LANJUTAN 14

1286 Words
  Keluarga adalah harta yang sangat berharga, keluarga juga bisa di gambarkan seperti anatomi tubuh, jika salah satu bagian terluka maka bagian tubuh yang lain yang akan membantu menyembuhkannya, dan melindungi agar tidak kembali terluka.   Begitu juga Pak Dadang, menyadari bahwa semua kejadian di rumahnya merupakan satu kesatuan dengan kondisi Ki Amin yang sering meracau tidak karuan, Pak Dadang merasa dirinya harus segera mencari jawaban dan solusi untuk keluarganya, terlebih melihat kondisi Ki Amin yang dari hari ke hari tidak ada perubahan.   Pak Dadang bersikeras dirinya mampu mendapatkan jalan keluar dari semua masalah ini dengan caranya sendiri, dia bertanya ke setiap orang pintar, dari kampung ke kampung tapi hasilnya selalu nihil, dan hanya membuang waktu saja, hingga akhirnya Pak Dadang bertemu dengan Ijam, Ijam yang merupakan teman Krisna saat masih kecil.   Ijam sendiri merupakan seseorang yang Berpendidikkan sangat luas, ilmu agamanya sangat dalam, santun dan ramah. Ijam baru saja menyelesaikan sekolahnya di luar negeri, karena kepintarannya Dia bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri selama bertahun -  tahun. Tiba di kampung halamannya Ijam merasa Asing, bukan tanpa sebab lingkungan saat sebelum Ijam pergi masih sangat asri, tapi kini justru sangat berbalik.   Saat datang dari bis, Ijam langsung berkeliling untuk menikmati nostalgia pada saat kecil dulu, meskipun semua tak lagi sama.   “ Dulu Aku ingat di sini, saat masih penuh dengan sawah,” sambil duduk dan memandang ke arah lapangan tanah tandus. “ Aku dulu sama Krisna sering di marahi sama Pak Dadang, Gara – gara sawah yang baru di tanam padi sudah rusak terinjak.” Ujar Ijam sambil tersenyum , mengenang masa lalu.   “ Oh ia, Krisna sekarang gimana ya, kabarnya sudah bertahun – tahun tidak pernah komunikasi, Aku juga kangen sama Bu Eni dan Pak Dadang, mereka sudah ku anggap sebagai orang tua ku sendiri.” Ujar Ijam.   Ijam sendiri dari kecil tinggal bersama neneknya, orang tua Ijam pergi meninggalkan Ijam untuk bekerja di pulau lain, Ijam dari kecil sampai sekarang tidak tau wajah orang tua nya . orang tua Krisna selalu membantu merawat Ijam, dan menyetarakan Ijam seperti Krisna, layaknya adik dan kakak, sehingga Pak Dadang dan Bu Eni sudah di anggap sebagai Orang tua Ijam sendiri.    sekarang hanya ada rumah peninggalan neneknya saja yang masih ada di kampung itu, rasa rindu terhadap keluarga Pak Dadang membuat Ijam ingin segera bertemu dengan mereka. Niatan itu pun seketika langsung terkabul , saat Ijam berdiri dari duduknya, terlihat dari kejauhan Pak Dadang sedang berjalan menuju ke arahnya.   “ Pak, Pak Dadang.” Sahut Ijam dari kejauhan.   Pak Dadang melihat , tapi belum sadar bahwa yang memanggilnya itu adalah Ijam. Lekas Ijam mendekat ke arah Pak Dadang.   “ Pak, bagaimana Kabar Bapak sama Ibu?” Tanya Ijam .   “ Sebentar Kamu siapa?” Tanya Pak Dadang.   “ Ini saya Ijam Pak, yang dulu sering di asuh sama Ibu Eni, yang sering di marahi sama Bapak.” Jawab Ijam.   “ Ijam!” di rangkulnya Ijam.  “Kapan Kamu Balik? , Sudah berapa tahun Kita tidak komunikasi, sekarang Kamu semakin tumbuh besar saja.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak , Ijam baru saja sampai, Terus Ijam berkeliling, dan akhirnya bertemu dengan Bapak.” Ujar Ijam.   “ Oh ia, Kamu sudah ke rumah nenekmu?’’ Tanya Pak Dadang.   “ Belum Pak.” Ujar Ijam.   “ Rumah nenekmu sudah rusak Jam, sudah lama tidak ada yang isi, lebih baik Kamu tinggal di rumah Bapak saja.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak, Saya pergi terlalu lama.” Ujar Ijam.   “ Sudah Ikut saja sama Bapak, Ibu juga pasti senang liat kamu pulang.” Ujar Pak Dadang.   “ Jangan Pak, ijam sudah dewasa, Ijam banyak berhutang budi sama Bapak, dari dulu Ijam selalu di sama kan dengan Krisna, dari mainan, baju, hingga sekolah, padahal saya bukan siapa – siapa.” Ujar Ijam.   “ Sudah jangan di pikirkan, Bapak hanya Prihatin saja melihat kondisi kamu, sudah Ikut Bapak.” Ujar Pak Dadang.   Akhirnya Ijam mau menuruti perkataan Pak Dadang, di sepanjang perjalanan mereka berbincang dan mengenang masa lalu, Ijam dan Krisna.   “ Oh Ia Pak, Krisna dimana?” Tanya Ijam.   “ Krisna sekarang di kota Jam, dia bekerja di sana sudah berbulan – bulan tidak pulang juga.” Ujar Pak Dadang.   “ Syukur Pak, kalau Krisna sudah bekerja.” Ujar Ijam.   “Ia Jam, Cuma di rumah sedang ada yang sakit.” Ujar Pak Dadang.   “ Siapa Pak?” Tanya Ijam.   “ Ki Amin Jam.” Jawab Pak Dadang.   “kalau boleh tau , Ki Amin sakit apa?” Tanya Ijam.    Itu dia Jam, penyakitnya belum ketemu, mulai dari dokter , herbal alternatif, semua bilang tidak ada apa – apa, bahkan kata dokter Ki Amin hanya terkena dehidrasi, padahal porsi makan Ki Amin sangat Banyak , Gak ngerti Bapak juga.” Ujar Pak Dadang.   “ ya sudah Pak, Kita minta saja sama sang pencipta biar Ki Amin segera di berikan kesembuhan ya Pak.” Ujar Ijam.   Perbincangan mereka begitu seru, sampai akhirnya mereka sampai , tapi  terdengar suara teriakan dari dalam kamar Ki Amin.   “ Suara apa itu Pak?” Tanya Ijam.   “ Ki Amin Jam.” Pungkas Pak Dadang dan langsung berlari ke dalam.   “ PANAS .” Sahut Ki Amin.   Ijam merasa terharu melihat keadaan Ki Amin, Dia hanya melihat Ki Amin dari pintu kamar, teriakan – teriakan Ki Amin semakin keras, setelah beberapa lama, Ki Amin langsung terdiam dan tertidur dengan tubuh penuh keringat.   Bu Eni hanya melihat Ijam, dirinya tidak mengetahui Ijam sudah pulang ke kampung itu, sudah lama tidak bersua membuat banyak perubahan drastis dari tubuh Ijam, putih bersih itu lah perawakan Ijam sekarang, sangat berbanding terbalik pada saat masih sangat belia.   “ Maaf, Mas dari mana?” Tanya Bu Eni kepada Ijam.   “ Saya teman Krisna Bu.” Jawab Ijam.   “ Teman yang mana?, Ibu soalnya jarang lihat.” Ujar Ibu Eni.   “ teman waktu kecil Bu.” Ujar Ijam sambil tersenyum.   “ Ya ampun , Ijam!, Kapan Kamu pulang , Bertahun – tahun tidak bertemu, Kamu sangat berbeda Jam.” Ujar Bu Eni.   “ Beda apanya Bu, Sama saja.” Ujar Ijam.   “ Oh Ia Bu, Ki Amin Sejak kapan sakit?” Tanya Ijam.   “ Bapak, sudah berbulan – bulan seperti ini terus, tidak ada perubahan, dan anehnya Bapak teriak, dan meracau seperti tadi Kamu lihat.” Ujar Bu Eni.   “ Awalnya kenapa Bu , Ki Amin bisa seperti itu.” Ujar Ijam.   “ Ibu juga kurang Tau Jam, Ya sudah kamu duduk dulu saja, istirahat dulu, Ibu ambilkan minum dulu.” Ujar Bu Eni.   Sembari Bu Eni mengambilkan Ijam minum, Ijam Duduk, dan melihat sekitar, suasana di rumah Ki Amin juga sangat berbeda,  hawanya sangat dingin, sumpek, auranya tidak nyaman, sangat berbeda pada saat dulu Ijam masih kecil,dulu suasana rumah Ki Amin sangat nyaman dan asri. Ijam yang dulu di rawat di rumah itu pun sangat merasakan perbedaan nya.       Ijam pun sudah mulai menaruh curiga akan semua kejadian yang baru Dia alami, Ijam merasakan hal janggal ketika ki Amin meronta – ronta dan meracau, Dia melihat Ki Amin mempunyai sesuatu yang di pendam, entah itu apa, tapi yang jelas itu yang menghambat Ki Amin dalam segala hal, termasuk untuk melepaskan raganya sendiri.   Tapi itu semua hanya lah spekulasi saja, semua kejadian itu tidak bisa di tafsirkan secara mentah, harus di dalami terlebih dahulu, sehingga jalan keluar serta penyelesaiannya pun tidak akan melenceng dan sesuai dengan apa yang seharusnya di perbuat.   Kedatangan Ijam pun menjadi angin segar untuk keluarga Ki Amin, mereka seperti menemukan anaknya yang hilang, rasa sayang terhadap Ijam pun sama dengan rasa sayang terhadap Krisna yang merupakan anak kandung Pak Dadang dan Bu Eni. Semua permasalahan dalam hidup datang dengan jalan keluarnya sendiri, tugas kita mencari dan jangan pernah takut, sesegera mungkin jalan itu harus di temukan, meskipun jalan yang di lalui tidak lah mudah.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD