Ilham baru kembali pukul sepuluh malam. Proyek yang sedang dikerjakannya benar-benar menyita waktunya. Membuat jam lemburnya semakin bertambah.“Assalamu'alaikum,” Ilham beruluk salam pelan. Tidak ada sahutan, mungkin Syifa sudah tertidur. Pikirnya. Dan dugaannya benar. Adiknya itu tertidur di ruang depan, dengan posisi duduk di lantai dan kepala di atas meja dengan buku-buku berserakan. Ilham tersenyum. Kemudian menghampiri adiknya. Melihat semua bukunya tentang psikolog, lagi-lagi Ilham tersenyum. Teringat dulu saat ia tanya kenapa adiknya memilih jurusan psikolog. “Karena Abang itu susah ditebak. Aku mau belajar psikolog biar tahu ekspresi Abang yang sebenarnya. Jadi Abang gak bisa nyembunyiin apa-apa dari aku. Karena aku akan tahu semuanya hanya dengan melihat Abang.” Syifa mengucapk

