Entah sudah berapa lama Ayesha menatap nomor Ilham, menimang untuk menghubunginya atau tidak. Ia ingin tahu alasan Ilham tidak datang dan menepati janjinya, karena setahunya Ilham bukan orang yang akan membatalkan janji begitu saja.“Ah, sudahlah!” Ayesha menaruh ponselnya sembarangan di kasur lalu merebahkan diri. Tiba-tiba ia teringat saat di supermarket, saat ia bertemu lagi dengan orang itu. Seseorang yang menjadi bagian dari masa lalunya.
“Ayesha, kau kah ...?”
Pria itu maju satu langkah untuk mendekat, tetapi Ayesha mundur satu langkah untuk menjauh. Ia belum bisa berkata-kata, pikirannya terlalu sibuk memikirkan kenapa ia bisa bertemu lagi dengan pria itu, di sini.
“Aku sudah mencarimu ke mana-mana, dan ....”
“Radit!”
Pria itu menoleh ketika seorang wanita memanggilnya, dan Ayesha menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Ia pun terus berlari. Ia ingin menjauh sebisanya. Bertemu lagi dengan pria itu bukanlah sesuatu yang ia harapkan.
Pikiran Ayesha berkelana ke masa itu—masa yang sangat ingin ia lupakan, mengingat hal itu selalu menyesakkan baginya meski waktu sudah lama berlalu. Ia bangkit, berjalan menuju kamar Salsa. Melihat Salsa yang sudah tertidur lelap, ia pun tersenyum. Kemudian ikut berbaring di sampingnya. Membelai rambutnya dan mengecup kepalanya, menatap gadis kecil itu dengan tatapan sendu.
Ayesha memeluknya, menenggelamkan kepala pada leher gadis mungil itu. “Maaf ...,” lirihnya, lalu ia menangis.
***
“Terima kasih Mbak, semoga berkah. Jangan lupa datang lagi, ya!” Ayesha sedikit membungkuk, menghormati para pelanggan.
“Esa,” Inayah memanggilnya.
Ayesha berbalik menghadap Inayah. “Ya, Bu?”
“Ke ruangan saya sebentar,” ucap Inayah dan Ayesha mengikutinya masuk.
“Ada apa, Bu?” tanya Ayesha.
Inayah menghela napas. “Kalau berdua panggil Mbak saja, rasanya aku sudah sangat tua saat kamu memanggilku begitu.”
Ayesha menahan senyum. “Kan memang betul,” candanya.
Inayah cemberut. Kemudian mereka terkekeh.
“Ini kan tempat kerja Bu, masa saya panggil Mbak sama Bos saya.”
“Ya ya, terserah kamu saja.” Inayah menyerah. “Aku ingin minta laporan penjualan selama tiga bulan kemarin, aku ingin semuanya tersusun rapi per bulan dan buat bagan perbandingannya.”
“Siap, Bos!”
Inayah tersenyum. “Istirahatlah, sebentar lagi jam makan siang. Mau makan di mana?”
Belum sempat Ayesha menjawab, ponselnya berdering. Matanya terbelalak melihat siapa yang menghubunginya.
“Angkat saja dulu,” ucap Inayah kemudian Ayesha pamit ke luar ruangan.
“Assalamu'alaikum,” ucap Ayesha setelah mengangkatnya.
“Wa'alaikumussalam,” jawab dari seberang. “Ini aku, Ilham.”
“Ya, aku tahu,” jawab Ayesha agak jutek. Pasalnya, ia masih kesal soal Ilham yang membatalkan janjinya begitu saja.
“Kamu marah?” tanya Ilham karena mendengar nada tak bersahabat dari Ayesha.
“Tidak,” Ayesha mengelak. Dia tidak marah, hanya sedikit kesal.
“Tapi kedengarannya begitu.”
Ayesha menghela napas. “Aku hanya tidak habis pikir, bisa-bisanya kamu membatalkan janji begitu saja tanpa ada kabar, padahal aku menunggumu di sana. Bahkan, kamu mengabaikan semua panggilanku,” Ayesha berhenti sejenak. “Oke, ada yang ingin Anda jelaskan?”
Ayesha mencoba menenangkan dirinya. Dia memang kesal, tapi selain itu ia juga khawatir karena Ilham tak seperti biasanya. Jika dia membatalkan janji begitu saja, pastilah ada sesuatu yang sangat mendesak yang tidak bisa ia tinggalkan.
