Ketika lisan berbicara dari hati, dan semua kejujuran telah di utarakan, rasa lega pun sangat terasa, begitu juga halnya Krisna, Krisna merasa sangat lega dan tenang telah mengungkapkan beberapa hal kepada Pak Dadang.
“ Pak, Krisna minta tolong ke Bapak, jauhi Pak Sugeng, apa pun alasan Bapak, jangan sekali – sekali meminta pertolongan pak Sugeng. Ujar Krisna.
Pak Dadang tidak menjawab dan hanya diam.
“ Ya sudah kalau begitu, Saya pamit dulu mau ke toko, ada tamu yang sudah menunggu.” Ujar Pak Yaya.
“ Tamu langganan Pak Yaya?” Tanya Krisna.
“ Ia Mas, Mudah – mudahan ada jawaban, sekarang Bapak ingatkan lagi Dia.” Ujar Pak Yaya.
“ Ia pak, mudah – mudahan ada kabar baik.” Ujar Krisna.
Pak Yaya pun pergi meninggalkan mereka berdua, Pak Dadang pun dengan ekspresi wajah datar hanya menatap Krisna dan perlahan mulai berbicara.
“ Kris, Bapak Mau jujur saja sekarang.” Ujar Pak Dadang.
“ Jujur soal apa Pak?” Tanya Krisna.
“ Sebenarnya Bapak itu dari dulu melakukan perjanjian dengan Pak Sugeng.” Ujar Pak Dadang.
“ Perjanjian apa Pak?” Tanya Krisna.
“ awalnya Kakekmu yang melakukan perjanjian, dan sekarang di wariskan kepada Bapak.” Ujar Pak Dadang.
“ Apa Yang di wariskan Pak, Krisna tidak paham dengan maksud Bapak?” Tanya Krisna.
Pak Dadang menarik nafas dalam – dalam.
“ Dulu saat Kamu masih berusia 15 tahun, Pak Sugeng datang ke kampung kita, entah apa yang membuat Kakek sangat percaya hingga membuat Kakekmu dulu melakukan perjanjian dengan pak Sugeng, Bapak melihat Kakekmu menanam sesuatu di belakang rumah, tepat di belakang Kamar Kakekmu, dan entah percaya atau tidak, ketika saat masa panen , kita selalu untung berlipat dan Kakekmu jarang sekali sakit, hal itu yang membuat Bapak yakin tentang Pak Sugeng.” Ujar Pak Dadang.
“ Benda seperti apa Pak yang di tanam Kakek?” Tanya Krisna.
“ Entah apa Kris, yang jelas ketika Bapak bertanya pun Kakekmu hanya bilang jika itu hanya penangkal bala.” Ujar Pak Dadang.
“ sebenarnya semua itu ada penjelasan logisnya pak, mulai dari Kakek yang jarang sakit, hingga panen kita yang terus menerus untung, hanya saja Pak Sugeng sangat pandai berbicara dan meyakinkan orang lain.” Ujar Krisna.
“ maksud Kamu apa, Bapak gak paham.” Ujar Pak Dadang.
“ Kakek dulu jarang sakit, mungkin karena hati Kakek tenang dan senang melihat hasil panen yang begitu melimpah, sehingga taraf bahagia yang di alami Kakek itu di batas maksimal dan akhirnya Kakek juga jarang sakit, dan jika hasil panen yang berlimpah itu wajar Pak, Tanah di kampung kita itu sangat subur, bahkan sebelum Pak Sugeng datang, Pak Sugeng hanya memanfaatkan keadaan dan mengaku jika semua itu adalah hasil dari kemampuan Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ Intinya Pak Sugeng itu hanya menipu, dengan kemampuan meyakinkan orang lain.” Ujar Krisna.
Krisna terus menerus meyakinkan Pak Dadang agar menjauhi Pak Sugeng, di sisi lain kepergian Pak Dadang dan keluarga mulai di curigai warga sekitar kampung, Pak Dadang adalah orang yang aktif bersosialisasi,, sehingga kepergiannya membuat warga bertanya – tanya, hingga akhirnya kabar itu sampai kepada telinga Pak Sugeng.
“ kemana orang itu, bisa – bisanya dia pergi tanpa pesan, rupa – rupanya sudah ada yang memberontak, Dia belum tahu sedang berurusan dengan siapa.” Ujar Pak Sugeng kesal.
Pak Sugeng pun mencari Pak Dadang ke seluruh penjuru kampung, tapi sungguh beruntung , karena Pak Dadang pergi tanpa ada warga yang melihat satu pun.
“ Rasa – rasanya Si Dadang sudah mulai ingin bermain – main, lebih baik Aku cari orang itu terus menerus, sampai dapat.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng pun pergi meninggalkan rumah Pak Dadang , wajahnya sangat marah, semua warga yang saat itu berada di sana, hanya melihat tanpa mampu berbuat Apa – apa.
Tepat saat itu pagi hari, Bu Eni yang belum tahu Jika Krisna Sudah tidak bekerja, melihat Krisna sering murung dan melamun, Krisna hanya terduduk lesu di teras rumah, hampir setiap hari selama Bu Eni berada di kota, Krisna selalu murung tapi tidak pernah memperlihatkannya di depan keluarganya.
Bu Eni datang mendekati Krisna dan duduk bersamanya di teras.
“ Kamu kenapa Kris, Kok Ibu perhatikan selama Ibu di Sini Kamu murung terus.” Tanya Bu Eni.
“ Eh Ibu, Engga Bu Krisna tidak apa – apa.” Ujar Krisna.
“ Kamu jangan bohong Kris, Ibu itu hidup lebih lama dari kamu, Ibu yang telah melahirkan Kamu, jadi sekecil apa pun masalah yang kamu rasa, Ibu Bisa merasakannya.” Ujar Bu Eni.
“ Ini Bu, Krisna itu sedang bingung, Krisna sudah tidak bekerja lagi.” Ujar Krisna sambil menunduk.
“ Bingung kenapa Kris?, Jika Kamu terbebani dengan Kami. Ibu dan Bapak bisa kembali ke kampung.” Ujar Bu Eni.
“ Bukan Bu, Krisna di sini masih ada pegangan , Ibu juga jangan Khawatir, Krisna yang membawa semuanya ke kota, Karena Krisna ingin kita keluar dari semua permasalahan ini, dan membuat Ki Amin sembuh.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, Kamu juga jangan termenung terus seperti ini, Jika kamu begini bagaimana solusi bisa datang, pikiran kamu nanti bisa terbagi dua, fokus pada tujuanmu sekarang, Ibu selalu mendoakan Kamu Kris.” Ujar Bu eni.
“ Oh Ia Bu, Bapak ke mana , Kok Tidak terlihat, biasanya sudah mengajak Kakek berjemur?” Tanya Krisna.
“ Bapak tadi pamit untuk membantu Pak Yaya di tokonya, Bapakmu bilang jenuh katanya hanya berdiam saja di rumah jadi Dia ikut bersama Pak Yaya dan membantunya di sana.” Ujar Bu Eni.
“ Jika boleh tahu , sampai kapan kita di kota Kris, kasihan Bapakmu, seperti tidak bebas tinggal di sini?” Tanya Bu Eni.
“ jadi begini Bu, Krisna mau Jujur sama Ibu, Ijam ada di kota Bu, Dia sedang di rumah teman Krisna, tujuan Krisna sama Ijam membawa Ibu dan semuanya ke sini, ingin menjauhkan Bapak dari Pak Sugeng, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Kita, Ibu pun pasti menyadari banyak kejadian aneh yang menimpa keluarga kita, gangguan sosok juga semakin sering, makannya sebelum kita menemukan jalan keluar, Ibu dan Bapak terutama ki Amin tetap tinggal di sini.” Ujar Krisna.
“ Memang kenapa antara Bapakmu dan Pak Sugeng?” Tanya Bu Eni.
“ Masa Ibu tidak menyadari, Krisna tidak mau jika Bapak dijadikan kaki tangan Pak Sugeng, Dan kemarin Bapak mengaku jika Pak Sugeng memiliki obat untuk Ki Amin, asalkan Bapak Mau menuruti keinginan Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ Pantas saja , Ibu pun Selalu memberikan saran kepada Bapakmu tapi tidak pernah di dengar, Ya Sudah Ibu Akan mengikuti apa rencanamu, Ibu selalu mendoakan Kamu Kris.” Ujar Bu Eni.
“ Ia Bu terima kasih, sekarang Ibu ke dalam saja, nanti Krisna beli makanan.” Ujar Krisna.
“ Jangan beli makanan terus, sudah beli mentahnya saja, Ibu Yang masak untuk kalian.” Ujar Bu Eni.
“ Ia ya, Krisna juga kangen sama masakan Ibu.” Ujar Krisna.
Krisna pun langsung bergegas membeli bahan masakan , Krisna layaknya Ibu – ibu yang berbelanja di pasar, semua sayuran dan daging di beli Krisna, Rasa laparnya mulai terasa, terlihat dari kejauhan keramaian di pasar, ternyata gerobak bubur yang sangat ramai oleh pembeli.
“ Lapar Juga, Aku beli dulu kayaknya untuk ganjal perut.” Ujar Krisna sambil berjalan.
“ Itu ada apa ya, rame sekali, ternyata Bubur ayam, kayanya enak, harus di coba.” Ujar Krisna.
Krisna menghampiri keramaian itu, orang saling berteriak satu sama lain , agar segera mendapatkan satu mangkuk bubur, Krisna pun memesan satu mangkuk dan menunggu di kursi plastik dekat dengan pengunjung lain, semua pengunjung sangat lahap membuat Krisna tidak sabar untuk mencoba dan memakannya.
Tapi begitu terkejutnya Krisna, saat melihat penjual bubur itu menuangkan bubur ke dalam mangkuk, di sebelah pinggir roda buburnya, terlihat sosok mengerikan, yang sedang melihat pedagang itu sambil menyemburkan sesuatu.
“ Ini masih pagi, tapi kenapa ada sosok seperti itu di sini.” Ujar Krisna sambil menoreh membalikkan pandangannya membelakangi roda bubur.
Hingga akhirnya pesanannya tiba, Krisna menerima satu mangkuk bubur, tapi di pandangannya bukan bubur aya yang ia lihat, tapi bekas semburan sosok itu, hingga akhirnya Krisna pun memutuskan untuk langsung pergi tanpa membayar.
Saking penuhnya kedai bubur itu, hingga tidak ada yang menyadari jika Krisna pergi tanpa membayar, tapi sangat kesal nya Krisna saat dirinya ternyata ,alah di ikuti oleh sosok tadi, Krisna merasa dirinya melakukan kesalahan, hingga akhirnya kembali dan membayar bubur yang tidak ia makan.
“ Pak Maaf saya lupa, ini saya belum bayar, tadi saya buru- buru, maaf ya Pak.’ Ujar krsian kepada pedaggang bubur.
Pedagang itu pun hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya, pengunjung pun tidak henti – hentinya berdatangan.
“ Mereka tidak sadar , apa yang mereka makan .” Krisna sambil meninggalkan pasar itu.
Krisna berlari layaknya sedang di kejar - kejar sesuatu, pandangannya selalu melihat ke atas dan ke belakang , menghindari sosok yang tadi terus mengikutinya, dan ternyata memang benar, sosok itu tidak mengikuti Krisna lagi. Krisna kini semakin menyadari jika dalam hidup ini banyak orang yang tersesat di dalam belenggu makhluk seperti itu, banyak yang menginginkan hal instan dalam berbisnis, dengan kerja keras semua yang di dapatkan memang tidak mudah, tapi dalam menjalani suatu proses itu butuh waktu dan tenaga.