22. Cerita Hidup Helva

1117 Words

Cahaya pagi merambat semakin tinggi, menyinari tiap sudut ruangan apartemen yang modern namun hangat itu. Helva melilitkan kemeja Daniel yang kebesaran di tubuhnya, membiarkan rambutnya berantakan begitu saja. Kakinya melangkah pelan ke dapur, suara pelan dari teko pemanas mulai mendesis, menandakan air hampir matang. Daniel muncul dari balik kamar, hanya mengenakan celana kain dan rambut acak yang masih basah setelah membasuh muka. Dia bersandar pada meja mini bar menyilangkan tangan di d**a. “Sedang mencuri tempatku?” Helva melirik sekilas. “Kalau kau lambat, tentu saja aku ambil alih.” Daniel tertawa pelan, mendekat dan mencuri ciuman singkat di pipi Helva sebelum membuka kulkas. “Omelet atau pancake?” “Pancake,” jawab Helva cepat. “Tapi tanpa sirup manis, cukup kehadiranmu saja ya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD