Pagi menjelang, tepat waktu itu pukul 6.30 pagi , Krisna yang telah siap untuk beraktivitas, mendengar Pak Yaya sedang menerima panggilan telepon, Bukan bermaksud kurang baik dan bersikap tidak sopan dengan mendengarkan pembicaraan pribadi orang lain, terdengar Jika Pak Yaya menerima suatu pesanan dari salah satu pelanggan lamanya, semakin dekat Krisna mendengarkan perbincangan mereka dan semakin jelas juga jika pelanggan itu menginginkan jimat atau benda yang sama dengan yang pernah Krisna punya.
“ Suara Pak Yaya!, tumben sekali Pak Yaya, menerima telepon pagi – pagi.” Ujar Krisna.
Krisna mendekati Pak Yaya.
“ Apa kabar Pak, kemana saja, apa yang bisa saya bantu.” Ujar Pak Yaya terdengar dari balik pintu.
“ Pak Yaya menerima telepon dari siapa Ya?” Tanya Krisna.
“ Boleh – boleh, benda itu selalu ada di toko Pak, jika mau sekarang saya ke toko.” Ujar Pak Yaya berbicara di telepon.
“ Benda Apa ya?” Tanya Krisna penasaran.
Semakin dalam juga Krisna mendengarkan pembicaraan mereka, hingga akhirnya sudah jelas bahwa benda yang mirip dengan pemberian Pak Sugeng akan di beli oleh pelanggan Pak Yaya.
Hingga akhirnya Pak Yaya, pergi meninggalkan rumah kos, dengan segera Krisna pun ikut dan membuntuti Pak Yaya, Krisna layaknya seorang intel, dari jauh Dia mengamati Pak Yaya, bukan untuk bertindak jahat, hanya saja rasa penasaran terhadap benda itu sangat besar demi mengungkapkan kebenaran, dan pembuktian kepada Pak Dadang, bahwa semua yang Ia lakukan itu salah dan Pak Sugeng itu adalah seorang penipu.
Sesampainya di toko antik milik Pak Yaya, Krisna melihat dari pinggir jalan seseorang berbaju putih sudah menunggu Pak Yaya, orang itu masuk bersama Pak Yaya dan terlihat mereka begitu akrab layaknya sahabat lama.
“ Yang sama Pak Yaya itu siapa Ya, akrab sekali mereka.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah Aku tunggu saja di sini.” Ujar Krisna.
Krisna menunggu kurang lebih 1 jam, hingga Krisna melupakan pekerjaannya.
“ Duh , sepertinya Aku bakal kesiangan, Tidak apa – apa lah, yang penting Aku tahu benda itu di beli oleh siapa.” Ujar Krisna.
Hingga akhirnya Pak Yaya dan seorang temannya keluar dari toko antik itu, orang berbaju putih itu terlihat membawa bungkusan berwarna merah, tidak lama kemudian orang itu naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan Pak Yaya.
Rasa penasaran Krisna sangat besar, terhadap benda itu, dan akhirnya Pak Yaya pun pulang ke rumah, tanpa melihat Krisna sedikit pun, Krisna pun memutuskan untuk menanyakan perihal benda iu ke Pak yaya sepulang kerja.
“ Pak Yaya sudah pulang, nanti saja Aku tanya – tanya, sekarang Aku ke kantor dulu , sudah sangat terlambat.” Ujar Krisna.
Krisna berlari sekencang yang Ia bisa, jarak antara kantor dan toko antik memang satu arah dan juga tidak terlalu jauh, sesampainya di Kantor pun Krisna sudah di tunggu oleh Bram dengan wajah marah.
“ Dari mana Kau?” Tanya Bram.
“ Aku ketiduran Bang.” Ujar Krisna berbohong.
“ Tidak mungkin Kau tertidur, Aku tahu Kau itu sangat tepat waktu, jujur saja Kau.” Ujar Bram dengan nada tinggi.
“ Ia Bang maaf, Aku tadi mengikuti Pak Yaya, ke tokonya sampai kesiangan.” Ujar Krisna.
“ Untuk Apa Kau mengikuti Pak Yaya, mau jadi intel kau ini.” Ujar Bram dengan nada tinggi.
“ Bukan Bang, Aku tadi ingin tahu siapa yang beli ke toko Pak yaya.” Ujar Krisna.
“ sudah tidak masuk akal Kau, sudah sekarang Kau pulang, tidak usah masuk hari ini, Kita boleh berteman tapi soal pekerjaan maaf. Aku pun punya tanggung jawab di sini, jadi jangan mencoba Main – main dengan Ku Kris.” Ujar Bram sangat marah.
“ Duh maaf Bang, Aku kira tidak akan menjadi masalah yang panjang seperti ini.” Ujar Krisna.
“ Sudah sekarang Kau pulang, merenung Kau di kamar, sekal lagi kau berbuat seperti ini , maaf, Kau bisa cari pekerjaan lain.” Ujar Bram.
“ Kenapa Abang bisa marah seperti ini, saya juga kan Cuma kesiangan satu jam, lagi pula saya juga jarang kesiangan dan ini memang situasi darurat untuk Saya Bang.” Ujar Krisna.
“ Ia Kau ini tidak menghargai waktu, tidak menghargai Ku juga, jika kau tetap Aku maaf kan , lama – lama ngelunjak.” Ujar Bram.
“ Ia Bang maaf.” Ujar Krisna menyesal.
“ Sudah – sudah jangan banyak alibi, sekarang Kau pulang.” Ujar Bram sambil pergi meninggalkan Krisna.
Krisna akhirnya terpaksa pulang dengan sedikit kecewa, tapi Krisna terpaksa melakukan pengintaian terhadap Pak Yaya, demi memenuhi rasa penasarannya.
“ Sudah terlanjur basah, Aku pulang saja mending Aku tanya – tanya saja ke Pak Yaya, Biar tuntas rasa penasaranku.” Ujar Krisna meninggalkan kantor.
Krisna berjalan menyusuri trotoar, terkadang Dia berpikir, semua yang ia lakukan belum lah menemui hasil yang signifikan, sembari berjalan Krisna melewati toko antik milik Pak Yaya, di lihatnya toko itu, begitu juga dengan rasa penasaran Krisna yang semakin besar.
“ Mudah – mudahan hari ini ada titik terang.” Ujar Krisna.
Sesampainya di rumah pun Krisna langsung mencari pak Yaya dan memikirkan topik yang pas untuk memulai pembicaraan dan mulai bertanya perihal pembeli yang datang ke toko Pak Yaya.
Krisna menemui Pak Yaya, sedang duduk di meja makan dan menghampiri Pak Yaya.
“ Loh Mas, kenapa sudah ada di rumah?” Tanya Pak Yaya.
“ Ia Pak, Saya tadi ijin pulang, saya belum sehat betul, jadi saya minta untuk pulang duluan.” Ujar Krisna.
“ Oh gitu Mas, Ya sudah Makan dulu, kebetulan Bapak baru dapat rezeki.” Ujar Pak Yaya menyuruh Krisna makan dan duduk.
“ Memangnya ada yang beli barang Pak Yaya?” Tanya Krisna.
“ Loh Ko, Mas Krisna Tahu, jangan – jangan ngikutin saya lagi.” Ujar Pak Yaya.
Krisna sedikit gugup dengan jawaban Pak Yaya, dan mengira Pak Yaya mengetahui jika Krisna membuntutinya sampai ke toko.
“ Engga Pak, saya Kan tadi ke kantor, Saya hanya menebak saja Pak.” Ujar Krisna gugup.
“ Ia Mas betul Tadi ada langganan Bapak, kita sudah lama tidak bertemu.” Ujar Pak Yaya.
“ Oh gitu Pak, sudah lama sekali mungkin ya.” Ujar Krisna.
“ Memang sudah sangat lama mas, Hampir 10 tahunan.” Ujar Pak Yaya.
“ Sudah lama juga ya Pak, memangnya Dia beli Apa pak?” Tanya Krisna.
“ Ia sudah lama, tapi anehnya Dia masih sangat muda, mungkin karena ekonomi nya bagus jadi awet muda.” Ujar Pak Yaya.
“ Pak Yaya juga Awet muda Ko, lebih terlihat muda Bapak di banding saya juga.” Ujar Krisna.
“ Mas ini bisa saja, saya ini awet tua Mas, bukan awet muda.” Ujar Pak Yaya.
“ Serius Pak, Bapak itu mirip artis sebenarnya.” Ujar Krisna bercanda.
“ artis apa Mas. artis kalender mungkin ya.” Ujar Pak Yaya membalas candaan.
“ Pak Yaya bisa saja, Oh ia pak, kalau boleh tahu langganan Pak Yaya membeli barang apa?’ tanya Krisna.
“ dia beli tiga barang Mas, dia beli kursi peninggalan belanda, lemari hias cina, sama satu lagi benda yang Mas Krisna suka.” Ujar Pak Yaya.
“ Yang saya suka?, yang mana Pak?” Tanya Krisna.
“ Itu jimat yang sempat Bapak ceritakan.” Ujar Pak Yaya.
“ Dia itu beli buat apa Pak kalau boleh tahu, untuk di jual lagi apa gimana?” tanya Krisna.
“ Dia itu kolektor Mas, uangnya sudah banyak jadi gak perlu di jual lagi.” Ujar Pak Yaya.
“ Kalau cerita di balik kursi dan lemari itu apa sejarahnya Pak?” Tanya Krisna.
“ Oh kalau soal Kursi, dulu katanya kursi itu sangat bersejarah Mas, kursi itu dulu punya seorang jendral belanda, karena bahannya dari kayu jati jadi kokoh sampai sekarang.” Ujar Pak Yaya.
“ Kalau lemari itu Pak?” Tanya Krisna.
“ Nah kalau lemari itu pemberian dari kawan lama Bapak, Dia menitipkan dan akhirnya memberikannya ke Bapak untuk di simpan di toko, katanya Dia selalu teringat dengan kawan – kawannya jika melihat lemari itu, dan akhirnya memutuskan untuk di simpan di toko.” Ujar Pak Yaya.
“ Memangnya kenapa sama kawan -kawan Dia Pak?” tanya Krisna.
“ Dulu katanya lemari itu hadiah ulang tahun untuknya, tapi satu persatu kawannya itu meninggal duluan, dan akhirnya tersisa Dia seorang.” Ujar Pak Yaya.
“ Sekarang dia masih Ada Pak?” Tanya Krisna.
“ Dia sudah bertahun – tahun pergi Mas Kris.” Ujar Pak Yaya.
“ Oh, Gitu Pak.” Ujar Krisna.
“ Dan Mas mau tahu gak kenapa langganan saya membeli jimat itu?” Tanya Pak Yaya.
“ Memang untuk apa Pak?” Tanya Krisna.
“ dia bilang , untuk di berikan kepada kawannya Mas, katanya Kawannya sedang mencari benda itu untuk di musnahkan.” Ujar Pak Yaya.
“ Di musnahkan Pak?” Tanya Krisna.
“ Ia Mas, sebab kawan lama Bapak itu sangat peduli terhadap Bapak dan keluarga, dan dia tahu kalau benda itu bisa membawa petaka, meskipun Bapak tidak percaya dan buktinya tidak ada apa – apa selama ini, tapi ya kembali lagi Mas, jika Dia mau ya saya Kasih, dan terserah Dia mau di apa kan benda itu, yang penting untuk Bapak Itu, silaturahmi antara Bapak dan dia tetap terjaga.” Ujar Pak Yaya.
“ Tapi Dia membayar untuk benda itu?” tanya Krisna.
“ awalnya Bapak memberikannya secara Cuma – Cuma, tapi beliau tidak mau dan membayar semua benda yang dia beli.” Ujar Pak Yaya.
“ Oh Ia Pak, Kalau boleh tahu benda itu di musnahkan di mana ya Pak, dan siapa orang yang memusnahkannya?’ Tanya Krisna.
“ kenapa Mas begitu tertarik dengan benda itu?” Tanya Pak Yaya.
