LANJUTAN 25

1525 Words
Persahabatan antara Krisna dan Ijam sangat lah erat sudah layaknya Adik dan Kakak, sampai lah di rumah kos Pak Yaya, Krisna sudah di sambut dengan Bram yang menunggu di teras rumah bersama Pak Yaya.   “ Bagus sekali Kau Kris, Aku Kau tanam di sini dari sore sampai malam.” Ujar Bram.   “ Maaf Bang, tadi pas berangkat terjebak macet, waktu di jalan berbarengan sama bubaran kantor, otomatis macet parah Bang.” Ujar Krisna.   “ Ya sudah lah, Yang penting motorku sudah pulang.” Ujar Bram.   “Oh ia Bang, Pak Yaya. perkenalkan Ini Ijam, sahabat Saya dari kampung, kita sudah bertahun – tahun tidak bertemu , jadi dia menyusul ke kota, dan sementara akan tinggal di sini.” Ujar Krisna.   Ijam tersenyum.   “ Bagus lah Kris, Jadi Kau Tidak akan kesepian.” Ujar Bram.   “ ia Kris, jadi di sini tambah ramai, dan Bapak juga nambah keluarga di sini.” Ujar Pak Yaya.     “ Syukur kalau Saya di terima di sini.” Ujar Ijam.   “ Oh ia Pak, Saya harus nambah berapa untuk bayar kos, jika di tambah teman Saya?’ Tanya Krisna.   “ Tidak usah Mas Kris, Bapak senang di sini tambah ramai.” Ujar Pak Yaya.   “ Ia Pak terima kasih.” Ujar Krisna.   “ ya sudah ajak temanmu ke kamar dan istirahat.” Ujar Pak Yaya.   “ Nanti ambil kasur tambahan di ruangan bawah.” Ujar pak Yaya .   “ Baik Pak, saya ke Kamar dulu.” Ujar Krisna.   “ ya sudah Pak, saya juga pulang dulu.” Ujar Bram.    Krisna dan Ijam akhirnya beristirahat, kasur tambahan pun di siapkan, mereka sambil melepas penat, sambil terus berbincang – bincang mengenang masa lalu, dan pengalaman saat sekolah di luar, hingga akhirnya pembicaraan mereka pun berujung serius perihal situasi di kampung saat ini.   “ Oh Ia Jam, kenapa Kamu menyusul ke kota, Ibu dan Bapak baik – baik kan di sana?” tanya Krisna.   “ Ia Kris, Bukannya Pak Dadang sudah mengabarimu sebelumnya?” Tanya Ijam.   “ Bapak?, tidak jam, sudah lama Aku dan Bapak tidak pernah berkomunikasi.” Ujar Krisna.   “ Aku kira hubungan kalian sudah membaik, Di kampung saat ini sedang carut marut Kris, Akibat musim kemarau, dan hal itu d manfaatkan oleh orang – orang tidak bertanggung jawab.” Ujar Ijam.   Ijam menjelaskan dengan rinci kejadian – kejadian yang terjadi di Kampung, mulai dari ancaman untuk Pak Dadang , kekeringan lahan, hingga perilaku Pak Sugeng yang mulai sangat keterlaluan, hingga puncaknya ancaman terhadap diri Ijam sendiri, yang membuat Ijam Harus mengungsi ke tempat Krisna di kota.   “ sungguh keterlaluan Pak Sugeng, Aku pun sama Jam, Tidak suka pada orang itu.” Ujar Krisna.   “ ia Kris, apa lagi di rumah Mu sekarang kini sepertinya banyak sekali makhluk yang Aku tidak tau itu apa, Ibu Eni sering sekali tiba – tiba pingsan dan Ki Amin sering melihat Sosok aneh di belakang rumah.” Ujar Ijam.   “ Maksudmu seperti apa Jam?” Tanya Krisna.   “ Aku juga tidak tahu Kris, tapi yang paling parah saat Ki Amin sampai teriak ketakutan dan Pak Dadang langsung mengecek dan begitu juga Pak Dadang yang teriak ketakutan, Aku cek ke belakang hanya pepohonan punya Ki Amin saja yang ada di sana.” Ujar Ijam.   “  Aku Boleh Jujur Jam.” Ujar Krisna.   “ Kenapa memangnya Kris?” Tanya Ijam.   “ Jadi dulu saat aku sebelum ke kota Pun suasana di rumah itu sudah tidak nyaman, Siti juga sampai tidak tenang dan selalu mengarahkan pandangan ke tempat penyimpanan beras Itu, hingga akhirnya Aku seperti melihat sosok bayangan yang Aku sendiri tidak tahu itu apa.” Ujar Krisna.   “ memangnya awal mulanya kenapa Kris bisa seperti itu?” Tanya Ijam.   “ Dulu saat kamu di luar negeri Jam, Bapak Ku bertemu dengan Pak Sugeng, saat itu pun Aku masih sibuk kuliah jadi Aku pun jarang memperhatikan apa yang mereka lakukan.” Ujar Krisna.      “ memang apa yang mereka lakukan Kris?” Tanya Ijam.   “ Aku kurang paham Jam, hanya saja seluruh warga kampung jadi menjauh dari sang pencipta, dan akhirnya sampai sekarang Jam, mereka jadi seperti itu.” Ujar Krisna.   “ Kita Harus menghentikan Pak Sugeng Kris, bagaimana Pun caranya.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, Kita hRus mencari cara, Oh ia Jam soal penampakan sosok yang sering ada di rumahku , apa Kamu juga pernah melihatnya?” Tanya Krisna.   “ Untuk soal Itu, Aku bersyukur Kris, Tidak pernah melihat, dan tidak pernah di ganggu, mungkin Karena aku bukan penghuni asli atau apa, Hanya saja suasana Rumah menjadi pengap, dan Tidak nyaman untuk di tinggali, Aku sempat bertanya juga kepada pak Dadang hanya saja Pak Dadang tidak mau menjawab Kris.” Ujar Ijam.   “ kalau menurutmu Kita Harus apa Jam?” tanya Krisna.   “ Menurutku kita harus mencari tahu penyebab rumah mu itu tidak nyaman, dan banyak sekali gangguan – gangguan.” Ujar Ijam.   “ Oh ia Jam, satu hal lagi yang harus kamu Tahu, Aku dulu pernah di ajak ke rumah Pak Sugeng , dan di ajak untuk ritual aneh, dan ujungnya Aku sebelum pergi ke kota di berikan Jimat, dan saat itu juga aku sering mendapat gangguan, hingga saat ini Jam.” Ujar Krisna.   " Sekarang mana benda Itu?” Tanya Ijam.   “ Benda itu sudah aku hancurkan Jam.” Jawab Krisna.   “ Salah besar Kamu Kris.” Ujar Ijam sambil menggeleng - gelengkan kepala.   “ Apa salahku Jam?” tanya Krisna.   “ Aku dulu sering, banyak membaca , tentang artikel – artikel tentang hal ini kris, Ya sedikit banyaknya aku tahu apa yang harus di lakukan.” Ujar Ijam.   “ Memang akibat jika Benda Itu di musnahkan, bakal berakibat apa Jam?” Tanya Krisna.   “ Benda itu sepertinya sudah di isi dengan makhluk lain Kris, dan jika kamu musnahkan rumahnya , otomatis kamu harus mencarikan naungan baru untuknya, bukan tanpa sebab, dia akan terus ikut dengan mu, mengganggumu, dan akhirnya membuatmu tertekan.” Ujarr Ijam.   “ Yang benar Jam?” Tanya Krisna cemas.   “ Betul Kris, Aku sering membaca tentang hal ini, ya mau itu benar atau tidak, tidak ada salahnya jika di lakukan.” Ujar Ijam.   “ Memang apa yang harus aku lakukan Jam?” Tanya Krisna.   “ Cari rumah baru untuknya, jika tidak, Kamu selamanya berada dalam gangguan makhluk itu, atau mungkin benda itu juga yang mengundang untuk tinggal di rumah Pak Dadang, Intinya Kita harus mencari tahu.” Ujar Ijam.   Mendengar cerita Ijam, Krisna mulai khawatir dengan keselamatan dirinya dan keluarganya, entah itu benar atau tidak, tapi gangguan ini begitu nyata, memang tidak sesering saat benda itu masih ada, tapi hati dan perasaannya selalu menunjukkan rasa gelisah, dan tidak tenang, apalagi saat menjalankan ibadah, seakan dirinya di ajak untuk jauh dengan sang pencipta.   “ Satu lagi Jam yang ingin Aku tanyakan, Tanganku ini sudah lama sakit seperti ini, seperti luka bakar, hanya saja tidak timbul rasa sakit sama sekali, Aku heran karna saat itu, Aku sedang menerima telepon dari siti dan Ayu, mereka menceritakan kondisi Ki Amin dan tiba – tiba saja Hp Ku terasa panas, otomatis Aku banting ke lantai, tapi saat aku lihat tidak ada ada apa – apa di Hp Ku, dan masih berjalan normal, dan ke esokan harinya tanganku sudah seperti ini dan Aku obatin tetap tidak sembuh.” Ujar Krisna.   “ Nah sepertinya memang Kamu Ada yang mengikuti, Satu pesanku Kris, tetap dekat dengan sang pencipta, sesulit apa pun rasanya paksakan saja , memang makhluk seperti itu sangat tidak suka jika kita beribadat.” Ujar Ijam.   “ Syukurlah Jam Sekarang Kamu ada di sini, aku Setidaknya ada teman berbagi pikiran, sebab jika dengan orang lain Aku sedikit canggung Untuk mengobrol masalah seperti ini.” Ujar Krisna.   “ Ia Kris, Tapi aku juga tidak bisa berdiam terlalu lama di sini, aku pun harus sesegera mungkin menyelesaikan urusanku di kampung , terutama dengan pak Sugeng.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam Aku pun paham, hanya saja jika Kamu memaksakan pun akibatnya terlalu berat, Karena Pak Sugeng memiliki banyak sekali kaki tangan, jadi kita pun harus main pintar sama Pak Sugeng.” Ujar Krisna.   Mereka berbincang hingga larut malam, sampai akhirnya Ijam merasa ada yang melempar benda terhadap dirinya, benda itu jatuh seperti di pundaknya, Hanya saja ketika Di crai benda itu tidak terlihat dan membuat Ijam dan Krisna kebingungan.   Bukan tanpa sebab, Ijam mendapat gangguan selamat datang, Ijam sendiri memiliki pengetahuan yang banyak tentang kejadian – kejadian di luar nalar, sehingga membuatnya menjadi sasaran untuk makhluk yang mengikuti Krisna. Tapi Ijam sangat tenang dan menanggapi hal itu sebagai hal biasa, meskipun seperti halnya manusia normal, Ijam pun memiliki rasa takut dan rasa cemas, tapi dengan pemikiran logisnya Dia bisa menenangkan dirinya sendiri.   Berbeda halnya dengan Krisna, Krisna pun merasa Ijam berprilaku aneh sesaat kejadian Itu, Krisna yang tahu ada hal yang tidak beres memilih untuk menutupi dirinya dengan selimut dan berusaha untuk tidur.   “ Kenapa Jam?” Tanya Krisna.   “ Mau Aku ceritakan atau tidak?” tanya Ijam.   “ Sudah Jam aku tahu alur bicaramu ke mana, Aku lebih baik tidur.” Ujar Krisna.   Ijam pun hanya tersenyum melihat kelakuan Krisna yang masih seperti dulu, Hati Ijam bercampur aduk antara bahagia bertemu dengan sahabatnya dan cemas memikirkan keluarga Pak Dadang dan situasi kampung yang sangat carut marut dengan kelakuan Pak Sugeng.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD