Pukul sembilan malam, Ilham baru sampai di apartemennya karena tadi ia harus lembur. Ah, ralat, ia lembur setiap hari. Melelahkan tentu saja, dan di saat seperti ini ia selalu berpikir alangkah senangnya jika ada seseorang yang menunggunya, menyambutnya dengan pelukan hangat ketika ia pulang, menyiapkan makanan, air hangat, dan memijat badannya ketika ia lelah.
Namun Ilham hanya bisa menghela napas. Lantas, ia teringat pertemuannya dengan Ayesha tempo hari dan tanpa sadar ia tersenyum.
Ilham melihat ponselnya lalu berdecak kesal. “Dia bahkan belum menghubungiku,” ucapnya kemudian melempar ponselnya di sofa. Saat ponselnya berdering, Ilham langsung mengambilnya. Berharap kalau itu adalah Ayesha.
Bibirnya berkedut kecil tatkala melihat nomor baru yang tertera di layar ponselnya.
“Asslamu'alaikum,” jawab Ilham setelah berdehem.
“Wa'alaikumussalam, apa benar ini dengan Ilham?” tanya seseorang dari seberang.
Ilham tersenyum tanpa bisa ditahan. “Maaf, dengan siapa?” tanyanya usil, padahal ia sudah tahu kalau itu adalah suara Ayesha.
“Saya yang tanya duluan loh, ini dengan Ilham atau bukan?” Ayesha terdengar tidak suka dengan jawaban Ilham yang malah balik bertanya padanya.
“Ya Mbaknya siapa dulu,” ucap Ilham menahan senyum.
“Aku Ayesha, ini Ilham atau bukan?” Ayesha mengalah juga pada akhirnya.
“Oh, iya ini aku.”
Ilham mendengar Ayesha berdecak. Ia tahu persis seperti apa ekspresinya sekarang.
“Kenapa gak langsung bilang aja, sih.” Ayesha terdengar menggerutu kecil tapi masih bisa terdengar oleh Ilham.
“Ada apa?”
“Aku ingin mengembalikan uangmu,” Ayesha menyampaikan niatnya menghubungi Ilham.
“Ah ... itu, kamu tidak perlu mengembalikannya,” ucap Ilham tidak sepenuhnya jujur.
“Aku tidak tenang kalau punya hutang.”
“Lagi pula itu tidak seberapa, aku sudah mengikhlaskannya. Tidak papa,” ucap Ilham lagi, berlainan dengan hatinya yang ingin sekali bertemu dengan perempuan itu.
“Tetap saja, aku tidak enak. Meskipun tidak seberapa, tetap saja hutang, apa besok kita bisa bertemu?” Ayesha bertanya agak sangsi.
Ilham tersenyum. Memang ini yang ia tunggu, percakapan tadi hanya alasannya saja. Sebenarnya memang uang itu tidak perlu dikembalikan, alasan ia memberinya kartu nama adalah untuk ini, dan ia ingin punya alasan untuk bertemu dengannya lagi.
“Baiklah kalau begitu maumu, kita bertemu di mana?”
“Di Red Cafe, sehabis Ashar bagaimana?” Ayesha mengusulkan.
“Sepertinya tidak bisa, aku belum selesai bekerja. Bagaimana kalau pas makan siang saja? Jarak kafenya tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja, sepertinya kita juga tidak akan berlama-lama, jadi tidak masalah, kan?” Kali ini Ilham yang mengusulkan. Ia hanya perlu berjalan kaki dari kantornya untuk bisa sampai di kafe tersebut.
“Ah, begitu, kebetulan tempatku bekerja juga tidak terlalu jauh. Baiklah, kita bertemu di sana besok.” Ayesha menyetujui usulan Ilham. Tak dipungkiri kalau hatinya merasa senang karena akan bertemu dengannya.
“Oke,” jawab Ilham. Lalu keduanya terdiam.
“Uhm, kalau begitu sampai bertemu besok, assalamu'alaikum.” Ayesha menutupnya terlebih dahulu.
“Wa'alaikumussalam warahmatulloh,” jawab Ilham lalu sambungan terputus.
Ilham tak bisa berhenti tersenyum. Ia tak sabar menunggu esok tiba. Namun kemudian ia merasa tidak tenang, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak, ia teringat pada ibunya yang sedang sakit di kampung. Akan lebih baik jika sang ibu mau diajak tinggal bersama di Jakarta bersamanya, jadi ia bisa mengurus sang ibu tanpa rasa khawatir, ditambah Syifa—adiknya, sekarang sudah kuliah, jadi jarang menemani ibunya.
Ilham menepis semua pikiran buruk di kepalanya. “Ah, aku belum salat Isya,” ucapnya kemudian pergi membersihkan diri.
Usai salat dan bertilawah ia berbaring di ranjang dan berniat menghubungi Syifa. Saat mengambil ponsel di atas nakas, tak sengaja tangannya menyenggol bingkai foto dirinya bersama ibu dan adiknya hingga jatuh dan retak. Ilham beristigfar karena perasaannya semakin tak menentu.
Ilham menaruh kembali bingkai foto yang sudah retak. Kemudian ponselnya berdering.
“Assalamu'alaikum, Fa?” ucap Ilham setelah mengangkat teleponnya.
“Wa'alaikumussalam,” terdengar jawaban Syifa dari seberang.
“Ada apa, Fa? Kamu baik-baik aja, kan? Kondisi Mama bagaimana?” Ilham bertanya senormal mungkin, walau kecemasan itu terus menggerayapi dadanya.
“Syifa baik-baik aja Bang, Syifa lagi di rumah sakit. Mama drop lagi, kata dokter keadaannya parah dan harus dirawat. Mama bilang pengen ketemu Abang,” suara Syifa parau. Lalu hening sejenak. “Syifa takut, Bang ....”
Ilham mengusap wajahnya. “Kamu jangan takut, terus berdoa buat Mama, temenin Mama ya, Abang pulang sekarang.”
“Iya Bang, hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam.”
Malam itu juga Ilham bergegas berangkat ke kampung halamannya. Dengan perasaan tak menentu yang sangat tak mengenakkan.
Ya Allah, beri aku waktu sebentar saja. Untuk melihatnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, Ilham akhirnya tiba di rumah sakit, ia melihat Syifa duduk di kursi tunggu sendiri. Ia pun menghampiri sang adik, “Fa.”
Begitu melihat Ilham, Syifa pun langsung memeluknya. Ilham mengusap kepalanya lembut. “Mama gimana?”
Syifa melepaskan pelukannya. “Mama sedang tidur,” ucapnya parau.
“Udah, jangan nangis terus. Mama pasti sembuh.” Ilham mencoba menenangkan adiknya, walau ia sendiri tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.
Syifa mengangguk lalu Ilham masuk ke kamar rawat ibunya. Ia duduk di kursi yang disediakan di kamar tersebut—tepat di samping sang ibu, ditatapnya wanita paruh baya yang tampak lemah itu, kemudian ia genggam tangannya.
“Ma, Ilham datang,” ucapnya dengan suara bergetar. Dia beberapa kali berdeham, berusaha untuk tidak menangis.
Ilham kemudian bangkit, menemui Syifa di luar. “Abang pinjam Quran kamu,” ucapnya.
Syifa membuka tasnya, memberikan Quran yang selalu ia bawa pada abangnya. Ilham kembali masuk dan duduk di samping ibunya. Lalu ia bacakan ayat suci itu dengan suara pelan.
Ia selalu merasa bersalah karena jarang berada di samping ibunya, jarang merawatnya. Melihat kondisi ibunya saat ini membuat hatinya hancur, juga karena hal yang ia lihat sebelumnya. Ilham terisak, ia tak bisa menahan tangisnya saat membaca Al Quran di tangannya. Syifa menatapnya dari dekat pintu. Melihat abangnya terisak seperti itu, ia tak bisa menahan tangis sebab ia bisa menebak apa yang akan terjadi.
“Ilham ....” Suara Lastri begitu lemah saat memanggilnya.
Ilham segera menyudahi bacaannya dan berhenti menangis. Syifa yang mendengarnya pun segera mendekat.
“Iya Ma, ini Ilham ....” Ilham berusaha mati-matian untuk tidak menangis di depan ibunya.
“Mama senang bisa melihatmu,” ucap Lastri dengan senyum di wajah pucatnya.
Ilham tersenyum sebaik mungkin. “Ilham juga Ma,” jeda sebentar. “Maafin Ilham, Ma ....” Air matanya jatuh tanpa bisa ia hentikan.
“Jangan menangis, Mama baik-baik saja,” Lastri memandang Syifa. “Jaga adikmu baik-baik, ya.”
“Kamu juga Fa, yang nurut sama abangmu,” ucapnya lagi. Syifa menangis tertahan dengan isakan yang terasa menyakitkan.
“Jangan lupa lima waktunya, jangan lupa baca Qurannya. Jadi anak yang saleh dan salehah. Mama tidak bisa menemani kalian lebih lama, Mama minta maaf. Mama sayang kalian,” ucap Lastri dengan susah payah. Kemudian napasnya seperti tersenggal, Ilham yang menyadari itu pun segera menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat.
Syifa menggelengkan kepalanya, ia berlari memanggil dokter dengan isak tangis.
“Dokter, selamatkan Mama saya Dok ....” Syifa memohon ketika mereka sudah sampai di ruangan. Namun dokter itu hanya bisa menghela napas pelan dan menyatakan waktu kematian ibu mereka.
Syifa luruh ke lantai sambil terisak. Ilham memeluknya, menenangkannya sementara ia juga terguncang.
“Bang ... Mama, Bang ....” Syifa masih menangis dengan isakan yang membuat Ilham serasa hancur.
Ilham mengusap kepala adiknya. Ia tahu betul, Syifa adalah orang yang paling dekat dengan ibunya. Seumur hidupnya, Syifa hanya bersama sang ibu. Ibu sekaligus ayah baginya. Rasa sakit yang adiknya rasakan atas kehilangan ini mungkin jauh lebih besar darinya.
Pagi harinya, Lastri dikuburkan. Alfi dan Afanin—istrinya, juga datang ke pemakaman. Syifa sudah tak menangis lagi, namun ia belum bisa tersenyum. Ia terlihat sangat murung dan sedih.
Usai pemakaman, Ilham pergi bersama Alfi sementara Syifa bersama Afanin.
Alfi memegang bahu sahabatnya, memberinya sedikit kekuatan. Ia sangat tahu kesedihan yang sedang dialami sahabatnya lebih dari siapa pun.
“Sepertinya gue ngerti kenapa dulu lo membenci Tuhan, rasanya seperti tidak adil, begitu, kan?” ucap Ilham lirih, memandang kosong ke depan.
“Hm,” jawab Alfi yang juga memandang kosong ke depan. Teringat akan masa lalunya. “Tapi, kematian pasti datang pada setiap makhluk hidup. Kita tidak bisa menyangkalnya.”
Ilham tersenyum tipis. “Semua akan kembali pada-Nya karena kita adalah milik-Nya, bahkan diri kita sendiri pun bukan milik kita, tapi kenapa kita harus merasa kehilangan? Gue nggak ngerti,”
Alfi menoleh pada Ilham. “Lo aja nggak ngerti, apalagi gue,” celetuknya membuat Ilham sedikit tersenyum.
Alfi ikut tersenyum. “Mungkin karena kita terlalu sombong dan merasa kalau semua yang kita miliki benar-benar milik kita, kita terlalu mencintainya hingga lupa kalau semuanya hanya titipan Tuhan.” Alfi mengembuskan napasnya perlahan.
Ilham menyipitkan mata menatap sahabatnya.
“Kenapa?” tanya Alfi.
“Sepertinya lo udah dewasa sekarang,” celetuk Ilham.
Alfi mendengkus tak percaya dan menonjok lengan sahabatnya. Ilham tertawa pelan, begitu pula dengan Alfi.
“Aahh, rasanya udah lama banget nggak ngobrol kayak gini,” ucap Alfi dengan helaan napas panjang.
Ilham tersenyum. “Sepertinya begitu,” ucapnya menyetujui. Ia kemudian menatap langit. Teringat akan penglihatan yang baru-baru ini ia lihat.
Semuanya akan kembali pada-Nya, dia pun, aku pun, semua tanpa kecuali. Tuhan, tidak bisakah aku mengubah takdir?