Ayesha berbaring di atas kasur sambil mengamati kartu nama yang diberikan Ilham siang tadi. Mengingat pertemuan singkat dengan pria itu, tak ayal menerbitkan senyuman di wajahnya.Ingatannya kembali berkelana saat pertama kali bertemu dengan Ilham dulu. Tidak ada yang spesial memang, tapi ia tidak akan pernah lupa dengan sikap dingin dan ketusnya waktu itu.
Saat itu, ia karyawan baru di HM Architect, tempat mereka bekerja dulu. Ia disuruh menghadap ke ruangan direktur tapi tidak tahu harus pergi ke mana, lalu ia bertemu Ilham. Bertanya arah padanya dan Ilham pun menuntunnya. Ilham tidak banyak bicara saat itu, ia sibuk melihat-lihat lembaran kertas di tangannya. Ayesha tak sengaja melihat desain bangunan yang ada di sana dan ia berdecak kagum.
“Apa Bapak yang membuatnya? Itu keren sekali!”
Ilham mengerutkan kening, meliriknya sebentar. 'Bapak?' pikirnya dalam hati.
“Bukan urusanmu, mengintip itu tidak baik,” ucapnya ketus.
“Siapa yang ngintip, orang nggak sengaja lihat.” Ayesha mengelak. Kesan pertamanya pada Ilham adalah 'mentang-mentang ganteng, songong.'
“Ruangannya di sebelah sana,” ucap Ilham lagi lalu pergi ke arah berlawanan.
Ayesha melongo tak percaya, bahkan ia tak sempat berterima kasih. Tapi ia dipertemukan lagi dengan pria itu karena ternyata mereka berada dalam satu tim. Mereka sering kali terlibat dalam satu proyek dengan Ilham sebagai ketua tim. Dan saat itulah semuanya dimulai, setiap pertemuan dengannya, selalu ada hal yang ia pelajari. Ia kagumi.
Suara pintu kamar yang terbuka menarik Ayesha dari lamunan, ia pun menoleh dan melihat sosok wanita paruh baya yang merawatnya selama ini. Ibunya, yang kini tengah memasang wajah masam. Ayesha menghela napas malas. Ia tahu persis apa yang akan dibicarakan ibunya.
“Kamu tidak menemuinya, kan?” tuduh sang ibu yang memang benar adanya. Ayesha bergumam membenarkan.
Gliran ibunya yang menghela napas. “Padahal Ibu sudah mengantarmu ke sana. Kamu tahu, dia menunggumu. Tidak baik membatalkan janji begitu saja tanpa memberitahunya.”
Ayesha bangun dan menatap ibunya. “Dari awal aku tidak pernah menyetujui pertemuan itu.”
“Esa .... Bisa tidak, sekali saja kamu melakukannya demi Ibu?” Ibunya memohon meski ia sendiri tahu akan percuma.
“Bu, aku sudah mengatakannya berkali-kali bahkan aku sudah bosan. Aku tidak akan menikah. Aku sudah bahagia hidup seperti ini.” Ayesha menjelaskan, mencoba untuk membuat ibunya mengerti. Kalau ia tidak butuh pendamping hidup.
“Tapi Esa, bagaimana bisa kamu hidup sendiri terus? Kamu pasti butuh seseorang untuk mendampingi hidupmu.”
Ayesha menatap kesal pada ibunya. “Kalau Ibu tahu, kenapa Ibu melakukannya? Sudahlah, aku tidak mau membahas ini lagi.”
“Ini semua demi kebaikanmu, Ayah dan Ibu mencemaskanmu.” Ibunya masih kekeh pada pendiriannya.
“Kenapa Ibu berkata seolah tak pernah terjadi apa pun? Apa Ibu tidak mengerti perasaanku? Semuanya tidak akan berjalan baik hanya dengan aku menikah,” ucap Ayesha tegas.
Raut sedih tampak di wajah perempuan paruh baya itu. Namun ia sadar, ini semua karena kesalahannya di masa lalu.
“Mbak Eca!”
Ayesha menoleh pada gadis kecil yang memanggilnya. Berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar. Seulas senyum ia tampakkan.
“Iya Caca, kenapa? Sini.”
Salsa, adiknya yang akrab dipanggil Caca berusia baru 9 tahun. Gadis yang amat sangat Ayesha sayangi.
Salsa menghampirinya. “Eh, ada Ibu juga,” ucapnya yang seolah baru menyadari kalau ibunya juga ada di sana.
Ibunya tersenyum, “ada perlu apa sama Mbak, hm?”
“Caca bosen, Bu,” ucapnya sambil cemberut. Lalu kembali menoleh pada Ayesha. “Nanti sore jalan-jalan yuk, Mbak!” ajaknya penuh semangat.
“Sore? Emm ... kalau sore Minggu, Mbak kan ada kajian, gimana dong? Mending kamu ikut, gimana?” tawar Ayesha, bukan ide yang buruk juga untuk mengajaknya, agar dewasa nanti ia bisa terbiasa.
“Oh iya! Hmm ....” Salsa nampak berpikir sambil mengerucutkan bibirnya. “Nggak ah, ntar Caca malah ganggu lagi,” putusnya kemudian.
Ayesha tersenyum kecil, “Ya udah, oh iya hafalan surah pendeknya sudah nambah belum?” Ayesha mengusap pipi tembem adiknya.
“Udah doong!” Salsa berseru bangga.
Ayesha tersenyum mengacak rambutnya pelan. “Anak siapa sih, pinter deh! Nanti setornya abis Mbak pulang dari kajian ya, selesai sholat magrib seperti biasa. Oke?”
“Siapp!”
Ayesha tersenyum. Lalu ia menatap ibunya yang juga tengah menatap mereka. Memberitahu sang ibu bahwa ia baik-baik saja dengan keadaannya yang sekarang.
Setiap satu minggu sekali, Ayesha memang rutin ikut kajian di sebuah mesjid yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Pesertanya tidak terlalu banyak, hanya beberapa wanita sebayanya. Mungkin lebih bisa disebut mentoring, halaqah atau liqo'.
“Mbak Ina!” Ayesha berseru ketika melihat seorang wanita berjilbab toska berjalan di depannya menuju mesjid.
Inayah tersenyum menyapa. “Assalamu'alaikum, Esa.”
“Wa'alaikumussalam warahmatullah.” Ayesha cengengesan. Ia hanya belum terbiasa.
“Materi hari ini apa Mbak? Aku nggak sabar dapet ilmu lagi dari Mbak, hehe.”
Inayah adalah pementor di acara kajian ini, ia adalah perempuan yang sangat Ayesha kagumi. Berkatnya juga, Ayesha bisa sampai seperti ini. Ia berperan banyak dalam perubahan Ayesha.
“Aku suka dengan sifatmu yang semangat ini,” Inayah tersenyum tipis. “Lanjut yang minggu kemarin, masih ada yang belum dibahas,” ucap Inayah tenang seperti biasa.
Ayesha mengangguk paham. Itu artinya, minggu ini juga akan membahas tentang sepuluh dosa besar. Lalu mereka masuk bersama. Di dalam sudah datang peserta yang lainnya. Duduk melingkar dan terlihat asyik bercengkerama.
Saat Ayesha masuk, semuanya mulai berhenti mengobrol karena tahu kajian akan segera dimulai. Ayesha memulainya seperti biasa, selalu diawali dengan membaca Al Quran dari peserta, bergilir tiap minggunya.
“Sebelum ke materi, hari ini kita kedatangan teman baru.” Inayah melirik seorang wanita berjilbab merah muda paling ujung, nampak lebih muda dari yang lainnya. “Ayo, perkenalkan diri dulu.”
Gadis itu mengangguk, terlihat sedikit canggung. “Nama saya Firda Afifah, saya kuliah semester dua. Saya dengar kajian ini dari Mbak Ana, saya baru berhijab dan ingin belajar tentang Islam lebih dalam, mohon bimbingan Kakak semuanya.”
Ayesha tersenyum tipis, melihat gadis itu membuatnya teringat pada dirinya dulu saat pertama kali ikut kajian diajak oleh Inayah, waktu itu ia juga masih belajar memakai hijab. Ia merasa tidak percaya diri, dan malu, tapi lama-lama jadi terbiasa.
“Jangan merasa canggung ya, di sini kita semua sama, sama-sama belajar, sama-sama mencari ilmu, bila ada yang salah saling menegur, bila ada yang khilaf saling mengingatkan, di sini kita berbagi, menerima dan memberi, menjalin persaudaraan yang didasarkan atas nama Allah.” Ayesha menjelaskan yang disambut anggukan dari Firda.
“Iya, terima kasih Mbak,” ucap Firda.
“Sudah kenal semuanya?” tanya Ayesha memastikan, kalau-kalau ada yang belum saling kenal. Saling mengenal adalah salah satu syarat agar bisa mempererat ukhuwah.
“Iya, tadi sempat kenalan sama yang lain, emm ....” Firda melirik Ayesha ragu, ia belum berkenalan dengan Ayesha yang baru datang bersama Inayah.
Merasa diperhatikan, Ayesha pun tersadar. “Oh, hai. Namaku Ayesha, orang-orang memanggilku Esa. Salam ukhuwah ya, Firda.” Ayesha menyambutnya dengan ramah.
“Salam juga, Kak,” Firda balas tersenyum.
Setelah memastikan semuanya siap, Inayah mulai membahas materi yang belum sempat selesai di minggu kemarin. Inayah menyadari Ayesha yang lebih banyak diam saat pemaparan materi tentang sepuluh dosa besar ini. Sejujurnya, ia merasa janggal karena biasanya Ayesha selalu aktif bertanya macam-macam. Tetapi, kali ini Ayesha seperti tidak fokus dan wajahnya selalu terlihat murung.
Inayah penasaran apa mungkin hal ini berkaitan dengan masa lalu Ayesha. Namun ia pun tak ingin ikut campur lebih jauh. Ia hanya tahu jika Ayesha memiliki masa lalu yang tidak ingin siapa pun tahu. Saat ia bertanya dulu pun, Ayesha selalu bilang kalau masa lalunya bukan sesuatu yang pantas untuk diceritakan.
Setelah kajian selesai, mereka saling berpamitan. Sementara Ayesha dan Inayah selalu jadi orang yang terakhir berada di sana.
“Mbak,” Ayesha memanggil Inayah ragu.
“Kenapa Sa?”
“Apa menurut Mbak, orang yang melakukan dosa besar bisa diampuni?” Ayesha bertanya sedikit ragu-ragu.
Inayah menatapnya sebentar lalu ia tersenyum kemudian membacakan Quran surah Az Zumar ayat 53. “Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'.”
Kemudian ia lanjut menjelaskan, “Sifat-Nya adalah mengampuni dan merahmati. Di mana keduanya adalah sifat yang selalu pada zat-Nya, pengaruhnya senantiasa mengalir di seluruh alam semesta dan memenuhinya. Kedua tangan-Nya melimpahkan kebaikan di malam dan di siang hari, dan nikmatnya diturunkan pada hamba-hambaNya baik di waktu terang-terangan maupun waktu tersembunyi,” jeda sebentar.
“Dia lebih suka memberi daripada menghalangi, rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya. Namun untuk memperoleh ampunan dan rahmat-Nya, ada sebab yang jika tidak didatangi hamba, maka sama saja ia menutup pintu rahmat dan ampunan bagi dirinya, di mana sebab yang paling besar dan agungnya ialah kembali kepada Allah dengan taubat nasuha, berdoa, bertadharru’ dan beribadah kepada-Nya.”
Ayesha memandang Inayah terkagum-kagum, bagaimana bisa ada perempuan sesempurna dia, pikirnya. “Makasih banyak ya Mbak, Mbak udah banyak bantu Esa. Sampai sejauh ini,” Ayesha merasa tenang sekaligus sedih. Juga haru karena Allah mengirimkan sahabat yang bisa membantunya dekat dengan-Nya.
Inayah merangkul Ayesha. “Itulah gunanya persahabatan dalam Islam, carilah sahabat yang bisa mengingatkanmu pada Allah, jika kau menemukannya, genggam tangannya erat-erat. Semoga, kita sahabat sampai ke surga, ya.” Inayah tersenyum begitu tulus.
Ayesha mengangguk dan mengaminkan. “Aku nggak tahu lagi bagaimana harus berterima kasih sama Mbak,”
“Jangan begitu, itu kan sudah kewajiban kita sesama muslim, udah yuk pulang, udah sore banget, nanti kemagriban lagi. Nggak bawa mobil, kan? Mau bareng?” tawar Inayah, karena kebetulan arah mereka sama.
“Iya Mbak, eh nggak maksudnya. Nggak usah Mbak, aku mau mampir dulu ke supermarket. Mbak duluan aja,” tolaknya. Selain tidak enak, Ayesha memang harus mampir ke supermarket terlebih dulu.
“Ya udah, sampai ketemu besok di butik, ya. Assalamualaikum,”
“Wa'alaikumussalam warahmatullah.”
Setelah saling rangkul, mereka berpisah di depan jalan. Ayesha pergi ke supermarket. Ada beberapa barang yang harus ia beli. Setelah selesai, ia pergi untuk mengantre di kasir. Melihat jam, masih ada empat puluh lima menit hingga waktu Magrib. Ia harus cepat-cepat kalau tidak mau Magrib di perjalanan.
“Terima kasih Mbak,” Ayesha berjalan cepat-cepat dan tak sengaja menabrak seseorang. “Maaf Mas, tidak sengaja,” ucapnya saat tahu kalau yang ia tabrak adalah seorang laki-laki, namun ia tak melihat wajahnya. Ia hanya menunduk dan berniat langsung pergi.
“Tunggu,” ucap pria tadi.
Ayesha berhenti dan menoleh, saat melihat wajah pria yang ia tabrak tadi, ia terkejut bukan main, sama halnya seperti laki-laki tersebut.
“Ayesha ...?” ucapnya seakan tak percaya dengan sosok yang ia lihat di hadapannya.
Ayesha terpaku, tak mampu berucap. Dari sejuta kemungkinan, ia tak pernah sekali pun memikirkan akan bertemu lagi dengannya. Sekali pun tidak pernah, ia pikir ia sudah pergi sejauh mungkin. Tapi, kenapa ia harus bertemu lagi dengannya?
Dia ... pria di masa lalunya.
Apa maksud Tuhan kembali mempertemukan mereka?
***
Penjelasan kata:
Halaqah secara bahasa berarti lingkaran, sementara liqo' berarti pertemuan. Secara istilah halaqah berarti pengajian di mana dalam pengajian itu orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar. Sementara liqo' lebih umum karena isinya tidak hanya kajian ilmiah tapi juga rapat, pertemuan musyawarah dan sebagainya.
Tadharru' ialah sebuah istilah yang berarti ketundukan diri yang sangat dan rasa malu yang disebabkan oleh rasa putus asa dan ia diekspresikan ketika seseorang mencapai keadaan kritis.