LANJUTAN 44

1027 Words
Ijam dalam perjalanannya tampak sangat gelisah, tidak henti – hentinya Ijam melihat waktu, tangannya selalu di turun dan naikkan melihat jam yang di r, hingga akhirnya waktu berlalu, Ijam sampai di kampung, Ijam mengendap - endap berjalan, menghindari warga kampung, terutama kaki tangan pak Sugeng.   Tepat saat itu waktu menunjukkan jam 9 malam, tidak seperti biasanya tidak ada satu pun warga yang beraktivitas, seperti ronda malam bahkan kegiatan berdoa bersama pun sepertinya sudah di tinggalkan oleh warga.   Ijam berjalan menuju rumah Pak Dadang, hingga sampai di rumah itu, Ijam masuk dengan wajah yang sangat terkejut.   “ Sudahku duga sebelumnya, jika ini akan terjadi, dan sepertinya Pak Dadang di bawa oleh Pak Sugeng.” Ujar Ijam.   Ijam hanya menggelengkan kepala sambil melihat sekitar, Ijam pun memutuskan untuk meninggalkan rumah itu, dan berjalan menuju rumah Pak Sugeng, sesaat Ijam berhenti untuk mengabari Krisna tentang kondisi Pak Dadang.   “ Halo Jam, sudah di mana Kamu.” Tanya Krisna.   “ Aku sudah sampai Kris, hanya saja kondisi rumah sangat berantakan, Aku curiga jika Pak Dadang di bawa oleh Pak Sugeng.” Ujar Ijam.   “ yang betul Jam.” Ujar Krisna panik.   “ Aku berharap jika dugaanku salah, Aku hanya menduga Kris.” Ujar Ijam.   “ Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan Jam, apa perlu Aku susul ke sana?” Tanya Krisna.   “ Jangan Kris, nanti Bu Eni bisa curiga dan membuat panik semua yang di sana.” Ujar Ijam.   “ Aku akan ke rumah Pak Sugeng sekarang, Aku sudah kesal dengan kelakuannya akhir – akhir ini.” Ujar Ijam.    “ Apa tidak bahaya Jam, jika Kamu ke sana sendirian.” Ujar Krisna.   “ Risiko ini harus Aku ambil Kris, tenang saja, Aku pun punya strategi untuk menghadapinya.” Ujar Ijam.   “ Strategi apa Jam, jangan sampai pengorbanan kita sia -sia Jam.” Ujar Krisna.   “ Aku tidak akan langsung bertemu dengan Pak Sugeng Kris, Aku hanya ingin memastikan jika Pak Dadang benar – benar ada di sana, Aku akan bertemu dengan warga yang memang Aku percaya dari awal, mereka bisa Aku andalkan.” Ujar Ijam.   “ Ya Sudah , Aku ikut saja rencanamu, tapi Kamu jangan gegabah mengambil keputusan.” Ujar Krisna.   “ Ia Kris, doakan saja dari sana, biar Pak Dadang tidak apa – apa, dan Aku bisa memberikan pelajaran terhadap orang Itu.” Ujar Ijam.   “ Pasti Jam, hati – hati, selalu kabari keadaan di sana.” Ujar Krisna.   Ijam pun mulai mengunjungi warga yang menurutnya bisa di andalkan, satu persatu warga bisa di ajak kerja sama tanpa terendus oleh kaki tangan Pak Sugeng, hingga akhirnya Ijam pun memutuskan untuk bersembunyi di salah satu rumah warga yang dia percaya.   Waktu berlalu, fajar pun mulai muncul, rencana Ijam adalah menyuruh beberapa warga untuk pergi ke rumah Pak Sugeng dan berpura pura melihat orang yang mirip Pak Dadang, hingga akhirnya Pak Sugeng terpancing dan menyebutkan jika Pak Dadang sudah berada di rumahnya.   “ Tidak mungkin Si Dadang ada di luar sana, Dia bukan yang asl mungkin hanya mirip saja, Pak Dadang yang sebenarnya Sudah aku tangkap di kamar itu.” Ujar Pak Sugeng.   Warga pun memberitahukan kebenaran jika Pak Dadang berada di rumah Pak Sugeng, sontak saja Ijam sangat marah dengan hal Itu, Ijam terus memikirkan cara agar Pak Dadang bisa keluar dari rumah Pak Sugeng.    Pak Sugeng pun , hampir setiap hari memberikan tekanan mental terhadap Pak Dadang, Pak Dadang hanya bisa terdiam dan memendam amarahnya.   “ Sudah puas Kamu Dang?” Tanya Pak Sugeng.   “ Jika kamu belum puas dengan apa yang Aku perlakukan sekarang, Aku akan terus membiarkanmu di tempat ini, dan sebagai contoh untuk warga ini yang tidak mau mendengarkanku.” Ujar Pak Sugeng.   “ Segera bertaubat Kau Sugeng.” Ujar Pak Dadang yang penuh luka lebam.   “ Tidak salah kau berbicara itu kepadaku, Harusnya Kau ini tahu diri, sedari dulu Kamu yang salah telah mempercayaiku.” Ujar Pak Sugeng.   “ Jangan menjadi suci di saat seperti ini, dirimu layaknya b***k di mataku Dang.” Ujar Pak Sugeng.   “ Aku memang tidak Suci, tapi Hatiku sekarang sudah terbuka, tidak sepertimu yang mempunyai hati batu.” Ujar Pak Dadang.   “ Semakin banyak Kau berbicara, semakin sering juga tangan ku ini melayang Dang.” Ujar Pak Sugeng.   “ Silakan saja , memang Aku layak mendapatkan ini, Aku mending di siksa seperti ini sekarang dari pada nanti saat Aku tidak ada dalam keadaan kotor sepertimu.” Ujar Pak Dadang.   “ Semenjak di kota kau belajar Apa?, pintar sekali Kau bicara.” Ujar Pak Sugeng sambil melayangkan tamparan.   Pak Dadang terus menerus menerima perlakuan yang tidak baik, Pak Sugeng pun meninggalkan Pak Dadang yang terkulai lemas.   “ Aku akan terus berbuat seperti ini kepadamu Dang, sampai Kamu sadar telah membuat kesalahan terhadapku.” Ujar Pak Sugeng kembali mengunci kamar Pak Dadang.   Pak Dadang akhirnya tidak tahan lagi menahan tangis, penyesalan yang sangat mendalam terus menerus di rasakan Pak Dadang, dan membuat Pak Dadang sangat tertekan, teringat akan keluarganya yang jauh di sana, menambah rasa rindu dan penyesalan yang besar.   Pak Dadang telah satu hari satu malam berada di ruangan Itu, hanya minum yang di sediakan oleh Pak Sugeng, Pak Dadang pun akirnya mencari cara agar dia bisa keluar dari ruangan Itu, Dia terus menerus meraba setiap sudut ruangan itu, matanya tidak dapat melihat satu benda pun, sebab ruangan itu sangat gelap, bahkan lubang udara pun tidak ada sama sekali.   “ sepertinya Dia ingin membunuhku perlahan, Aku harus segera keluar dari ruangan Ini.” Ujar Pak Dadang.   Tumpukan benda yang ada di sana pun tidak bisa di lihat dengan jelas oleh pak Dadang, hingga akhirnya sebongkah kayu pun serasa di gengam Pak Dadang.   “ Benda Apa ini, sepertinya kuat untuk mendobrak pintu.” Ujar pak Dadang.   Pak Dadang tidak tahu posisi pasti pintu berada, hingga setiap sudut Ia pukul dengan keras, hingga mendengar suara pintu yang di pukul, layaknya orang yang kebingungan, Pak Dadang memukul ke segala arah hingga tenaganya terkuras banyak, akhirnya Pak Dadang menemukan pintu , dan terus memukul pintu itu dengan aharapan pintu itu bisa rusak.   Tapi anggapan Pak Dadang sangat lah salah, dan hanya membuang waktu saja, Pintu itu sangat kokoh dan tebal, Pak Sugeng pun mendengar suara gaduh di dalam ruangan itu dan hanya tersenyum mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD