“Halo,” sapa Helva canggung seraya menghampiri ranjang tempat ibunya terbaring lemah dengan alat penunjang hidupnya di sekujur tubuh. Wanita itu bangun dari duduknya, tatapannya dingin dan datar mengarah pada gadis itu yang melirik Alora serta dua orang dokter lain yang berdiri. “Kamu datang?” Sambut wanita itu tanpa senyuman, tapi nada suaranya tetap terjaga, tegas. “Iya, Bu. Kenapa Anda di sini?” Helva merasa bodoh menanyakan hal itu. Tidak menjawab Helva, sebaliknya, wanita itu menatap para dokter yang salah satunya sudah berumur. “Tolong pastikan perawatannya yang terbaik. Tolong jaga calon besan saya, upayakan apapun untuk bisa tetap baik-baik saja. Akan lebih baik jika bisa sadar,” katanya dengan nada perintah. “Baik Nyonya. Akan kami upayanya.” Dokter yang sudah berumur i