“Maaf aku terlalu sibuk, jadi baru sempat menghubungimu sekarang,”
“Ah, ya, kamu pasti sangat sibuk.”
Ilham menghela napas dan terdengar kesal. “Kalau begitu kita bertemu sekarang saja, di Red Cafe. Aku menunggumu di sana. Assalamu'alaikum.” Lalu sambungan terputus.
“H-halo?” Ayesha melihat ponselnya. “Wah! Dia benar-benar seenaknya. Kenapa jadi dia yang marah? Ck. Awas saja ....”
“Lho, kok masih di sini?”
Ayesha terperanjat. “Oh, iya Bu, baru selesai bicara di telepon. Ibu mau makan di luar?”
“Iya, aku harus bertemu seseorang,” jawab Inayah sambil tersenyum cerah.
Ayesha mengangguk. “Teman?”
“Ya, bisa dibilang begitu. Kamu sendiri bagaimana?”
“Oh aku juga, pria yang waktu itu menghubungiku, katanya kami bisa bertemu di Red Cafe sekarang.” Ayesha menjelaskan sedikit malas sebenarnya, mengingat sikap Ilham tadi.
“Benarkah? Aku juga bertemu di sana, kalau begitu kita pergi bersama saja. Lagi pula aku tidak enak datang sendirian, kamu temani aku saja kalau pria itu belum datang atau kalau sudah selesai urusanmu dengannya, ya?” Inayah sedikit memohon.
“Apa aku tidak mengganggu?” tanya Ayesha ragu, pasalnya ia tidak mengenal siapa teman Inayah itu. Nanti malah terjadi awkward momen, lagi.
“Tidak, cukup temani aku saja. Aku juga tidak akan lama, aku disuruh Ayah mengambil berkas darinya. Katanya sangat penting jadi ia memintaku mengambilnya sekarang.”
Ayesha mengangguk. “Baiklah, bagaimana keadaan Pak Rayan sekarang?” tanyanya, mengingat kalau ayah sahabatnya sedang tidak sehat.
“Yah, begitulah. Ayahku sudah semakin tua, dia cepat lelah, sepertinya harus segera pensiun.”
“Makanya, Mbak harus cepet nikah, biar ada yang menggantikan beliau.”
“Kamu ini, ya.” Kemudian mereka tertawa.
Ilham yang sudah berada di kafe, tak hentinya menghela napas dan menggerutu. Menyesal karena membuat keputusan bertemu dengan Ayesha saat itu juga, padahal ia sendiri sudah memiliki janji.
“Baiklah, aku rasa tidak akan lama, aku akan menyuruhnya menunggu sebentar baru menemuinya setelah aku memberikan berkas ini. Ya, begitu saja,” ucapnya berbicara sendiri.
Ayesha dan Inayah sampai di Red Cafe, sama-sama mencari orang yang akan mereka temui.
“Oh, itu temanku di sana,” ucap Inayah membuat Ayesha mengikuti arah pandangnya.
Ayesha terpaku, terkejut bukan main. “Ilham?”
Mendengar itu, Inayah beralih menatapnya. “Kamu mengenalnya?”
“O-oh, itu .... Dia, orang yang akan aku temui.” Ayesha mencoba menjelaskan dengan sedikit terbata.
Inayah sama terkejutnya. “Sungguh? Jadi orang yang membantumu saat itu Ilham? Dan kamu berhutang padanya?” Inayah hampir tak percaya lalu tertawa pelan.
Ayesha mengangguk kaku, perasaannya sudah tak menentu. Apa ia kembali saja dan menemuinya lain kali? Tapi nanti Inayah akan menganggapnya aneh dan ....
“Ayo,” ucap Inayah berjalan terlebih dahulu menghampiri Ilham. Ayesha menghela napas sejenak, mau tidak mau ia pun mengikutinya di belakang.
Ilham terdiam menatap kedatangan Inayah dan Ayesha. Melirik keduanya bergantian.
“Sudah lama menunggu?” Inayah bertanya pada Ilham yang masih menetralisir keterkejutannya.
“Tidak juga,” jawab Ilham sebiasa mungkin.
“Kenapa berdiri saja? Ayo duduk.” Inayah menegur Ayesha yang malah mematung.
“O-oh, iya Mbak.” Ayesha duduk di samping Inayah. Melirik ke arah Ilham sedikit-sedikit.
“Kalian datang bersama?” tanya Ilham sangsi.
Inayah tersenyum mengiakan. “Esa bilang kalau ia akan bertemu dengan pria yang membantunya di sini, kebetulan aku ada janji denganmu jadi aku mengajaknya pergi bersama. Aku tidak tahu kalau pria itu ternyata kamu,” Inayah tertawa pelan, merasa lucu dengan kebetulan ini.
“Aku juga tidak tahu kalau teman Mbak Ina itu kamu,” Ayesha menambahkan, takut-takut kalau Ilham salah paham.
“Lucu bukan? Mumpung lagi bareng-bareng, kenapa tidak sekalian makan siang bersama saja?”
Ilham menjawab boleh sementara Ayesha menjawab tidak.
“Kenapa, Sa?” tanya Inayah merasa heran dengan sikap Ayesha yang tiba-tiba jadi pendiam.
“Aku lupa ada yang belum aku kerjakan, Mbak,” Ayesha membuat alasan. Ia hanya merasa sedikit tidak nyaman.
“Kamu ini, sudah jangan memikirkan pekerjaan, lagi pula kamu sedang bersama bosmu,” Inayah mengecilkan suaranya sedikit berbisik.
“Jadi, sekarang kamu bekerja di butik Inayah?” Ilham bertanya.
“Ya,” jawab Ayesha pendek. Menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya.
“Sejak kapan?” tanya Ilham lagi.
“Sejak kamu resign dan pergi ke Amerika,” jawab Ayesha tanpa mau menatap Ilham.
Inayah menatap Ilham dan Ayesha bergantian. “Kalian sudah saling kenal sebelumnya?” tanyanya ingin memastikan setelah melihat interaksi keduanya.
“Oh, ini uangmu.” Ayesha sengaja menghentikan Ilham yang akan berbicara. “Dengan begini, aku tidak punya hutang lagi padamu.” Ayesha menaruh sejumlah uang dan menyerahkannya pada Ilham.
“Sudah kubilang kamu tidak perlu mengembalikannya. Lagi pula itu tidak seberapa.” Ilham menggeser uang itu ke depan Ayesha lagi.
“Sudah kubilang aku tidak bisa menerimanya, dan bagiku itu tetap hutang yang harus aku bayar, walau tak seberapa.” Ayesha kembali menggeserkan uangnya, dan terus seperti itu. Mereka berdebat soal uang yang tak seberapa itu.
“Ay ....” Ilham nampak lelah karena Ayesha tak mau mengalah.
“Kalau kamu tidak mau menerimanya, lalu untuk apa kita bertemu sekarang?” Ayesha merasa kesal dan tak mengerti dengan pikiran Ilham.
Inayah menghela napas, ikut lelah melihat perselisihan kedua temannya. “Ilham, terima saja, agar tidak ada yang merasa terbebani.” Inayah memberi usul, dengan begitu tidak ada lagi hutang-piutang yang bisa saja memberatkan keduanya nanti.
Ilham menghela napas dan akhirnya mengambil uangnya tanpa minat dan terlihat kesal. “Keras kepala,” gumamnya sangat pelan namun Ayesha masih bisa mendengarnya dan ia mendelik sebal.
Inayah geleng-geleng kepala, “Tapi, kenapa kau membuat janji bertemu pada dua orang yang berbeda di saat yang sama?” Inayah bertanya heran. Ia sudah memiliki janji dengannya, lalu kenapa ia membuat janji baru dengan Ayesha.
Ilham berdehem, mencari alasan. “Karena aku pikir aku tidak akan membutuhkan waktu lama untuk bertemu denganmu atau dengannya, aku hanya perlu memberikan berkas yang diminta Pak Rayan, lalu bertemu Ayesha soal uang itu.”
“Ah, begitu. Tapi ternyata kita malah saling kenal,” Inayah tersenyum geli. “Oh ya, mana berkas yang Ayah minta?”
Ilham menaruh berkas itu di atas meja. “Aku rasa Pak Rayan harus segera melihatnya dan membuat keputusan secepatnya.”
Inayah mengambilnya dan mengangguk. “Baiklah, akan aku sampaikan pada Ayah.”
“Oh iya, aku turut berduka cita atas kepergian ibumu. Aku mendengarnya dari Ayah,” Inayah mengucapkannya dengan tulus.
Ilham tersenyum hambar. Sementara Ayesha sedikit terkejut mendengarnya. “Ibumu ....”
“Ya, karena itu aku tidak bisa menemuimu saat itu.”
“Kenapa kamu tidak mengatakannya?” Ayesha menunduk merasa bersalah. “Aku minta maaf,” ucapnya.
Ilham tertawa kecil. “Kenapa kamu yang meminta maaf? Memangnya salahmu apa?”
“Aku tidak tahu kamu sedang tertimpa musibah dan aku malah ....”
“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya.” Ilham melihat jam. “Aku harus kembali ke kantor,” ucapnya.
“Apa kamu sedang sibuk? Kita bahkan belum makan apa-apa,” ucap Inayah.
“Ya, begitulah. Ayahmu memberiku sangat banyak pekerjaan,” canda Ilham.
“Kalau kamu mau, aku bisa meminta ayahku mengurangi pekerjaanmu atau mungkin kamu berminat berhenti saja?” canda Inayah dan mereka tertawa.
Ayesha yang melihat keakraban mereka berdua pun ikut tersenyum. Bisa dibilang ia sedikit iri, tapi juga senang.
“Baiklah kalau begitu, aku pergi duluan, Assalamualaikum.”
Setelah berucap salam, Ilham pun pergi. Kini tinggal Inayah bersama Ayesha.
“Mau pesan sesuatu?” tanya Inayah.
Ayesha mengangguk. Setelah memilih menu, ia izin ke toilet. Sementara, Inayah menatapnya penasaran, ada banyak hal yang ingin ia ketahui.
Setelah beberapa saat, Ayesha pun kembali bersamaan dengan pesanan mereka.
“Ah, leganya.” Ayesha terlihat benar-benar lega.
“Jadi dari tadi kamu menahannya?” Inayah tak habis pikir.
“Sepertinya begitu,” Ayesha nyengir lebar.
Inayah tertawa pelan. “Kamu ini, lain kali jangan ditahan seperti itu, nggak baik.”
“Iya, Mbak,” jawab Ayesha dan mereka mulai makan.
“Emm ... boleh aku tanya sesuatu?” tanya Inayah ragu.
Ayesha mengangguk. “Tentu.”
“Apa kamu dan Ilham sudah saling mengenal sejak dulu?” Inayah bertanya sedikit ragu. “Ah, maaf, aku hanya penasaran. Kalian terlihat akrab,” Inayah tersenyum sangsi.
“Em ... tidak bisa disebut akrab juga sih, sebenarnya. Dulu kami pernah bekerja di perusahaan yang sama. Mbak tahu kan, aku dulu bekerja di HM Arcithect,” ucap Ayesha mulai menjelaskan.
Inayah mengangguk. Ayesha memang pernah bercerita kalau dulu ia bekerja di HM Architect.
“Ilham dulu juga bekerja di sana, dia seniorku,” lanjutnya.
“Apa kalian sangat dekat?”
“Tidak juga, kami berada di divisi yang berbeda, aku di bagian Konsep Desain sementara dia di divisi Arsitektur, tapi kami sering berada dalam satu tim saat mengerjakan proyek. Kami hanya mengobrol hal yang perlu dibicarakan, seperti pekerjaan. Dia tipe orang yang jarang bicara kalau tidak perlu. Sekalinya bicara padaku selain pekerjaan, kata-katanya selalu membuatku kesal.” Ayesha bercerita panjang lebar tanpa sadar.
“Ah, begitu.” Inayah tersenyum simpul. Sebenarnya, ia juga penasaran dengan panggilan Ilham untuk Ayesha yang berbeda dari orang lain. Namun, sepertinya ia terlalu ikut campur.
“Memangnya kenapa Mbak?” kini Ayesha yang bertanya, karena tak biasanya Inayah tertarik soal urusan pria.
“Oh, tidak papa, hanya penasaran saja.” Inayah terlihat kikuk. Sejujurnya, Ayesha juga penasaran bagaimana Inayah bisa kenal dengan Ilham. Tapi, memangnya kenapa dia harus tahu? Bukan urusannya, kan?
“Dulu dia orangnya bagaimana?” Inayah kembali bertanya.
“Tidak banyak bicara, jutek, ketus, kejam, acuh tak acuh, aneh, dingin dan keras kayak es batu, tapi aku akui dia itu jenius.” Ayesha mengucapkannya dalam satu tarikan napas dan hal itu membuat Inayah tertawa.
“Ternyata penilaian kita tidak jauh berbeda,” ucap Inayah setelah berhenti tertawa.
“Aku benar, dia hampir selalu memenangkan tender, dan proyek yang dia kerjakan selalu memuaskan klien.”
“Pantas saja, ayahku memberinya promosi jabatan senior arsitek tidak lama setelah dia bekerja.”
“Wah,” Ayesha berdecak kagum. “Jadi, sepulang dari Amerika, dia bekerja di Zeus?” Zeus adalah perusahaan milik ayah Inayah—tempat Ilham bekerja sekarang.
“Ya, dan begitulah aku mengenalnya. Sebenarnya dia orang yang sangat baik dan peduli. Benar, kan? Ayahku sangat menyukainya.” Inayah mengucapkannya sambil tersenyum.
Ayesha menatap Inayah intens.
“Kenapa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Inayah jadi salah tingkah karena Ayesha menatapnya sedemikian rupa.
“Aku jadi curiga ....” Ayesha menyipitkan matanya.
“Apa?” tanya Inayah kikuk.
“Sepertinya aku mencium bau-bau aroma asmara di sini,” Ayesha mengerling jahil.
“A-apa maksudmu? Kamu ini.”
Ayesha menatap Inayah jenaka. “Mbak suka ya, sama Ilham?”
“Apa? Tidak! Jangan asal berspekulasi kamu tuh,” elak Inayah kikuk dan Ayesha tertawa.
“Lihat tuh, wajahnya udah kayak kepiting rebus.” Ayesha kembali tertawa melihat perubahan mimik Inayah.
“Esa! Cepat habiskan makanmu dan kembali ke butik.” Inayah langsung berdiri dan pergi lebih dahulu.
“Siap, Bos!” Ayesha masih betah menertawainya.
Setelah Inayah pergi, barulah Ayesha terdiam. Kemudian tersenyum untuk dirinya sendiri. Mengasihani dirinya sendiri. Namun, jika benar Inayah memiliki rasa untuk Ilham, maka ia bersyukur dan ikut berbahagia untuknya.
Setelah menghabiskan orange juice-nya, ia pun bangkit dan berniat membayar tagihannya. Namun ternyata sudah dibayar, sepertinya Inayah membayarnya sebelum pergi.
Ayesha berjalan sambil melamun, bercerita tentang Ilham di masa lalu, membuatnya kembali terkenang masa-masa saat ia bekerja di HM, membuatnya rindu. Sebenarnya, berat saat ia memutuskan untuk resign. Namun, memang harus ada yang ia korbankan untuk mendapatkan yang lebih baik.
Saat keluar dari kafe, ia berpapasan dengan seseorang dan ia terpaku melihat sosok di hadapannya.
“Radit,” gumamnya pelan. Menatap tak percaya sosok di hadapannya.
Kenapa aku bertemu dengannya lagi, Tuhan ...?
Pria bernama Radit itu tersenyum, terlihat sangat senang. “Esa? Wah, aku nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi.”
“Maaf, aku harus segera pergi.”
Radit segera menahan Ayesha yang hendak melewatinya. “Aku ingin bicara denganmu, aku mohon. Sebentar saja.” Radit menatapnya penuh permohonan.
Ayesha terdiam, sejenak menatapnya untuk mempertimbangkan. Hingga akhirnya memutuskan untuk memenuhi permohonan pria itu.
Kini mereka duduk di dalam kafe. Saling diam.
“Aku harus bekerja, aku tidak punya banyak waktu,” ucap Ayesha tanpa repot-repot menatap Radit. Ia tidak ingin berlama-lama dengannya.
“Bagaimana kabarmu?” Radit mulai berbicara.
“Sangat baik,” jawab Ayesha singkat tanpa ada minat bertanya balik.
Radit tersenyum. “Kamu sudah berubah, aku hampir tidak mengenalimu. Kamu terlihat, jauh lebih cantik.”
Ayesha diam. Ia merasa tak perlu menceritakan bagaimana ia bisa berubah. Atau merasa senang dengan pujiannya. Tidak perlu sama sekali.
“Kenapa saat di supermarket kamu pergi begitu saja? Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu.”
“Aku sedang buru-buru,” Ayesha beralasan. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Kamu berbohong,” tukas Radit.
Sontak, Ayesha menatapnya. Tidak mengherankan memang. Pria itu selalu tahu mengenai apa pun tentang dirinya. Ia tidak pernah bisa berbohong di depan pria itu.
“Kenapa mencariku? Semuanya sudah berakhir sejak saat itu. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Ayesha mempertahankan wajah dinginnya.
Radit menatapnya sendu. Delapan tahun lalu, ya, saat itu ia memang terlalu pengecut. Ia mengerti dan sangat menerima jika sekarang Ayesha begitu membencinya.
“Aku tahu,” lirihnya pelan. “Aku hanya ingin tahu kabarmu dan juga Salsa.”
Ayesha meremas jilbabnya, ia tidak tahan. Mendengar ia mengucapkan nama Salsa membuatnya marah. Ia menahan emosinya mati-matian. Ia ingin segera pergi dari hadapannya.
“Kamu tidak perlu khawatir, kami hidup bahagia.” Ayesha menegaskan kalimatnya.
“Syukurlah kalau begitu,” Radit tersenyum. “Aku sudah menikah.”
“Baguslah,” ucap Ayesha cepat, tiba-tiba dadanya begitu sesak. Dalam hati, ia memaki pria di hadapannya.
“Aku juga memiliki seorang putri berusia 3 tahun.” Seolah belum cukup, Radit kembali bercerita, tersenyum layaknya seorang ayah yang bahagia saat mengingat putri kesayangannya.
Ayesha menatapnya dengan penuh kebencian. “Sudah selesai bicaramu?” Ayesha bangkit dan hendak pergi.
Radit menahannya. Ayesha menghentakkan tangan Radit dengan kasar. “Jangan ganggu hidupku lagi, jangan temui atau muncul di hidupku lagi!” Ayesha membentaknya. Matanya sudah memerah menahan tangis.
Radit tercenung. “Sa ....”
Ayesha memejamkan matanya. Rasa sakit itu kian menjadi, perih tak tertahankan. “Kamu sudah memiliki keluarga, jalani saja kehidupanmu. Jangan ganggu aku ataupun Salsa.”
“Aku ingin bertemu dengannya,” Radit menatap Ayesha penuh permohonan.
“Tidak akan pernah, sampai kapan pun. Jangan berani muncul di hadapannya.” Setelah mengucapkan itu, Ayesha langsung melangkah pergi dengan langkah cepat.
Setelah cukup jauh, Ayesha berhenti berjalan. Kembali teringat kata-kata Radit sebelumnya.
“Aku sudah menikah.”
“Aku juga memiliki seorang putri berusia 3 tahun.”
Ayesha meremas dadanya yang terasa sesak. Bagaimana bisa laki-laki itu mengucapkannya seolah-olah ia memang pantas menceritakannya? Dengan begitu mudahnya.
Dengan mudahnya ia menjalani kehidupan baru, sementara ia harus menderita selama bertahun-tahun.
Sesuatu membasahi pipinya, Ayesha mendongak, melihat langit yang cerah. Kemudian rintik hujan mulai berjatuhan. Saat orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh, ia memilih berjongkok dan menangis.
Hujan mulai mengguyur kota Jakarta siang itu. Hujan di hari yang cerah.
Ayesha tak peduli jika ia kehujanan atau orang-orang yang menatapnya aneh. Ia hanya ingin menangis, ia merasa kakinya tak mampu menopang beban tubuhnya. Seolah kembali terlempar ke masa lalu.
“Berengsek,” umpatnya pelan dengan isakan kecilnya. Ia tidak mengerti kenapa rasanya begitu menyakitkan, apa ia masih mengharapkan sesuatu darinya? Ataukah ia benci melihatnya bahagia? Ataukah ....
Ayesha kemudian melihat sepasang kaki di hadapannya, merasa terlindungi dari hujan, ia pun mendongak untuk melihat siapa pemiliknya.
Ilham berdiri di hadapannya dan memayunginya. Ayesha menatapnya masih dengan mata yang basah oleh air mata. Ilham mengulurkan tangannya, menyuruhnya berdiri. Namun Ayesha malah terdiam, tatapannya beralih menatap tangan Ilham yang terulur padanya.
Tangan itu, haruskah aku menggapainya?