LANJUTAN 42

1336 Words
Krisna merasa tidak habis pikir melihat pedagang – pedagang jahil, segala upaya merek lakukan , bahkan bersekutu dengan sosok dari dunia lain pun mereka lakukan , agar bisa mendapatkan keuntungan d dunia. Krisna dengan nafas yang tergesa akhirnya sampai di rumah, badannya penuh keringat.   “ Akhirnya bisa sampai juga, Kapok Aku beli makan di sana, jika di biarkan kasihan juga yang makan, tapi jika Aku berucap yang sesungguhnya , pasti Aku di anggap tidak waras.” Ujar Krisna sambil terduduk di lantai.   Yuda yang tengah bersiap dengan pakaian rapi dan beberapa berkas yang di apit di lengannya, keluar rumah dan melihat Krisna yang sangat gelisah.   “ Kris, kenapa Kamu, habis lari pagi?” Tanya Yuda.   “ Lari paginya Sih betul Pak, hanya saja terpaksa.” Ujar Krisna.   “ Maksudnya?” Tanya Yuda.   “ Maksudnya , Saya terpaksa lari Pak, melihat sosok lagi , tadi niatan saya itu mau beli bubur, bubur itu sangat ramai yang beli, saya mau coba, ternyata ada sosok yang membantu dagangannya cepat habis, mana tadi sempat di kejar.” Ujar Krisna.   Yuda sambil dudu di kursi dan mengenakan sepatu hanya tersenyum dengan cerita krisna.   “ kenapa tersenyum Pak, memangnya cerita saya lucu?” Tanya Krisna.   “ Bukan ceritanya yang lucu, Kamunya saja yang lucu, jika ada yang seperti itu dan kamu terlanjur makan, tinggal baca doa saja, makannya kita harus membaca doa setiap aktivitas, kita tidak boleh lupa hal itu, jika lupa ya risikonya kaya kejadian Kamu tadi.” Ujar yuda tersenyum.   “ Ia sih Pak, kepalang lapar awalnya, pas liat hal itu, saya rasanya ingin diet saja Pak.” Ujar Krisna tersenyum.   Krisna mulai curiga melihat Yuda dengan Pakaian rapi.   “ Sebentar Pak, Bapak Mau ke mana?” Tanya Krisna.   “ Saya ada panggilan bekerja Kris, jika saya sudah masuk di sana , kamu pasti akan saya ajak.” Ujar Yuda.   “ pasti perusahaan besar ya Pak?” Tanya Krisna.   “ Bukan Kris, perusahaan baru, mereka meminta bantuan saya untuk mengembangkan perusahaan, dan rencana saya jika kalian Mau, Kita bisa bekerja satu kantor lagi.” Ujar yuda.   “ Kalian siapa?” Tanya Krisna.   “ Kamu, Bram, bahkan jika Ijam mau ayo, siapkan saja lamaran pekerjaannya.” Ujar yuda.   Mendengar hal itu Krisna merasa sangat lega, relasi yang ia miliki memang sangat membantu untuk dirinya sendiri, Krisna pun menunjukkan mimik bahagia kpada Ibu Eni, kejadian adi yang sempat membuatnya takut, seakan terobati degan kabar dari yuda.   Melihat belanjaan Krisna yang menumpuk , Bu Eni bergegas memasak di dapur, semua bahan yang Krisna beli langsung Bu Eni olah , tidak terasa menit - menit berlalu, tepat saat itu pukul 10 siang, rumah itu serasa milik Krisna dan keluarga, di sana hanya ada Ki Amin, Krisna dan Bu Eni.   Akhirnya waktu makan pun tiba, Krisna dan Bu Eni makan dengan lahap, sayangnya Ki Amin tidak bisa bergabung karena sedang tertidur lelap, momen kebersamaan antara Ibu dan Anak pun harus terhenti, terdengar suara asing dari arah dapur.   “ Bu Kakek gak di ajak?” Tanya Krisna.   “ Kakek mu masih tidur, nanti saja Ibu bawakan makanannya  ke kamar, Kamu makan yang banyak, habiskan, Ibu sudah pisahkan untuk yang lainnya.” Ujar Bu eni.   “ Ia Bu sudah hampir setahun Krisna tidak makan dari hasil masak Ibu, selama di sini selalu beli untuk teman nasinya.” Ujar Krisna.   “ makannya makan yang banyak , mumpung Ibu Masih di sini.” Ujar Bu Eni.   Tiba – tiba suara jatuh dari kamar mandi terdengar.   “ suara apa itu Kris?” Tanya Bu Eni.   “ Seperti ada benda yang jatuh di kamar mandi, tapi biarkan saja Bu, nanti saja sudah selesai makan, Krisna cek, paling juga handuk di kamar mandi jatuh dari gantungannya.” Ujar Krisna.   Krisna mengalihkan pembicaraan dengan Bu Eni, agar Bu Eni tidak terus menerus menanyakan hal itu, sebab Krisna tahu jika di sana sepertinya sedang ada yang mengganggu. Krisna tidak ingin melihat lagi sosok yang lain, Krisna meneruskan makannya, hingga terdengar suara yang semakin menjadi, hingga akhirnya Bu Eni yang melihat ke arah dapur.   Melihat hal Itu Krisna yang takut akan terjadi sesuatu terhadap Ibunya, mengikuti Bu Eni, matanya dii tutup dan sesekali melihat.   “ Ada apa Bu?” Tanya Krisna.   “ Bukan apa – apa Kris, hanya tikus, Dia sudah naik lagi ke atas.” Ujar Bu Eni.   mendengar hal itu Krisna pun membuka matanya , dan begitu terkejutnya Krisna , jika di belakang Ibunya terlihat sosok yang dulu ada di bis, hanya Krisna yang menyadari hal Itu, Krisna Pun kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya Krisna Pun membacakan berapa doa, hanya saja sosok itu tidak pergi dan hanya menjauhi Ibunya.   Krisna saat itu langsung menarik tangan Ibunya dan meminta Ibunya untuk diam di kamar.   “ Bu, sepertinya Kakek memanggil.” Ujar Krisna dengan wajah panik.   “ Masa?, Ibu tidak mendengar suara Kakekmu.” Ujar Bu Eni.   “ Betul Bu, Ibu jangan dulu keluar kamar ya, Krisna mau usir tikus yang tadi.” Ujar Krisna.   “ Ya sudah, kamu mulai aneh lagi Kris.” Ujar Bu Eni sambil pergi ke kamar.   Krisna pun langsung keluar rumah dan memutuskan untuk menyusul pak Dadang di toko antik milik Pak Yaya, Krisna ingin meminta agar Pak Dadang segera pulang, bukan tanpa sebab, sepertinya makhluk itu tahu jika Pak Dadang sedang tidak berada di rumah, Dia akan selalu mengganggu Bu Eni, berbeda halnya jika pak Dadang berada di rumah, makhluk itu hanya memperhatikannya dari sudut yang cukup jauh, hal itu pun menjadi pertanyaan untuk Krisna, memang sepertinya Pak Dadang memiliki rahasia lain yang belum ia Ungkapkan.   Sesampainya di toko milik Pak Yaya, Krisna langsung mencari Pak Dadang, terlihat Pak Yaya yang sedang membereskan toko sendirian.   “ permisi Pak.” Ujar Krisna.   “ Masuk.” Sahut pak Yaya menghampiri Krisna.   “ Mas Kris, ada apa Mas?, tumben ke sini?” Tanya Pak Yaya.   “ Pak Dadang di mana ya Pak?, Saya ada perlu.” Ujar Krisna.   “ Pak Dadang?, bukannya Pak Dadang pulang ke kampung.” Ujar Pak Yaya.   “ Maksudnya?” Tanya Krisna.   “ Tadi Pak Dadang ikut ke toko, saat di sini Pak Dadang seperti sedang banyak pikiran, Dia membantu Bapak di sini untuk mengangkut barang pesanan milik pelanggan, dan akhirnya meminjam sejumlah Uang untuk pulang ke kampung.” Ujar Pak Yaya.   “ pulang ke kampung?, Bapak tidak biang apa- apa ke saya Pak.” Ujar Krisna kebingungan.   “ IA Kris, bApakmu biang malam juga Dia kembali lagi, Pak Dadang ingin mengambil beberapa potong pakaian dan melihat ternaknya katanya.” Ujar Pak Yaya.   “ Bapak kasih pinjam berapa Pak?” Tanya Krisna.   “ pak Dadang tadi pinjam satu juta Mas, kebetulan tadi ada yang bayar barang , jadi Bapak bisa kasih pinjam.” Ujar Pak Yaya.   “ Satu juta Pak?, dan kenapa Bapak pulang ke kampung, padahal bajunya semua sudah ada di sini, dan Bapak tidak punya hewan ternak.” Ujar Krisna kebingungan.   “ Tadi bilang ke Bapak gitu Mas, Bapak juga tidak tega makannya Bapak bantu kasih pinjam.” Ujar Pak Yaya.   “ Sepertinya Bapak saya mau bertemu dengan Pak Sugeng lagi, bahaya ini Pak, jika Bapak pulang keselamatan Pak Dadang terancam Pak.” Ujar Krisna.   “ kenapa bisa Mas?” Tanya Pak Yaya.   “ Kita ke sini pergi secara diam – diam Pak, tidak ada satu pun orang yang melihat, kita juga di sini sudah hampir seminggu , pasti banyak warga yang curiga tentang kepergian pak Dadang, dan pasti berita itu sampai ke telinga Pak Sugeng, itu yang membuat bahaya Pak.” Ujar Krisna.   “ Pak Sugeng itu siapa?” Tanya Pak Yaya.   “ Pak Sugeng itu orang pintar di kampung saya pak, dan yang mengirimkan ancaman – ancaman terhadap Pak Yuda itu orang yang sama.” Ujar Krisna.   “ Jadi Pak Sugeng itu orang jahat, Bapakmu harus segara di cari, jangan sampai dia tiba di kampung.” Ujar Pak Yaya.   Krisna tanpa berpamitan langsung meninggalkan Pak Yaya, Krisna sangat khawatir bercampur kesal, sebab orang tuanya seperti tidak menghargai perjuangannya untuk terbebas dari belenggu Pak Sugeng, kata – kata yang di ucapkan Pak Dadang layaknya ucapan semu , yang membuat Krisna tenang sesaat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD