Tidak terasa hari makin hari berlalu, setiap kejadian yang di alami membuat Krisna semakin sadar bahwa di dunia ini sebenarnya kita saling berdampingan dengan makhluk lain baik itu yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Terbiasa dengan kehidupannya sekarang, menjadikan Krisna lebih santai dan cuek terhadap kejadian janggal yang menimpanya, beribadah menjadi pilihan paling terbaik untuk menenangkan hati dan pikiran.
Kondisi Ki Amin kini semakin memburuk, pengobatan medis pernah di lakukan tapi sayangnya penyakit yang di idap ki Amin tidak terungkap, dokter pun hanya mendiagnosa Ki Amin dehidrasi saja karena tubuhnya yang semakin kurus kering, lalu dokter menyarankan Keluarga Krisna untuk terapi tradisional dan memberikan ramuan herbal.
Tapi sayangnya keluarga Krisna terutama Pak Dadang lebih memilih pengobatan supranatural ketimbang pengobatan medis ataupun terapi – terapi herbal. Pak Sugeng menjadi pilihan keluarga Krisna, Pak Sugeng memang terkenal sebagai orang pintar di kampung Krisna, rumahnya sangat mewah di bandingkan dengan warga kampung lain.
“ Pak, cepet sembuh Pak, Dadang kasihan liat kondisi Bapak seperti ini, memang Umur Bapak sudah sangat rentan penyakit, tapi tidak seperti biasanya, Bapak selalu meracau, dan setiap hari gelisah, apa yang harus Dadang lakukan Pak.” Ujar Pak Dadang.
" LEPASKAN.” Ujar Ki Amin meracau.
“ apa yang harus Dadang lepaskan Pak?” Tanya Pak Dadang.
“ LEPASKAN, AMPUN.” Ujar Ki Amin.
“ Dadang pergi ke Pak Sugeng dulu ya Pak!” Ujar Pak Dadang.
Bu Eni menghalau Pak Dadang yang akan pergi.
“ Pak , Kan dokter kemarin juga bilang , sebaiknya Bapak di bawa ke pengobatan herbal saja, Bapak hanya dehidrasi, kenapa harus ke Pak Sugeng segala.” Ujar BU Eni.
“ Dokter itu tau apa, Pak Sugeng itu orang pintar , Dia pasti tau apa yang sedang Bapak alami, masa dehidrasi saja bisa sampai meracau seperti ini.” Ujar Pak Dadang.
“ Ibu sebenarnya dari dulu gak suka sama orang itu, orang itu racun untuk kampung ini Pak, kenapa Bapak gak sadar juga.” Ujar Bu Eni.
“ Racun gimana maksudmu , kita setiap masa panen selalu berhasil, tanaman kita tumbuh subur, penjualan kita juga terus naik, warga kampung di sini juga sejahtera itu smua berkat pak Sugeng Bu, masa Ibu tidak melihat.” Ujar Pak Dadang kesal.
“ sawah kita bagus, bukan berarti berkat jampi – jampi Pak Sugeng, tapi memang wilayah di kampung kita ini tanahnya subur.” Ujar BU Eni membantah.
“ Lalu kenapa warga di sini sejahtera ?” tanya pak Dadang.
“ Warga di sini sejahtera karena mereka itu rajin, tidak pernah mengeluh, bukan karena Saran Pak Sugeng, memang dasarnya warga di sini punya sifat rajin dan pintar mencari peluang, hanya saja Pak Sugeng berperan seakan berkat dirinya semua ini terjadi, dia layaknya seorang yang bermulut besar saja, hanya reputasinya saja yang membuat dirinya sekarang di hargai, kenapa Bapak tidak pernah sadar!” Ujar Bu Eni.
“ Mulai pintar bicara ternyata Kamu Bu, sudah seperti Anakmu saja.” Ujar Pak Dadang.
“Ya sudah , intinya Ibu sudah memberi tau, sekarang tunjukan kalau Bapak itu kepala keluarga, buat pilihan terbaik untuk keluarga ini terutama untuk Bapakmu yang sedang sakit.” Ujar BU Eni sambil pergi meninggalkan Pak Dadang.
“ Ah, wanita bisanya hanya komentar saja, gak tau duduk permasalahannya seperti apa, terserah dia mau berkata apa, yang penting Aku ingin Bapak sembuh.” Ujar Pak Dadang.
Pak Dadang pergi meninggalkan rumah menuju rumah Pak Sugeng.
“ Bu, Bapak pergi dulu.” Sahut Pak Dadang ke arah dapur.
Bu Eni yang sedang marah dengan Pak Dadang tidak merespon sedikit pun, tanpa ada jawaban dari arah dapur membuat Pak Dadang sedikit kesal, tapi dia tau karakter Istrinya yang memang selalu begitu jika sedang bertengkar.
Pak Dadang pergi dengan tergesa – gesa, bahkan ada orang yang menyapa pun , Pak Dadang acuh dan menghiraukan mereka, sambil terus berjalan Pak Dadang hanya melihat hamparan sawah yang mengering.
“ Sudah terlalu lama Aku hanya di rumah dan mengurusi Bapak, hingga saat semua ladang kekeringan Aku pun sama sekali tidak tahu, ada apa ini, tidak seperti biasanya.” Ujar Pak Dadang.
“ dan kemana semua warga , saat Aku berjalan yang menyapa hanya satu dua orang saja, ya ampun sudah berapa lama Aku tidak keluar rumah, sampai kondisi lingkunganku sendiri aku tidak sadar banyak yang berubah.” Ujar Pak Dadang.
Sesampainya di rumah Pak Sugeng, mereka berdua berbincang dan Pak Dadang menjelaskan duduk masalah yang terjadi dengan Ki Amin, tapi sungguh kecewa Pak Dadang dengan jawaban dari pak Sugeng.
“ Ki Amin, sekarang sedang sakit Pak, dia terus meracau “LEPASKAN”, kata – kata itulah yang selalu di ucapkan oleh Ki Amin Pak, menurut Pak Sugeng Bapak Saya itu kenapa?” Tanya Pak Dadang.
“ Bapakmu itu sudah tua, sudah waktunya dia pulang, saran Saya tunggu saja hingga waktunya tiba.” Ujar Pak Sugeng secara angkuh.
“ Kenapa Pak Sugeng bicara seperti itu, saya sudah bertahun – tahun menuruti kata – kata Pak Sugeng, dan saya percaya, tapi kenapa Pak Sugeng seperti itu kepada Saya.” Ujar Pak Dadang kesal.
“ Bagus kalau kau percaya, makannya sekarang turuti perkataan Ku, pulang lah, dan tunggu saja Bapakmu.” Ujar Pak Sugeng.
“ Maksud Pak Sugeng apa? Saya datang jauh – jauh ke sini untuk mencari kesembuhan untuk Bapak Saya, tapi perkataan Pak Sugeng sungguh tidak patut. “ Ujar Pak Dadang.
“ Kita harus rasional, Umur Ki Amin itu sangat tua, sudah lebih dari 100 tahun, mungkin Ki Amin juga sudah bosan di dunia ini.” Ujar Pak Sugeng berbicara dengan angkuh.
Kesal dengan perkataan Pak Sugeng , Pak Dadang lekas pergi meninggalkan Pak Sugeng dengan rasa sangat kesal dan marah, langsung keluar dan tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Pak Dadang, Pak Sugeng pun hanya melihat dan tersenyum kecil melihat Pak Dadang pergi keluar. Ia berjanji ini adalah terakhir kalinya Ia menginjakkan kakinya di rumah itu.
Di sepanjang perjalanan pulang, Pak Dadang tidak henti – hentinya menggerutu, wajahnya sangat merah, tapi Pak Dadang tidak bisa berbuat apa – apa, Dia sangat kecewa dengan Pak Sugeng yang merendahkan Ki Amin dan menganggap Ki Amin sudah pantas untuk Pulang, sedangkan pengorbanan keluarga Ki Amin sangatlah besar, dan sangat loyal terhadap Pak Sugeng. hingga waktu, tenaga , dan pikiran pun terbagi untuk kepentingan Pak Sugeng, bukan tanpa sebab karena keluarga Ki Amin sangat mempercayai Pak Sugeng adalah orang yang mempunyai tuah.
“ Kenapa Pak Sugeng tega sekali berkata seperti itu kepada Bapak.” Ujar Pak Dadang sangat kesal hingga meneteskan air mata.
Pak Dadang berhenti sejenak Sambil terdiam untuk menenangkan amarah yang terpendam dalam hati.
“ Padahal dulu jika bukan karena Bapak, Pak Sugeng di kampung ini bukanlah siapa – siapa, hanya orang pendatang. Bapak yang mengajak warga untuk mempercayai Pak Sugeng, sampai akhirnya Pak Sugeng seperti sekarang, Pak Sugeng yang di percayai Bapak punya Tuah, atau mungkin hanya kebetulan saja semua perkataannya jadi nyata, kini membuat Aku sangat marah.” Ujar Pak Dadang menggerutu.
“ Tapi Bapak tadak boleh tau tentang ini, takutnya Bapak kepikiran dan membuat tubuhnya semakin lemah.” Ujar Pak Dadang.
“ Tapi Aku juga harus berbohong kepada Istriku, Dia tadi menghalangi Ku untuk pergi dan ternyata perkataannya benar.” Ujar Pak Dadang menyesal.
Pak Dadang sangat kebingungan, tentang apa yang harus ia lakukan saat ini, Dia berniat menelpon Krisna, tapi rasa egonya yang sangat tinggi membuat Pak Dadang mengurungkan niatnya.
Pak Dadang akhirnya memutuskan untuk pulang, pada saat sampai di rumah Pak Dadang langsung duduk di teras, sambil melamun. lalu dari arah dapur datang Bu Eni membawakan teh hangat untuk Pak Dadang, Bu Eni pun bertanya tentang pendapat Pak Sugeng atas kondisi Ki Amin.
“ Pak , Gimana kata Pak Sugeng?” Tanya Bu Eni.
“ Jangan di bahas dulu Bu, Bapak cape.” Ujar Pak Dadang.
“ Ibu sudah tau , tabiat Pak Sugeng dari dulu Pak, hanya saja Bapak dan Ki Amin sangat percaya atas perkataannya, memang pada saat itu Pak Sugeng yang menghitung tanggal dan memprediksi soal panen kita, mungkin itu hanya kebetulan tapi Ibu Gak bisa apa – apa semua keputusan ada di Bapak.” Ujar Bu Eni.
“ Tapi jika kebetulan , kenapa kebetulan itu datangnya setiap tahun dan perkataan nya selalu benar tentang memprediksi, hingga menyarankan kita untuk memberikan sembahan untuk hutan ujung kampung itu?” Ujar Pak Dadang.
“ sekarang itu jaman semakin canggih Pak, Dia bisa saja sudah punya rumus – rumus atau apa pun itu Pak. Ibu juga Gak paham, tapi intinya Pak Sugeng itu orangnya licik, kita sudah tertipu bertahun – tahun, mulai sekarang buka mata dan hatimu Pak.” Ujar Bu Eni, sambil pergi meninggalkan Pak Dadang di teras rumah.
Pak Dadang hanya termenung dan sekali lagi dia merasa seperti di tampar oleh kenyataan, sifat egonya membuatnya sangat sulit menerima pendapat dari orang lain, terutama dari Krisna, Dia menganggap Krisna hanya lah Anak yang tidak tau apa – apa, padahal ilmu itu tidak bisa di lihat dari umur ataupun jenjang pendidikan , tapi ilmu itu bisa datang dan di dapat bahkan dari seekor binatang sekalipun.
Sekarang Pak Dadang menuai hasil dari sifatnya itu, Kecewa dengan dirinya itu lah yang saat itu Pak Dadang rasakani