Ijam , Kini tinggal bersama keluarga Pak Dadang, kesehariannya Di rumah hanya lah Diam dan membantu Pak Dadang merawat Ki Amin, Lalu karena tidak enak dengan kebaikan Pak Dadang, Ijam yang awalnya berniat untuk pergi di halangi oleh Pak Dadang dan Bu Eni.
Ijam yang selama ini fokus untuk mencari ilmu, ingin mengembangkan dan mengamalkan ilmu yang Ia Dapat, melihat kondisi Ki Amin dan kondisi keluarga Pak Dadang yang sedang mengalami paceklik , lantas melihat peluang dari lahan yang tandus karena kekeringan, dengan ilmu yang Ia punya, Ia berinisiatif untuk membuat sesuatu yang lebih bermanfaat untuk warga terutama keluarga Pak Dadang, bukan tanpa sebab Ijam pun sehari – hari makan dan minum di rumah Pak Dadang, setidaknya bisa meringankan keluarga Pak Dadang.
“ Bu, kenapa Bapak sekarang jarang ke ladang?” tanya Ijam.
“ Apa yang bisa di harapkan dari ladang sekarang Jam, hanya tanah retak yang ada Jam.” Ujar Bu Eni.
“ Ijam sepertinya mau pergi Bu, Ijam Gak enak sama Ibu dan Bapak, takut jadi beban.” Ujar Ijam.
“ Justru Kami senang Kamu ada di sini Jam, Krisna kan kerja di kota, jangan berpikir seperti itu Jam.” Ujar Bu Eni.
“ Ia Bu, Ibu sama Bapak selalu baik ke Ijam, makannya Ijam mau pergi ke kota juga, jadi Ibu sama Bapak nanti tidak usah ke ladang lagi, tunggu Kiriman uang dari Ijam dan Krisna saja.” Ujar Ijam.
“ Jam, Ibu sama Bapak sudah tua, di tambah Ki Amin sedang sakit, jadi di sini gak ada siapa – siapa yang bisa di andalkan , sudah kalau kamu ingin bekerja , garap saja ladangnya Bapak.” Ujar Bu Eni.
“ Tapi sekarang sedang susah air, jadi rasanya kurang cocok jika di tanami.” Ujar Ijam.
“ Terserah kamu saja Jam, yang penting intinya Ibu sama Bapak gak mengijinkan kamu untuk pergi, Kami sudah menganggapmu sebagai anak kandung, jadi Ibu harap kamu tetap di sini.” Ujar Bu Eni tegas.
Ijam merasa terharu, orang tua Ijam sendiri tidak pernah menanyakan kabar, atau apa pun layaknya orang tua kandung, tapi berbanding terbalik dengan keluarga Pak Dadang yang sangat sayang terhadap Ijam.
“ Ya sudah Bu, Ijam tidak akan pergi, Ijam akan tetap di sini dan akan mengurus ladang milik Bapak.” Ujar Ijam.
“ Syukurlah, tapi mau di apakan ladang tandus seperti itu?” Tanya Bu Eni.
“ Jadi dulu Ijam pernah belajar membuat seperti barang – barang dari tanah liat, seperti genteng, guci, gentong yang seperti itu Bu, Jadi Ijam bakal coba dulu sedikit mudah – mudahan hasilnya bagus, lalu bisa di jual.” Ujar Ijam.
“ Terserah Kamu saja, yang penting menghasilkan, asal jangan di jual saja ,yang ada Pak Dadang Marah besar.” Jawab Bu Eni bercanda.
“ Ya enggaklah Bu, Do’ain ya Bu.” Ujar Ijam.
“ Oh Ia Bu, Ijam boleh minta kontaknya Krisna?, Ijam sudah lama tidak ngobrol.” Ujar Ijam.
“ Boleh, tapi lebih baik teleponnya nanti saja pas sore, soalnya Krisna pasti sedang bekerja.” Ujar Bu Eni.
“ Ia Bu.” Jawab Ijam.
Selepas perbincangan mereka, tiba – tiba Bu Eni mencium harum melati dan dupa, mereka hanya saling bertatap muka, tidak ada kata sedikit pun yang terucap, dan finalnya Bu Eni melihat di belakang Ki Amin sedang ada yang berdiri tegak, badannya tinggi besar, sontak saja mulut Bu Eni Kaku dan tidak bisa berkata lagi, tangannya hanya menepuk – nepuk punggung Ijam, Ijam kebingungan melihat tingkah dari Bu Eni, muka Bu Eni pun seketika pucat, dan ketika Ijam menepuk tangan Bu Eni, langsung saja Bu Eni pingsan dan terkapar di lantai.
Ijam yang melihat Bu Eni seperti itu langsung saja menyadarkan Bu Eni , ijam langsung mencari minyak angin dan langsung mengoleskannya ke area hidung Bu Eni, perlahan Bu Eni pun sadar dan pandangannya langsung tertuju ke arah kamar Ki Amin.
“ Dia sudah pergi Jam?” Tanya Bu Eni.
“ Dia siapa Bu? Di sini Cuma ada Ibu, Ijam dan Ki Amin, kan kalau Bapak lagi keluar beli obat untuk Ki Amin.” Ujar Ijam.
“ Tadi ada yang berdiri di belakang ki Amin, tubuhnya tinggi besar, hitam semua jam.” Ujar Bu Eni.
“ Mungkin Ibu terlalu cape , tubuh Ibu juga panas ,” sambil memegang kening Bu Eni. “ Ibu istirahat saja biar pekerjaan rumah Ijam yang bereskan.” Ujar Ijam.
Bu Eni yang syok , hanya terdiam dan akhirnya jatuh sakit, Ijam sekali lagi melihat kejanggalan di rumah itu, lalu ijam lebih memilih untuk bertanya terhadap Krisna via telepon.
“ sudah Aku duga, ada yang tidak beres dengan rumah ini , lebih baik Aku tanyakan pada Krisna, sebab kalau Aku tanya Ke Bapak sepertinya akan marah dan di sangkanya aku mencurigai hal yang bukan – bukan.” Ujar Ijam keheranan.
Ijam melihat jam tangannya dan menunjukkan waktu tepat pukul 5 sore.
“ Sudah jam 5, sepertinya Krisna udah pulang kerja, sebaiknya aku telepon di luar saja takut terdengar Ibu.” Ujar Ijam.
Ijam langsung menelepon Krisna.
“ Halo, Kris.” Ujar Ijam.
“ Halo, Ini siapa?” tanya Krisna.
“ Aku sahabat Mu.” Ujar Ijam.
“ Siapa?” Tanya Krisna.
“ Masa Kamu lupa, Aku Ijam Kris.” Ujar Ijam.
“ Serius?, Aku masih tidak percaya.” Ujar Krisna.
“ Sahabat Mu tidak akan lupa kebiasaan buruk Mu.” Ujar Ijam.
“ Maksudnya?” Tanya Krisna.
“ Ia Kamu dulu sering ngambil, buah mangga muda milik orang lain, lalu kamu bawa ke rumah, dan kamu simpan di bawah kasur biar cepat matang, dan lebih parahnya lagi Aku ikut makan Buah hasil curian itu, sekarang Kamu percaya aku Ijam?” Tanya Ijam.
“ ya, betul ini kamu Ijam,” Sambil tertawa. “ Apa kabar Jam, sudah lama tidak bertemu, Kamu sekarang di mana dan kenapa tau nomor telepon Ku.” Ujar Krisna.
“ ceritanya terlalu panjang Kris, Aku takut pulsa Ku gak akan cukup untuk kita mengobrol sampai akhir, Aku langsung saja ya!” Ujar Ijam.
“Bisa saja Kamu Jam, oke langsung saja kebetulan Aku juga baru sampai tempat kos.” Ujar Krisna.
“ Tapi sebelumnya kamu jangan tersinggung ya!” Ujar Ijam.
“ Oke , kapan Aku pernah tersinggung.” Jawab Krisna.
“ Semenjak Aku pergi sekolah keluar dulu, Keluargamu berbuat Apa?’ Tanya Ijam.
“ Maksudmu?” Tanya Krisna.
“ Ia Aku curiga Keluargamu , melakukan hal yang menyimpang.” Ujar Ijam.
“ Kamu sudah balik Jam?’ tanya Krisna.
“ Ia Kris, Aku sudah pulang dan tinggal di rumahmu , dan rencananya Aku akan menggarap ladang milik Pak Dadang.” Ujar Ijam.
“ Oh Syukurlah, titip mereka di sana ya.” Ujar Krisna.
“ Sebenarnya sudah lama Ki amin dan Bapak Ku, mengabdi ke dukun di ujung hutan , namanya Pak Sugeng.” Jawab Krisna.
“ Pantas, saja.” Ujar Ijam.
“ Pantas apa Jam?” tanya Krisna.
" Ya Aku merasa ada hal yang janggal di sini, selama aku di sini mulai dari Ki Amin dan Pak Dadang, bertingkah aneh, dan terakhir Ibumu Pingsan , katanya melihat sesuatu yang Aku sendiri tidak paham apa, hanya saja aku tau apa yang mereka alami.” Ujar Ijam.
“ Ibu pingsan Jam, Dia gak papa kan?” Tanya Krisna.
“ Tidak Apa – apa Kris, hanya demam saja, tenang Aku jaga mereka Ko.” Ujar Ijam.
“ sebenarnya Aku pun, mengalami hal yang aneh Jam, hanya saja Aku belum cerita ke orang lain, kapan ya kita bisa ketemu.” Ujar Krisna.
“ Aneh?” perbincangan mereka pun harus terhenti sebab Ijam melihat Pak Dadang pulang dan menuju ke rumah. “ oh Ia Kris, nanti Aku telepon lagi ya.” Ujar Ijam.
Ijam langsung menutup telepon, untuk menutupi perbincangannya dengan Krisna, sebab masalah ini masih tetap harus di dalami, sementara di sisi lain Krisna merasa tenang dengan datangnya Ijam, sehingga keluarganya bisa di jaga Ijam, dan karena Ijam merupakan sahabat dari kecil dan sudah di anggap adik, rasa canggung untuk bertukar pikiran pun tidak akan terjadi, dengan harapan muncul solusi untuk semua permasalahan di keluarga Krisna.