Daniel tertawa. Suara tawa yang entah mengapa membuat Helva teringat pada masa itu. Hal indah ketika mereka sama-sama berjuang untuk kompetisi sekolah. Sama-sama bersaing untuk mengunggulkan kelas mereka. Helva jagoan kelas D, sedangkan Daniel jagoannya kelas A. Dulu, mereka kerap kali bersitatap tajam ketika musim kompetisi sekolah mulai. Siapa yang mendapat trofi lebih dulu, dialah yang akan menjadi juaranya.
“Kenapa?” Daniel bertanya ketika dilihatnya Helva menatap cukup lama. “Ada sesuatu di wajahku?” tanyanya kemudian seraya mengangkat tangannya menyentuh wajah dengan bingung.
“Tidak ada,” jawab Helva santai. Dia menumpuk kakinya, melipat kedua tangan di d**a dan menatap lurus ke depan, seulas senyum terbit di wajahnya ketika benaknya menampilkan kenangan masa itu.
“Kenapa, sih, Hel?” Daniel penasaran sebab raut wajah gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya seakan tengah bahagia.
“Aku bilang tidak ada, ya, tidak ada,” kilahnya berbanding terbalik dengan senyum geli di wajahnya yang kian membuat Daniel ingin tahu.
“Kenapa, sih, Hel? Kau membayangkan apa sampai senyum-senyum begitu? Aneh,” katanya.
Helva melirik Daniel tapi dia justru tertawa mengundang kerutan di dahi Daniel. Ada apa dengan Helva? Apa yang tengah gadis itu bayangkan?
“Nggak ada kok, sungguh,” kata Helva seraya mengacungkan dua jari membentuk huruf V. “Hanya candaan masa lalu. Ternyata kau pernah selucu itu ya?” Dia tertawa lagi.
Daniel mengerutkan keningnya makin berlipat, nyaris menyatukan kedua alisnya yang tebal. Dia mencoba mencari kenangan yang sama dengan Helva. Jika gadis itu ingat, dia pasti ingat juga, bulan? Tapi, apa itu?
“Lucu apanya, Hel?” Sayangnya, dia tidak tahu apa yang lucu dari kenangan masa lalu. Mungkin kenangan itu hanya ada dalam benak Helva, tidak dengannya.
“Kau mau tau?” Helva bertanya dengan kerlingan jahilnya. Bahkan senyumnya seakan mengejek ingatan Daniel.
“Apa itu? Katakan padaku?” Rasanya tak sabar menunggu apa yang mungkin akan Helva sampaikan.
“Ah, oke. Tunggu. Kalau gak salah, aku masih punya fotonya di media sosial milikku,” kata gadis itu meriah ponselnya, mengotak atik layar lantas membuka aplikasi media sosial miliknya. Wajahnya serius sekali dan Daniel memperhatikan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Ada apa itu? Lucu apanya? Ah, Daniel jadi ingin kembali pada masa itu, masa indah ketika berseragam dulu yang tak akan mungkin lagi mereka ulang.
“Ah, untung masih ada,” ujar gadis itu.
Daniel bergeser tempat duduknya semakin dekat dengan Helva. Tapi gadis itu menyembunyikan ponselnya. Senyumnya mengembang dengan jahil, Daniel melihatnya jadi tak nyaman, menduga kalau foto yang dia simpan di media sosial itu adalah sesuatu yang aneh?
“Apa, sih, Helva?” Daniel tak sabar. Melihat wajah Helva yang kian menyunggingkan senyuman membuatnya jengkel, apalagi Helva bermain rahasia.
“Kau yakin mau melihatnya?” Helva justru bermain-main dengan rasa penasaran Daniel itu.
Tatapan tajam dari Daniel itu cukup menjadi jawaban atas pertanyaan Helva. Gadis itu membawa ponselnya ke depan lantas menunjukkan sesuatu yang membuat Daniel diam cukup lama seakan mencerna apa yang dia lihat, mengingat apa yang dulu dia lakukan dan bagaimana Helva mendapatkannya?
“Itu … ?” Dahi Daniel mengerut, masih kesulitan mencari kenangan itu.
“Kau tak ingat, kan? Tapi ini lucu lho, Dan. Kami bahkan tertawa sampai terpingkal. Ternyata, pangeran perfect itu bisa jadi badut juga, ya?” Tawanya semakin mengudara membuat wajah Daniel merah. Dia malu tapi ingatan itu mengabur dalam benaknya.
“Coba liat itu lagi, Helva?” Daniel tak puas melihat foto yang diambil dari jarak jauh itu.
Helva memperlihatkan lagi layar ponselnya tapi hanya sekilas dan itu sama sekali tak membuat Daniel puas.
“Helva!”
“Apa?”
“Sini handphonenya.” Daniel mengulurkan tangannya.
Tapi Helva malah semakin menjauhkannya.
“Mau apa? Jangan kau harus, Dan. Ini kenangan paling lucu dari pangeran perfect.” Helva meledek Daniel yang mulai kehabisan kesabarannya.
“Helva. Sonky!”
“Nggak. Gak akan aku kasih.”
“Janji gak bakal aku hapus. Sini. Liat!”
“Nggak!” Helva meleletkan lidahnya, semakin meledek Daniel.
Kesal dengan sikap gadis itu, Daniel maju untuk meraih ponsel di tangan gadis itu tapi sekali lagi Helva menjauhkan jangkauan. Dia tertawa saat melihat Daniel semakin kesal saja karenanya.
Rahangnya mengeras, dia menatap Helva tajam. Mengambil ancang-ancang dan mulai bergerak mengambil benda itu tapi Helva sepertinya memang berniat mempermainkannya Daniel. Dia menjauhkannya lagi, satu tangannya terulur ke belakang, semakin menjauhkan benda itu dari Daniel.
“Helva!” Daniel berseru, sabarnya habis. Sekilas, tadi itu dia melihat penampilan Daniel yang berbeda dari sebelumnya. Rambut acak-acakan khas anak sekolah menengah atas waktu itu dikuncir beberapa bagian, wajahnya cemong oleh make-up seperti badut.
Penampilan itu membuat Daniel malu sekali apalagi sampai Helva mengabadikannya di media sosial gadis itu. Artinya sudah banyak melihat dan itu sepuluh tahun lalu? Bagaimana bisa Daniel baru melihat dan mengetahuinya?
“Kau yakin tak mau memberikannya secara sukarela padaku, hm?” Daniel bertanya, menjeda usahanya mengambil ponsel itu. Dia menatap Helva yang terpojok di sofa, tubuhnya miring ke belakang.
“Ya. Lagi pula, kau tak akan senang melihatnya,” kata Helva. Kala dia hendak beranjak tanpa sekalipun menurunkan tangannya yang memegangi ponsel, Daniel justru menarik tangannya, menahan Helva kembali ke posisinya, terpojok di sofa.
“Kau mau kemana, hm?”
Kedua mata Helva melotot ketika Daniel bergerak di luar dugaannya. Dia mendekat dengan gerakan pelan.
“Kapan kau ambil foto itu, Helva?” tanyanya pelan.
Mata Helva dibuat mengerjap.
“Aku tidak ingat. Jujur saja, waktu itu aku tidur di gudang, seperti yang kau tau. Itu markas gengnya Jupiters. Aku nongkrong di sana. Mereka jailin aku jadi kayak gitu,” ceritanya tampak serius sekali sampai membuat Helva diam mendengarkan.
“Jupiters, ya? Ah, aku ingat. Yang pacarnya si ketua geng yang kau nodai, itu, kan? Di perpus hanya —” Kedua mata Helva terbelalak ketika Daniel dengan kurang ajarnya membungkam mulutnya.
Tidak. Ciumannya tak lembut, tapi kasar dan itu membuat Helva berontak tapi Daniel mengunci kedua tangannya. Dia bahkan menarik tubuh Helva agar berbaring sempurna di sofa, memposisikan gadis itu dalam kungkungan. Ciuman Daniel itu disertai emosi.
“Ah!” Helva menjerit, dia terengah ketika Daniel melepaskan ciumannya. Wajahnya merah padam, dia seakan marah. “Kau gila?” Helva menghardik tajam.
“Ya. Aku gila. Gila karena kau masih saja mengungkit itu?” Napas Daniel juga memburu, dia menatap tajam Helva di bawahnya. “Aku harus berapa kali menjelaskan padamu kalau aku tak melakukan itu, Helva.” Nadanya berubah menjadi putus asa.
“Lantas apa? Siapa yang harus aku percaya? Buktinya jelas, Dan. Lalu kau … menghilang.” Di akhir kalimat itu Helva memelankan suaranya menjadi bisik aneh yang mencubit hati. Dia menatap Helva yang ada di bawahnya nanar.
Ada hal yang tidak bisa Daniel ceritakan. Dia butuh waktu dan suasana tenang agar yang dia sampaikan itu tidak meninggalkan jejak apapun. Terlebih lagi jejak yang menjadi luka.
“Halva … maaf,” ucapnya pelan. Suara itu bergetar entah karena apa. “Aku … .” Daniel melan ludahnya. Kerongkongannya terasa tercekat. Dia belum siap untuk bercerita pada Helva. “Aku … .”
“Apa yang kalian lakukan!” Suara itu lantang memenuhi ruangan membuat atensi Helva dan Daniel tertuju ke pintu di mana tiga orang berdiri kaget di ambang pintu.