LANJUTAN 21

1756 Words
Kedekatan Krisna dengan Pak Yaya sudah layaknya Bapak dan anak , Pak Yaya, yang sudah lama tidak berjumpa dengan anaknya, merasa Krisna dan Yuda sudah cukup mengobati rasa rindu terhadap anak kandungnya. Kondisi rumah pun menjadi semakin hangat dan ramai.   Setiap sore pun mereka selalu berkumpul dan berbincang , kebiasaan itu sudah sering di lakukan bahkan hampir setiap hari dan menjadi kewajiban ketika sore menjelang, saling bertukar cerita menjadi bagian di sela – sela perbincangan mereka.   Sore itu sedikit tidak biasa, sebab Yuda yang bisanya selalu pulang tepat waktu , mendadak tidak ada kabar dan membuat Pak Yaya dan Krisna kebingungan dan bertanya tentang keadaan Yuda . Pak Yaya dan Krisna sedang berkumpul di ruang makan.   “ Mas Kris tadi kerja?” Tanya Pak Yaya.   “ Engga Pak, saya kan tadi pulang lagi .” Ujar Krisna.   “ Memangnya kenapa Pak?” Tanya Krisna.   “ Gak papa Mas, ini soalnya Mas Yuda juga belum pulang, tidak seperti biasanya.” Ujar Pak Yaya.   “ Mungkin ada rapat Pak, Atau ada urusan dulu.” Ujar Krisna.   “ Tidak Mas, biasanya jika Mas Yuda akan pulang terlambat Dia suka memberikan kabar ke Bapak, jadi Bapak juga gak akan ngunci gerbang, Tapi kok ini gak ada kabar.” Ujar Pak Yaya cemas.   “ Pak Yaya kenapa? Sepertinya sangat cemas.” Ujar Krisna.   “ Ia Pasti cemas Mas Kris, bukan Apa – apa, kalian berdua sudah Bapak anggap seperti keluarga, bahkan seperti anak sendiri, jadi Bapak juga bakal cemas jika salah satu di antara kalian tidak ada kabar.” Ujar Pak Yaya.   “ Mungkin saya coba telepon saja ya Pak.” Ujar Krisna.   Krisna mengambil hp dan menelepon Yuda.   “ Tidak ada jawaban Pak.” Ujar Krisna.   “ Duh, kemana ya, Bapak betul – betul cemas.” Ujar Pak Yaya.   Pak Yaya begitu cemas dengan kondisi Yuda, hingga akhirnya Bram pun datang. Bram yang saat itu sangat marah terhadap Krisna, merasa bersalah dengan sikapnya yang terlalu keras terhadap Krisna , Bram pun mengutarakan permintaan maaf nya terhadap Krisna.   “ Mungkin itu Pak Yuda!” Ujar Krisna.   “ Coba buka pintu Mas, siapa tahu Mas Yuda.” Ujar Pak Yaya.   Krisna pergi untuk membukakan pintu.   “ Bang, ada apa datang ke sini?” Tanya Krisna heran.   “ Engga Kris, Aku hanya tidak enak saja Kris, Takutnya Kau tersinggung.” Ujar Bram.   Krisna tersenyum. “ Kirain Aku ada apa Bang, sudah Bang gak usah bawa perasaan seperti itu, Aku yang harusnya minta maaf , tadi sudah membuat Abang bekerja sendiri.” Ujar Krisna.   “ Bukan begitu Kris, Aku takut kau pulang kampung gara – gara omonganku.” Ujar Bram.   “ YA sudah kita ngobrol di dalam saja .” Ujar Krisnna.   Pak Yaya pun menghampiri mereka.   “ Siapa Kris Yuda bukan?” Tanya Pak Yaya.   “ Bukan Pak, Ini Bram yang datang.” Ujar Krisna.   “ tumben sekali sore – sore datang ke rumah, biasanya hampir tengah malam datang ke sini.” Ujar Pak Yaya.   “ Engga Pak, ini sekalian lewat, sekalian ada yang harus di bicarakan dengan Krisna Pak.” Ujar Bram.   “ Oh IA Bram, liat Yuda gak tadi di kantor?” tanya Pak Yaya.   “ Tadi saya kebetulan tidak bertemu dengan Yuda Pak.” Ujar Bram.   “ Oh gitu Bram, ya sudah tidak apa – apa.” Ujar Pak Yaya.   “ Eh sebentar Pak, tadi saya liat Yuda pergi dengan seseorang, Saya baru ingat Pak.” Ujar Bram.   “ Kapan Mas?” Tanya Pak Yaya.   “ Saat jam pulang Pak.” Ujar Bram.   “ Kemana Ya?, Ya sudah silakan kalian lanjutkan obrolannya, Bapak mau ke atas dulu.” Ujar Pak Yaya pergi meninggalkan mereka berdua.   “ Kenapa sama Pak Yaya?, Apa Pak Yuda belum bayar kosan?” Tanya Bram.   “ Bukan Bang, Pak Yaya soalnya sudah menganggap Saya dan Pak Yuda seperti anaknya, jadi dia sangat risau.” Ujar Krisna.   “ Aku kira Pak Yuda belum bayar kos, jadi pak Yaya nanyain tentang keberadaan pak Yuda.” Ujar Bram.   “ Bukan Bang, oh Ia Bang, tadi gimana?” Tanya Krisna.   “ Ya seperti biasa Kris, oh ia Kris, besok tolong Kau kerjakan lantai 3b , mau ada rapat lagi katanya.” Ujar Bram.   “ saya sendiri Bang?” Tanya Krisna.   “ IA sendiri , Aku besok bakal ambil cuti, ya sekalian Aku balas dendam sama Kau.” Ujar Bram.   “ Yang betul saja Bang, Masa Aku sendiri di lantai 3b, keterlaluan Abang ini.” Ujar Krisna.   “ Memang jadwalnya seperti itu, besok Aku ada urusan dulu, aku mau pulang kampung.” Ujar Bram.   “ Ya sudah Bang, gak Papa, besok aku langsung ke lantai 3b saja.” Ujar Krisna.   “ Sekalian Aku ingin menguji mental Kau.” Ujar Bram sambil tersenyum.   “ mental apa Bang, yang ada Aku ketakutan kalau sendirian, tapi kalau ada apa – apa Abang harus tanggung jawab, membiarkan karyawan Baru bekerja sendiri.” Ujar Krisna.   “ Apa Kau bilang soal karyawan Baru?, Kau itu sudah lama bekerja, masih saja Mau di panggil Baru, Kau itu sama denganku sudah cap senior.” Ujar Bram.    Waktu pun sudah menunjukan pukul 10 malam, Yuda pun belum terlihat tanda – tanda kepulangannya, Pak Yaya pun semakin cemas, lalu terlihat pantulan cahaya yang menembus kaca dan jendela, ternyata Yuda yang di antarkan oleh orang asing.   Ekspresi wajah Yuda pun tidak seperti biasanya, wajahnya pucat dan tatapannya kosong, saat masuk ke rumah pun tidak memberikan salam atau apa pun, setelah masuk , Yuda pun seperti tidak menghiraukan keberadaan Krisna, Bram, bahkan Pak Yaya yang dari tadi mencemaskan Yuda pun tidak di lirik sama sekali.   Mereka semua sontak terdiam dan keheranan melihat tingkah Yuda yang aneh dan tidak seperti biasanya, Pak Yaya mencoba bertanya Pun tidak di gubrisnya.   “ Dari mana Mas?’ Tanya Pak Yaya kepada Yuda.   “ Ia Pak, Saya juga dari tadi di sini loh, Pak Yuda sama siapa barusan?” Tanya Bram.   Yuda pergi meninggalkan mereka tanpa menjawab semua pertanyaan mereka, baju yang di pakai di badannya seperti penuh dengan tanah dan masih rambutnya seperti basah kehujanan.   Yuda masuk ke kamarnya, dan terdengar suara bantingan pintu dari arah kamar Yuda, mereka pun hanya terdiam dan saling menatap.   “ Dia kenapa?” Tanya Bram.   “ Sudah. Mungkin Dia sedang cape dan sudah melalui hari yang berat, Biarkan saja dulu, Besok saja di ajak bicaranya, biarkan Dia tenang dulu.” Ujar Pak Yaya.   “ Ya sudah Kris, Pak, Saya pulang dulu sudah waktunya, saya mencari tempat nongkrong baru setelah di sini.” Ujar Bram bercanda.   “ Bisa saja Kau Bang, Bukannya pulang, malah keluyuran terus.” Ujar Krisna.   “ Tidak Apa – apa Kris, nikmati masa muda Mu, Bayangkan jika kau sudah seumur Pak Yaya, mana mungkin bisa kau nongkrong – nongkrong.” Ujar Bram.   “ Ia, betul , Habiskan Masa Muda Mu untuk nongkrong, biar saat tua nanti kau pun hanya bisa nongkrong saja.” Ujar Pak Yaya menyindir.   Bram hanya tersenyum dengan perkataan Pak Yaya, dan akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua. Dan saat Bram pergi pun terdengar suara benda dan barang pecah di kamar Yuda, mereka memutuskan untuk diam dan tidak ikut campur dengan masalah yang sedang Yuda alami.   “  suara apa di atas Pak?” Tanya Krisna.   “ Sudah biarkan saja Mas, besok saja kita tanya.” Ujar Pak Yaya.   “ kalau barang pak Yaya hancur semua gimana Pak?” Tanya Krisna.   “ Gak Papa Mas, kalau hancur juga, lagi pula ini barang tua semua sudah waktunya hancur sepertinya.” Ujar pak Yaya.   “ Jadi saya juga boleh dong, ngehancurin satu benda saja Pak.” Ujar Krisna.   “ Ya kalau di sengaja gak boleh Mas, ya sudah Bapak Masuk ke kamar dulu.” Ujar Pak Yaya.     Krisna pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya, kamar Krisna dan Yuda sangat berdekatan sehingga setiap percakapan ataupun suara bising yang ada di salah satu kamar pun pasti terdengar jelas. Dan saat di depan pintu kamar Krisna, Krisna tiba – tiba berhenti dan mendengarkan suara Yuda yang seperti sedang berbicara dengan seseorang, percakapannya begitu serius, tapi anehnya di kamar Yuda tidak ada siapa pun selain Yuda, kejanggalan ini terus Krisna Amati , hingga puncaknya suara pecah kaca di dalam kamar yuda, sontak saja Krisna pun, langsung masuk ke kamarnya sendiri dan berusaha acuh dengan kejadian itu.   Ke esokan paginya Krisna yang sudah siap untuk bekerja, keluar dari kamarnya dan terlihat Kamar Yuda yang kosong dan berantakan, Krisna perlahan membuka pintu dan terlihat pecahan – pecahan kaca dan kotoran yang berserakan, Krisna memanggil Yuda tapi tidak ada jawaban, Krisna keluar dan melihat Pak Yuda tertidur di teras depan, Pak Yaya pun ikut terkejut dengan kondisi Yuda yang sangat kacau.   Yuda pun bangun, sambil memegang kepalanya Yuda melihat Pak Yaya, dan Krisna sedang melihat nya hanya menggunakan baju sobek dan celana pendek.   “ Mas Yuda sedang Apa di teras?” Tanya Pak Yaya.   “ Saya tidak tahu Pak, yang saya ingat saya sedang berjalan ke suatu tempat, tapi saat bangun saya sudah ada di sini.” Ujar Yuda.   “ berjalan kemana Pak?” Tanya Krisna.   “ Saya tidak tahu Kris, Saya kemarin pulang di jemput oleh seseorang yang saya juga tidak kenal, dia bilang sebagai keluarga saya, lalu yang saya ingat saya di berikan air minum dan saya lupa semuanya.” Ujar Yuda.   “ kenapa Pak Yuda mau ikut dengan Dia Pak?” Tanya Krisna.   “ Dia bilang bersaudara dengan saya, dan saya pun setengah sadar menjawab semua pertanyaannya.” Ujar Yuda.   “  mungkin Mas sedang di hipnotis atau sebagainya.” Ujar Pak Yaya.   “ Ada benda yang hilang Gak Pak?” tanya Krisna.   Yuda melihat semua isi dompet yang tergeletak di sampingnya dan semuanya aman tidak ada yang hilang, hanya ada tambahan sepucuk surat saja untuk Yuda di dalam dompetnya.   “ Semuanya ada Kris, Tapi ini surat apa?’ tanya Yuda.    Tulisan itu bertuliskan ancaman untuk Yuda.   “ Coba Bapak Liat Mas,” mengambil surat itu.” Isi surat itu bertuliskan , jangan ganggu jika kau belum cukup ilmu, jangan coba – coba jika kau belum bisa apa – apa, artinya apa as?” Tanya Pak Yaya.   Yuda mengingat ingat kembali semua kejadian yang di alami, dan akhirnya Dia ingat pernah membantu seseorang yang sedang terkena penyakit aneh, mungkin itu semua ada hubungannya satu sama lain, bukan tanpa sebab Yuda memiliki kemampuan melihat yang tidak terlihat, sehingga dengan ketulusan Yuda , Dia pun mencoba untuk membantu menyembuhkan, tapi yang ada malah dirinya yang terkena imbas di sertai ancaman – ancaman.   Sifat saling tolong menolong memanglah baik , karena kita sebagai makhluk sosial , tapi alangkah baiknya jika kita menolong sesuai kemampuan kita, jangan terlalu memaksakan dengan apa yang kita miliki, berpikir secara rasional menjadi kuncinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD