Krisna sangat panik mendengar kabar dari Pak Yaya, jika Pak Dadang pergi meninggalkan kota secara diam – diam, Krisna mencoba menyusul Pak Dadang dengan segala cara, dan berharap Pak Dadang belum jauh dari tempat itu, Krisna berlari dengan sangat kencang, semua halangan di hadapi, perjalanan menuju terminal bis cukup memakan waktu jika berjalan, sehingga Krisna berlari dan membuat Krisna jadi pusat perhatian bagi orang – orang di jalan saat itu.
Krisna tidak memperdulikan , anggapan dan pandangan orang – orang yang saat itu melihatnya, dalam pikirannya fokus pada tujuan nya untuk menyusul pak Dadang ke terminal bis, dengan tergesa – gesa, Krisna akhirnya sampai di terminal Bis, nafas yang terengah – engah tidak menyurutkan tujuan Krisna agar bisa dapat menemukan Pak Dadang dan mencegahnya pulang ke kampung.
“ Bapak, Kenapa selalu tidak mendengarkan Krisna.” Ujar Krisna terhenti kelelahan sambil melihat sekeliling.
Waktu berlalu, Krisna tidak dapat menemukan Pak Dadang, hanya rasa marah dan kesal yang Krisna rasakan, dan akhirnya Krisna memutuskan untuk pulang dan memberitahukan kabar ini kepada Bu Eni.
Krisna sangat lelah , dengan kembali berjalan Kaki menuju rumah.
“ Apa Ibu harus di beri tahu, atau jangan, tapi jika di beri tahu pasti Ibu akan cemas, tapi jika tidak Aku takut terjadi apa – apa pada Bapak.” Ujar Krisna menggerutu sambi berjalan pulang.
Sampailah Krisna di rumah, wajahnya tertunduk, perlahan – lahan Krisna duduk di teras, lalu Yuda datang.
“ Kris, kenapa Kamu?, sakit lagi?” Tanya Yuda.
“ Bukan Pak , Krisna tadi habis mengejar Bapak ke terminal bis.” Ujar Krisna.
“ Bapakmu?” Tanya Yuda.
“ Ia Pak, Bapak secara diam – diam pulang ke kampung.” Ujar Krisna berbisik sambil menengok ke arah dalam rumah.
“ Kenapa harus diam – diam?’ Tanya yuda.
“ Itu dia Pak yang saya tidak tahu, sepertinya ada urusan dengan pak Sugeng, atau Dia tidak betah di sini , saya kurang tahu, kabar ini pun saya dapat dari Pak Yaya.” Ujar Krisna.
“ Jika benar Bapakmu bertemu dengan Pak Sugeng, Apa yang akan kamu lakukan Kris?” Tanya Yuda.
“ Itu dia pak, saya khawatir, sebab kita ke sini tidak ada satu pun orang yang tahu, jadi jika Bapak saya kembali ke kampung dan bertemu dengan Pak Sugeng, sepertinya akan banyak pertanyaan dari Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ Coba suruh Ijam susul ke kampungmu, sebab jika Kamu yang menyusul pasti Ibu dan Kakekmu akan curiga.” Ujar Yuda.
“ Ia juga ya pak, sebentar saya telepon dulu Ijam.” Ujar Krisna.
Krisna pun langsung menelepon Ijam.
“ Halo kris ada apa?” Tanya Ijam.
“ Bapak Jam, dia tiba – tiba pulang ke kampung.” Ujar Krisna.
“ Ko Bisa Kris, lalu apa yang harus kita lakukan?” Tanya Ijam.
“ Kamu bisa susul bapak ke kampung?, Aku jika pergi dari sini pasti Ibu dan ki Amin curiga.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah , Aku langsung berangkat sekarang juga.” Ujar Ijam.
“ Hati – hati Jam, Jangan sampai bertemu dengan Pak Sugeng, dan kabari jika Kamu sudah bertemu dengan Bapak.” Ujar Krisna.
Ijam saat itu langsung menutup teleponnya, Ijam bergegas bersiap pergi , mendengar kabar dari Krisna hati Ijam sangat khawatir dengan keadaan Pak Dadang.
Di sisi lain Pak Dadang memang benar – benar kembali pulang ke kampung, dirinya merasa tidak kerasan berada di tempat orang, dan takut jika membuat Pak Sugeng murka dengan kepergiannya, meskipun harus beberapa saat meninggalkan Bu Eni dan Ki Amin.
Keputusan yang di ambil Pak Dadang sangat salah, selain membuat dirinya sendiri celaka tapi berakibat celaka untuk orang lain juga, hingga sampailah Pak Dadang di kampung, tepat saat itu sore hari, tapi suasana kampung saat itu sangat sepi, tidak ada satu orang pun yang melakukan aktivitas bekerja.
Sampai lah Pak Dadang di rumahnya, Rumahnya sudah terbuka, barang – barang di dalamnya pun berantakan, Pak Dadang sungguh terkejut dengan keadaan rumahnya saat itu.
“ Kenapa rumahku berantakan seperti ini, tapi anehnya barang – barang tidak ada yang hilang, apa mungkin Pak Sugeng sudah mengetahui kepergian keluargaku.” Ujar Pak Dadang.
Pak Dadang hanya bisa pasrah melihat keadaan rumahnya yang berantakan, rasa marahnya pun tidak terbendung tapi tidak bisa terlampiaskan, hingga pada akhirnya Pak Dadang hanya menangis dengan situasi saat itu.
“ Kenapa kehidupanku sekarang menjadi seperti ini, lama – lama Aku bisa seperti orang gila, di tempat kelahiran ku sendiri, aku layaknya pendatang yang tidak punya siapa – siapa.” Ujar Pak Dadang terduduk di kursi yang kotor.
Malam pun tiba, Pak Dadang hanya meratapi rumahnya yang kotor berantakan, hingga akhirnya ada seorang warga yang mengetahui jika Pak Dadang kembali, orang itu langsung memberi tahu Pak Sugeng yang memang sedari awal mencari Pak Dadang.
Pak Sugeng hanya tersenyum mendengar kabar jika Pak Dadang telah kembali.
“ Akhirnya Dia pulang , Aku akan ke sana sekarang juga.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng dengan beberapa orang mendatangi rumah Pak Sugeng, Pak Sugeng saat itu hanya tersenyum licik ketika masuk ke rumah Pak Dadang.
“ Dadang, selamat datang kembali di rumahmu.” Ujar Pak Sugeng angkuh.
“ Apa salahku Pak, kenapa Pak Sugeng tega memperlakukanku seperti ini.” Ujar Pak Dadang.
“ Kamu yang membuat Rumahmu ini berantakan, sebab rumah ini tidak ada orang. ya jadi wajar jika berantakan.” Ujar Pak Sugeng mengelak.
“ Saya ada urusan dulu ke kota Pak.” Ujar Pak Dadang.
“ Sudah jadi orang penting Kamu Dang?, hingga sampai urusanmu ke kota yang jauh di sana, mengajak seluruh keluargamu juga, hebat sekali kamu Dang.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Dadang hanya tertunduk dan tidak bisa melakukan apa -apa.
“ sekarang Kamu ikut dengan Ku, Agar Kamu tahu akibatnya jika bermain – main dengan Sugeng.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng memerintahkan anak buahnya untuk mengikat tangan Pak Dadang dengan tali ijuk, layaknya seorang buronan Pak Dadang di perlakukan, sepanjang jalan menuju rumah Pak Sugeng, tidak ada orang yang mau melihat Pak Sugeng ke luar rumah, seperti orang yang sangat di takuti di kampung itu, menjadikan Pak Sugeng berbuat sesuka hati terhadap warga sekitar.
“ Mau di bawa ke mana saya Pak, saya kembali pulang agar Pak Sugeng tidak marah seperti ini, Tapi hal sebaliknya yang saya dapat.” Ujar Pak Dadang.
“ Sejak dari awal kepergianmu, Aku sudah marah untuk apa Kamu kembali, yang ada malah mengganggu pemandanganku saja, Kamu pantas di perlakukan seperti ini Dang.” Ujar Pak Sugeng.
“ Tahu akan seperti ini saya tidak akan menuruti anak saya Pak, maafkan saya.” Ujar Pak Dadang.
“ Itu lah kesalahan yang ke dua, wibawamu sebagai orang tua sudah tidak ada, maka pantas pula Kamu tidak di hargai.” Ujar Pak Sugeng.
Sampailah di rumah Pak Sugeng, Bak istana megah dengan segala ornamen yang menghiasi, menjadi saksi p********n terhadap Pak Dadang. Pak Dadang di sekap di kamar kosong dan di biarkan di sana dengan tumpukan barang bekas serta tikus – tikus yang menjadi teman Pak Dadang saat itu, di dalam ruangan itu amat sangat gelap dan pengap, tidak ada sumber pencahayaan satu pun, Pak Dadang hanya terduduk dan memasrahkan dirinya dengan keadaan saat itu.
Dengan kejadian saat itu Pak Dadang sadar, Pak Dadang merenungi semua kesalahannya, rasa sesal mulai di rasa sangat berat, rasa sedih dan kecewa hanya itu yang bisa di luapkan dengan teriakan.