Suasana perkampungan Krisna dulu sangat asri, semua tampak hijau dari kejauhan, bapak dan ibu petani pun sangat giat menggarap sawah, itu lah yang ada di benak Krisna, tapi kenyataan berkata lain, suasana di kampungnya begitu sangat jelas berbeda kini tidak terlihat para petani yang menggarap sawah, hanya hamparan tanah pecah – pecah akibat kekeringan.
Sambil berjalan menuju rumahnya Krisna tidak melihat satu orang bahkan satu tetangga pun yang berada di luar rumah, sedangkan Krisna saat itu datang pagi – pagi dari kota, jadi itu salah satu hal janggal yang menyambut kedatangan Krisna.
“ Ini aneh, kenapa jadi sepi seperti ini, tidak seperti biasanya.” Ujar Krisna sambil memandang hamparan luas tanah kering.
Tiba di rumah pun Krisna langsung masuk tanpa memberi salam, tas bawaannya dia tinggalkan di teras rumah, saat masuk ke dalam , udara seperti sangat pengap, padahal rumah Krisna bisa di bilang cukup luas.
Pandangannya selalu melihat ke arah ruangan kosong tempat penyimpanan beras, Krisna masuk perlahan , semakin masuk ke dalam tidak terdengar suara Bapak dan Ibunya, kebetulan ruangan kosong itu sedang terbuka, rasa penasaran Krisna semakin memuncak.
Selangkah demi selangkah Krisna masuk semakin dekat dengan ruangan itu, dan ketika masuk, di sana hanya ada tumpukan gabah dan beberapa sajen persembahan, dan ketika Krisna keluar dari ruangan itu, terlihat bayangan hitam yang masuk ke dalam kamar Ki Amin.
“ tidak ada yang aneh dengan ruangan ini, sebaiknya Aku keluar saja, dari pada ketahuan Bapak, bisa di gantung Aku.” Ujar Krisna meninggalkan ruangan itu.
“ Ah , sepertinya pandanganku sedang kabur.” Ujar Krisna setelah melihat bayangan hitam masuk ke dalam kamar Ki Amin.
Terkejut Krisna saat berjalan menuju kamar Ki Amin, Ayu yang saat itu kebetulan ingin menjenguk KI Amin, tiba – tiba mengagetkan Krisna yang tidak menyangka bahwa Krisna akan pulang.
“ Kamu Ay, kenapa bisa ada di sini, jujur Aku kaget .” Ujar Krisna.
“ Aku mau jenguk kakekmu, katanya sakit jadi Aku ke sini, Kamu sendiri kenapa gak bilang mau pulang.” Ujar Ayu.
“ Aku juga gak ada niatan pulang awalnya, Cuma Bapak menelepon ngasih kabar , kalau Kakek sedang sakit, jadi Aku langsung pulang.” Ujar Krisna.
“ Lagi pula aku gak akan lama, besok atau lusa Aku pasti balik ke kota, bosku tidak mengizinkan aku pergi lama.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah , yang penting jenguk dulu kakek mu.” Ujar Ayu.
“ Tumben sendiri, Siti kemana?” Ujar Krisna.
“ siti juga sama sedang sakit, jadi Aku pergi sendiri .” Ujar Ayu.
“ Ya sudah nanti kita jenguk Siti ya, Oh ia Kamu liat bapak sama Ibu Aku gak?” Tanya Krisna.
“ Aku liat mereka tadi pergi, barusan di jalan, dan menyuruh Ku untuk ke rumah, jagain Ki Amin sebentar, katanya mereka mau beli obat untuk Ki Amin.” Ujar Ayu.
“ sebentar.” Ayu melihat Krisna selalu menggunakan sarung tangan. “ Kenapa sarung tangannya gak di lepas, di sini panas loh, gerah.” Ujar Ayu.
“ Oh ini , Aku sedang alergi , jadi Aku harus selalu memakai sarung tangan ini, biar gak kedinginan.” Ujar Krisna.
“ Sejak kapan Kamu punya alergi ?” Tanya Ayu.
“ Cuaca di sana kan berbeda, di sana itu kadang panas kadang dingin dan polusi udaranya juga banyak, otomatis Aku harus adaptasi dengan situasi di sana.” Ujar Krisna.
“ Oh ia deh, ayo liat kakekmu di kamar.” Ajak Ayu.
Mereka berdua memasuki kamar Ki Amin, suasana nya begitu sunyi, terlihat juga Ki amin sedang tertidur menghadap jendela, dengan posisi miring, begitu jelas tubuh renta Ki Amin, tulang yang seperti hanya berbungkuskan kulit dan terlihat gerak menarik dan mengeluarkan nafas , tapi ada satu hal yang mencolok, ada bekas luka yang sangat jelas terlihat, luka itu seperti luka bakar yang memanjang, dan lebih mirip dengan luka di tangan Krisna.
Krisna merasa hal ini berkaitan dengan kejadian yang menimpanya, bekas luka yang di tinggalkan begitu tampak terlihat, Krisna lalu duduk di tempat tidur Ki Amin, perlahan Krisna mendekati dan berbicara.
“ Kakek, Ini Krisna Kek.’’ Ujar Krisna berbicara dengan suara yang pelan.
“ Kek, ini ada Ayu juga, Kakek sakit apa, dan Kakek mau bicara apa sama Krisna.” Ujar Krisna.
Ki Amin Lalu membalikkan badannya, dan hanya satu kalimat yang terus di ucapkan Ki amin.
“ Tolong Kakek Kris, lepaskan Kris.” Ujar Ki Amin.
“ Apa yang harus Krisna lepaskan Kek?” Tanya Krisna.
Ki Amin hanya meracau dan yang keluar dari mulutnya hanya kata – kata itu, Ayu yang melihat kondisi Ki Amin tidak kuasa menahan tangis, lalu datang Ibu dan Bapak Krisna, dan menyuruh Krisna dan Ayu untuk keluar dahulu.
Sedih ,itu lah yang saat itu Krisna rasakan, melihat kondisi Kakeknya yang sudah tidak berdaya, dan menjadi pertanyaan besar baginya, tentang perkataan kakeknya.
“ Maksud nya Kakekmu itu apa Kris?” Tanya Ayu.
“ aku juga tidak paham Ay, apa yang harus Aku lepaskan dari Kakek Ku!” Ujar Krisna.
Krisna akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Siti sambil menjenguk, tapi di balik itu Krisna ada sedikit pertanyaan yang sepertinya hanya bisa di jawab oleh siti dengan kemampuan indigonya.
Sesampainya di kediaman Siti, terlihat Siti sedang duduk di luar sambil berjemur, mereka bergegas mendekati siti, dan terlihat wajah siti seperti terdapat luka merah di pipi kanan nya.
“ Halo Siti.” Ujar Krisna menyapa.
“ Eh Kamu Kris, kapan datang?” Tanya Siti.
“ Baru sampai Sit, tadi langsung kerumah liat kakek.” Ujar krisna.
“ Oh ia Sit, Muka kamu kenapa, semalam gak ada?” Tanya ayu.
“ Oh, ini tiba – tiba malam aku kaya kejatuhan cicak dari atas pas tidur, ehh tiba – tiba wajahku ada bekas warna merah, Kayanya alergi.” Ujar Siti.
Krisna berspekulasi Dirinya, kakek, dan Siti mengalami gejala yang sama, Krisna langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang semua hal janggal tentang dirinya dan kakekknya, takut sesuatu yang lebih parah akan terjadi kepada Siti.
Perbincangan mereka begitu menyenangkan, hingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan tengah hari, dan saat itu juga telepon Krisna berdering, tertuliskan Bram sahabat Krisna di kota.
“ Bram ?, Ada apa telepon.” Sambil mengangkat panggilan ,” Halo, kenapa Bang?” Ujar Krisna.
“ Kris, maaf ganggu , kau sudah sampai di kampung?” Tanya Bram.
“ Sudah Bang, tadi pagi Aku sudah sampai, ada apa Bang?” Tanya Krisna.
“ Ini Kris, besok akan ada rapat besar – besaran di kantor, semua karyawan termasuk OB di wajibkan hadir, jika tidak hadir akan di pecat tanpa pesangon.” Ujar Bram.
“ Waduh, ya sudah Bang Aku nanti malam akan pulang.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, terserah Kau saja, yang penting aku sudah kasih Info , salam Buat keluarga Mu di kampung.” Ujar Bram.
“ Ok Bang , terima kasih infonya.” Ujar Krisna.
Pikiran Krisna kini terbagi, rasa sedih melihat kondisi kakeknya, dan rasa tanggung jawab tentang pekerjaannya, tapi Krisna lebih memilih untuk pulang ke kota demi tetap bisa bekerja.
Pak Dadang tentu saja tidak senang dengan pilihan Krisna, Pak Dadang merasa Krisna sudah mulai memilih pekerjaan dari pada keluarga, sehingga Pak Dadang pun Marah dan meyuruh Krisna untuk keluar dari pekerjaan itu dan menyuruhnya untuk menjadi petani saja di kampung.
Krisna merasa Pilihannya selalu di tentang oleh Pak Dadang, pertengkaran dengan hati , tidak bisa Krisna hindari, Krisna pun sesumbar dan ingin menunjukan kepada keluarganya bahwa pilihannya itu benar, meskipun Dia sedih melihat kondisi kakeknya, tapi do’a tidak pernah putus untuk kesembuhan Kakeknya.
Hanya do'a yang bisa Krisna lakukan untuk kesembuhan Kakek dan Siti, serta berharap semua masalah yang sedang ia alami segera berakhir, meskipun sebenarnya ini baru awal masalah yang di hadapi , masih banyak lika -liku kehidupan dan perang batin yang akan Krisna hadapi.