Garis di Perut Sena
Sena, seorang wanita berusia 26 tahun. Punya satu anak. Dengan satu luka. Dan sejuta cinta yang tidak pernah habis.
Setiap hari dia melakukan aktifitasnya seperti biasa, sebagai ibu rumah tangga pada umumnya. Hidupnya monoton. Bangun jam 5, masak, antar Asyifa Tapos, urus pekerjaan rumah, jemput, masak lagi, nemenin anak bermain.
Tapi setiap malam, semua kelelahan itu hilang. Karena ada satu penonton setia di rumah. Namanya Asyifa 2,5 tahun. Rambut kriwil, mata besar, dan mulut yang tidak pernah berhenti bicara.
Asyifa anak yang cerewet. Sukanya nonton Bebefinn dengan volume paling keras sampai tetangga sebelah protes. Sukanya memanjat ke pangkuan Sena dan bertanya, "Bu, langit kenapa biru? Bu, ikan bisa tidur nggak? Bu, kenapa Ibu capek?"
Seba selalu menjawab semua pertanyaan itu. Dengan sabar. Dengan senyum. Bahkan saat badannya rasanya mau rontok.
Hari itu hari Jumat. Cuacanya panas. Sena baru pulang menjemput Asyifa di Tapos dekat rumahnya dan langsung menuju kamar untuk ganti baju. Daster rumah yang tipis dan adem adalah penyelamatnya.
Pintu belum sempat dia tutup rapat. Tiba-tiba, "Tok tok" kecil. Asyifa masuk.
Seperti biasa, Asyifa langsung memeluk kaki Sena. Tapi hari itu pelukannya tidak langsung naik ke atas. Matanya tertuju ke satu titik di perut ibunya.
Sebuah garis panjang diagonal berpilin membentang dari kanan sampai kiri perut Sena. Bekas operasi sesar 2,5 tahun lalu.
"Bu," suara Asyifa pelan. Beda dari biasanya. "Ini apa?"
Jantung Sena serasa berhenti sedetik. Selama ini dia sangat hati-hati. Selalu pakai baju tertutup. Selalu mematikan lampu kalau ganti baju. Garis itu adalah aib yang paling dia sembunyikan.
Dia jongkok. Menyamakan tingginya dengan Asyifa. Tangannya menarik daster menutupi perutnya, tapi terlambat. Asyifa sudah melihat.
Asyifa menarik napas. "Itu... itu jalan keluarnya kamu dulu, Sayang. Waktu kamu mau lahir ke dunia, Ibu dibantu sama dokter. Diambil dari sini."
Asyifa mengerutkan dahinya yang kecil. Jari telunjuknya hampir menyentuh garis itu tapi urung. "Sakit?" tanyanya lagi.
Sena mengangguk pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. "Dulu sakit banget, Nak."
Dia kira percakapan itu selesai di situ. Asyifa mengangguk seolah mengerti, lalu lari mengambil mainannya. Sena menghela napas lega.
Ternyata dia salah besar.
Malam itu, saat lampu sudah dimatikan dan Sena sedang menidurkan Asyifa, bahu kecil di sampingnya tiba-tiba terguncang.
Asyifa menangis. Bukan tangis manja minta jajan. Ini tangis sesenggukan. Pelan tapi memecah hati.
"Ibu..." isaknya di tengah gelap. "Ibu sakit..."
Seba langsung memeluknya erat. "Ibu nggak sakit, Sayang. Ibu baik-baik aja."
"Gara-gara Asyifa ya..." Asyifa mengusap perut Sena dari luar daster. "Gara-gara Asyifa keluar dari sini ya..."
Jantung Sena remuk. Hancur jadi seribu keping.
Selama 2,5 tahun dia menganggap garis itu cacat. Dia malu. Dia benci melihatnya di cermin. Dia merasa tubuhnya tidak sempurna lagi.
Tapi malam itu, lewat tangisan anaknya, dia baru mengerti.
Garis itu bukan cacat.
Itu bukti.
Bukti bahwa dia pernah rela dirobek. Rela menahan sakit. Rela bertaruh nyawa, demi membuat satu manusia yang sekarang sedang memeluknya sambil berbisik, "Ibu jangan sakit ya. Asyifa sayang Ibu."
Sena memeluk Asyifa lebih erat. Untuk pertama kalinya setelah 2,5 tahun, dia tidak menutupi perutnya.
Dia biarkan air matanya jatuh. Bukan karena sakit.
Tapi karena akhirnya dia pulang. Pulang ke tubuhnya sendiri.
***