yang telah mereka sepakati, Helva akan menjadi sekretaris Daniel saat pagi hingga sore jadi dia dituntut untuk profesional saat bekerja. Kemampuan Helva lumayan. Dia sigap, tegas, dan cekatan. Dia juga fokus mengerjakan tugasnya sebagai sekretaris baru yang masih dalam arahan Emery supaya kedepannya dia bisa lebih terbiasa tanpa harus kebingungan terlalu lama.
“Jadi jadwal Anda hari ini tidak ada yang penting. Besok ada rapat pukul sepuluh pagi. Pukul 1 siang ada janji makan siang dengan direktur utama Permata Corporation untuk membahas kerja sama lebih lanjut lagi. Saat sore … tidak ada. Itu saja.” Helva menyampaikan dengan profesional seakan tidak memiliki hubungan apapun dengan Daniel padahal tadi pagi mereka datang bersama.
“Oke.” Daniel menyahut pendek. Dia tengah sibuk dengan layar komputer, jarinya mengetik di keyboardnya. “Karena ini sudah sore, bersiaplah untuk pulang. Kau akan ikut denganku lagi,” katanya tanpa mengalihkan perhatian.
“Ke mana?” Pertanyaan itulah yang membuat Daniel mendongakkan wajahnya menatap Helva.
“Pertemuan. Alby sudah membawakan barang yang aku pesan. Kau pakai itu saat pulang kerja. Kita langsung ke sana.” Daniel kembali memberi tahu
Helva diam mendengarkan. Dia tahu apa maksud Daniel untuk pertemuan itu.
“Kenapa?” Dia mengangkat wajah lagi. “Ada yang ingin kau sampaikan lagi?”
“Tidak ada, Pak. Saya permisi.” Helva memilih mundur meskipun memang ada yang ingin dia sampaikan.
Kembali ke kursi sekretaris, Helva menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menatap layar komputer di sana dengan kosong. Emery melihatnya.
“Sesuatu mengganggumu ya?” Tebak Emery.
Helva menoleh, tersenyum kecil.
“Terlalu berat?”
“Tidak. Hanya ada sedikit gangguan,” katanya jujur tapi tak menjelaskan apa-apa.
Emery hanya mengangguk. Alby muncul tak lama kemudian sambil membawa suatu. Dia memberikan satu makanan ke Emery yang isinya lengkap, satu lagi untuk Helva.
“Cemilan sore,” katanya lantas tersenyum tapi Helva tahu kalau senyum lembut dan tatapan yang penuh kasih dari Alby ke Emery itu tidak lazim.
“Thanks,” ucap Emery disertai senyum lebar dan tatapan yang penuh cinta.
Aneh. Helva terdiam. Dia ingat kalau Emery tengah mengandung yang artinya dia sudah menikah. Tapi kenapa main mata dengan asisten bosnya?
“Ekhem. Helva?” Emery menyadarkan Helva dari lamunan.
“Hubungan kalian itu apa?” Helva justru menyuarakan pikirannya. “Bukannya kau sudah menikah dan sedang hamil? Kenapa main mata?” lanjutnya dengan tatapan tak suka. Helva terluka oleh pengkhianatan dan perselingkuhan jadi bagaimana mungkin dia akan mentoleransi apa yang dilakukan Emery dan Alby?
“Hah?” Emery tentu saja bingung karenanya. “Maksudmu apa?” Emery melirik Alby yang masih ada di sana, bersandar pada pembatas meja sekretaris.
“Kalian … selingkuh, kan?” Tuduhnya.
Hening. Emery dan Alby saling diam, saling tatap dengan shock.
“Mereka suami istri.” Bukan Emery atau Alby yang menjawab tapi suara lain yang berasal dari arah ruang CEO. Daniel memasukan kedua tangannya ke saku celana.
“Hah?” Helva cengo, dia mendadak loading.
Emery paham dengan maksud Helva sekarang lantas tertawa. Helva menatapnya.
“Dia suamiku, Helva,” kata Emery menunjuk pada Alby.
“Suami?” Helva justru loading yang mengundang tawa Emery kian keras.
Daniel hanya menggelengkan kepalanya melihat Helva.
“Masuklah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Helva,” katanya dengan nada perintah. Dia bahkan menyentak kepalanya ke samping, menunjuk pada pintu ruangannya yang sedikit terbuka.
Helva enggan tapi dia harus ke sana juga. Dia membawa bingkisan makanan yang Alby berikan. Mendadak perutnya lapar padahal sudah makan siang tadi.
Ketika pintu ruangan tertutup, Helva dibuat terdiam oleh tatapan menusuk dari Daniel.
“Ada apa denganmu?” Daniel bertanya.
“Iya? Aku, kenapa?” Helva menimpali bingung.
“Helva … .”
Langkah Daniel maju mendekat pada gadis itu yang justru mengambil langkah mundur.
“Ada apa, Pak Bos?” Sontak saja dia bertanya dengan panggilan lain yang tak biasa.
Tapi Daniel tak mengatakan apa-apa dan terus maju mendekati gadis itu. Hingga punggung kecilnya membentur pintu.
“Ada apa, sih, Dan?” Helva mengubah panggilan, tangannya terangkat untuk menahan d**a bidang Daniel. “Kau membuat aku takut,” cicitnya jujur.
Tapi sekali lagi Daniel hanya diam. Semakin dekat pada Helva, semakin gadis itu menghindar. Dan ketika hidung mereka nyaris bersentuhan sampai membuat Helva menahan napas, Daniel justru menjauh membuat Helva menatapnya tak percaya.
“Sialan! Apa yang kau lakukan?” Helva mengumpat, tanpa peduli sekarang masih jam kerja.
Daniel tak menjawab, dia hanya berbalik dan duduk di sofa.
“Duduklah,” katanya memerintah. Helva menurut. “Di sini,” tambahnya menepuk sofa kosong di sampingnya.
“Tidak. Aku —”
“Di sini!” Tatapan itu entah bagaimana begitu mengintimidasi. Padahal tadi saat Helva melaporkan jadwal Daniel, pria itu baik-baik saja tapi tiba-tiba berubah. Ada apa?
Helva duduk di ujung sofa di mana Daniel duduk.
“Di sini, Helva!” Tegasnya menepuk sekali lagi sofa di sampingnya.
Mau tak mau Helva bergeser. Hanya menyisakan satu jengkal saja di antara mereka. Daniel menghembuskan napas kesal.
“Ada apa denganmu?” Daniel bertanya.
Tapi Helva justru memperlihatkan raut aku mengerti.
“Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
Ah, mungkinkah sikap Helva tadi membuat Daniel terganggu?
Merasa tidak ada masalah serius. Helva bersikap santai, bahkan membuka bungkus makanan yang dia bawa ke dalam ruangan Daniel itu. Dia bahkan menawarkan pada Daniel yang hanya dibalas tatap dingin.
“Aku mmmppph. Tadi itu mmmm.”
“Habiskan makananmu dulu, Helva,” tegur Daniel karena mulut Helva penuh makanan tapi gadis itu malah bicara.
“Aaaa oke. Mmmm.”
Tak tahukan Helva suaranya itu yang terdengar aneh bisa mengundang salah paham.
“Mau?” Helva menyodori Daniel hamburger yang sudah dia gigit.
Daniel diam saja sampai Helva kembali menggigit makanan itu tapi yang tak diduga-duga Daniel tiba-tiba mendekat dan menggigit sisi makanan di mulut Helva membuat matanya membulat sempurna. Sontak saja Helva menjauh. Tapi sialnya, adegan itu bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan membuat dua orang di ambang pintu shock.
“Dasar gila!” Sentak Helva yang tak menyangka dengan ulah Daniel itu. Dia cepat-cepat menghabiskan makanannya dan mengambil minuman di gelas yang ada di meja dengan asal tanpa tahu kalau gelas itu bekas Daniel minum.
“Ada apa?” Daniel so cool bertanya pada dua orang yang masih di tempatnya.
Alby berdeham.
“Saya akan mengantarkan Emery pulang. Nanti kembali lagi,” kata Alby.
“Tidak perlu,” sahut Daniel cepat yang membuat sebelah alis Albu terangkat.
“Yakin?” Sang asisten memastikan.
“Ya. Aku akan pergi dengan Helva. Ada urusan,” katanya.
Emery justru tertawa geli. “Ciee. Bos. Pelan-pelan aja, gak usah buru-buru,” komentarnya.
Helva melotot pada Emery yang mengerling jahil padanya.
“Ya udah. Silakan lanjut. Kami permisi dulu,” pamit wanita itu dengan cengiran lebar di bibirnya.
Helva ingin protes tapi pintu sudah lebih dulu tertutup sebab Emery mendorong Alby untuk pergi dari sana meninggalkan Helva dan Daniel berdiam. Gadis itu mendelik.
“Masih jam kerja, Direktur,” tegurnya.
“Udah usai, tuh,” dagu Daniel mengendik ke arah jam dinding di ruangan itu. Helva mengikuti arah tunjukan dan terdiam.
“Meski begitu, tolong jaga sikapmu,” katanya seraya menghindar.
“Memangnya kenapa?” Daniel justru menggoda.
Sial! Helva merutuk dalam hati. “Ex-rival sialan. Kau bikin jantungku berdetak cepat.”