“ Saya jujur saja Pak, sebenarnya saya dulu di kasih benda mirip seperti itu, sebelum saya berangkat ke kota, kata orang tua saya untuk perlindungan saya selama di kota, tapi saya tidak percaya Pak, Makannya saya pernah bakar di teras depan, memang setelah adanya benda itu , saya sering mendapat gangguan – gangguan dari makhluk halus, tapi setelah di bakar, gangguan itu perlahan hilang, tapi sekarang Kakek saya sekarang sedang sakit.” Ujar Krisna.
“ Oh seperti itu.” Ujar Pak Yaya.
“ Ia Pak, saya berusaha mencari tahu seluk beluk benda itu untuk membuktikan kepada keluarga saya kalau perbuatan seperti itu tidak baik, dan harus segera di tinggalkan.” Ujar Krisna.
“ Kenapa Mas tidak bilang dari kemarin, kalau Mas bilang mungkin Bapak bisa bantu dan tidak akan menjual benda itu.” Ujar Pak Yaya.
“ Ya sudah Pak tidak apa – apa.” Ujar Krisna.
“ Kalau begitu nanti Bapak hubungi teman Bapak, siapa tahu Dia bisa bantu.” Ujar Pak Yaya.
“ ia Pak terima Kasih, tapi saya titip ya Pak, jangan sampai Pak yuda atau teman saya Bram tahu masalah ini, saya takut merek berpikir bahwa saya telah melenceng dari ajaran agama.” Ujar Krisna.
“ Bapak ada saran Mas, seharusnya Mas jujur dan terbuka saja kepada teman – teman Mas, takutnya nanti malah jadi sangkaan buruk terhadap Mas Kris.” Ujar Pak Yaya.
“ Ia Pak, saya menunggu waktu yang tepat, kalau sekarang - sekarang saya masih malu dan ragu.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah , yang penting Mas tetap mencari tahu untuk jalan keluar ini, Bapak juga membantu sebisa Bapak.” Ujar Pak Yaya.
“ IA Pak, terima Kasih sekali lagi, sudah membantu Saya.” Ujar Krisna.
“ Tidak apa – apa Mas.” Ujar Pak Yaya.
“ Terima kasih ya Pak, sudah menggantikan peran orang tua saya selama di sini, ya meskipun saya sudah dewasa , sudah besar, tapi tetap perlu wejangan – wejangan , biar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.” Ujar Krisna.
“ Ya Mas, Jangan sungkan, Bapak juga sudah menganggap Kalian yang di rumah ini anak sendiri.” Ujar Pak Yaya.
“ Oh ia Pak, maaf lancang sebelumnya, kalau anak dan istri Pak Yaya kalau boleh tahu di mana?” Tanya Krisna.
“ Tidak Apa – apa Mas, Anak dan istri saya ada di luar Kota Mas, anak saya sedang sekolah di sana dan istri saya di sana membuka butik.” Ujar Pak Yaya.
“ lalu kenapa Pak Yaya tidak bersama mereka?” Tanya Krisna.
“ Saya punya amanat untuk menjaga peninggalan keluarga, begitu juga istri saya, butik itu peninggalan keluarga Dia.” Ujar Pak Yaya.
“ Tapi maaf, hubungan Bapak dan istri seperti apa?” Tanya Krisna.
“ Hubungan kami masih sah suami istri Mas, hanya jarak saja yang menghalangi kita, tapi jika Anak saya sudah lulus, ada kemungkinan butik di sana di jual dan mereka pindah ke sini.” Ujar Pak Yaya.
“ memang Anak Pak Yaya berapa lama lagi bersekolah?” tanya Krisna.
“ Dia kemungkinan tahun ini lulus, tapi Dia bercerita kepada saya masih ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, jika memang itu benar pilihannya hanya satu, saya yang menjual seluruh aset ini atau istri saya yang menjual asetnya di sana.” Ujar Pak Yaya.
“ Sungguh luar biasa anak dan istri Bapak, saling percaya satu sama lain, mudah – mudahan pasangan saya juga sepeti itu nanti ya Pak.” Ujar Krisna.
“ Amin Mas, saya doakan.” Ujar Pak Yaya.
Kejujuran membuka semuanya, masalah yang di tutupi tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, begitu juga dengan jalan keluar, jika tidak di cari semua itu akan nihil. kejujuran dan keterbukaan menjadi kunci sebuah keberhasilan dalam setiap hal.