Petunjuk demi petunjuk mulai terungkap, benda yang mirip seperti benda pemberian Pak Sugeng, membuat Krisna semakin penasaran dengan benda itu, Pak Yaya yang ternyata memiliki toko khusus barang antik membuat Krisna penasaran dengan semua benda yang ada di toko antik itu.
Sepanjang perjalanan pulang Krisna tidak henti – hentinya mengajukan pertanyaan terhadap Pak Yaya, terutama tentang motivasinya menyukai benda serta barang – barang kuno yang memiliki nilai sejarah, terutama ada satu pertanyaan di benak Krisna, tentang asal muasal benda yang mirip pemberian dari Pak Sugeng.
“ Pak, Saya boleh menanyakan sesuatu tentang benda itu tidak pak?” Tanya Krisna.
“ Benda yang mana Mas?” Tanya Pak Yaya kembali.
“ Itu loh Pak, semua yang ada di toko tadi?” Tanya Krisna.
“ Mas, kalau saya jelasin satu – satu sampai besok juga tidak akan beres Mas.” Ujar Pak Yaya.
“ Ia juga ya Pak,” Sambil tersenyum. “ Terutama itu Pak benda di dalam bungkusan putih yang sempat saya tunjuk.” Ujar Krisna.
“ Memangnya kenapa Mas?” Tanya Pak Yaya.
“ Ia Pak, itu sebenarnya benda milik Bapak?” Tanya Krisna.
“ Bukan Mas, Jadi dulu saat toko itu masih ramai pengunjung, banyak sekali yang datang, mereka di sana ada yang menjual dan ada juga yang membeli, layaknya pasar saja Mas. Nah kebetulan untuk jimat yang tadi di tunjuk Mas Kris, itu awalnya ada seseorang yang datang ke toko menawarkan benda itu, beliau bilang Kalau benda itu langka dan banyak di cari orang.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu Bagai mana lagi Pak?” tanya Krisna.
“ Kebetulan orang itu bapak yang layani, Bapak tanya sumber dia mendapat benda itu, Lalu dia Bilang kalau benda ini warisan dari leluhurnya.” Ujar Pak Yaya.
“ Lantas kenapa Dia menjual benda itu?” Tanya Krisna semakin penasaran.
“ Beliau bilang kalau benda itu membawa malapetaka untuk keluarganya, ya entah itu benar atau tidak.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu kenapa Pak Yaya mau menerima benda itu di toko, jika memang benar benda itu membawa bencana.” Ujar Krisna.
“ Jadi begini Mas, Bapak Mau menerima barang itu sebab Bapak tahu itu barang antik. Tapi sebenarnya itu hanya lah benda mati, menurut Bapak yang membuat celaka, yang membuat bencana untuk keluarga itu kembali lagi kepada orang yang memilikinya, sebab orang yang memiliki benda sperti itu rata – rata terlalu percaya terhadap keajaiban benda itu, otak mereka terdoktrin dan menganggap benda itu bisa membawa keberuntungan, bisa menghalaukan dari bencana. padahal semua itu datang bukan dari benda mati, tapi dari sang pencipta.” Ujar pak Yaya.
“ Oh begitu pak.” Ujar Krisna.
“ Ia Mas, logikanya seperti ini. benda mati itu dia tidak bisa bergerak sendiri, karena pemiliknya mengagung – agung kan benda itu, yang terjadi malah otaknya terpengaruhi , dan berhalusinasi dan menganggap benda mati itu seakan – akan hidup. Jadi intinya mas kita itu jangan aneh – aneh, jangan percaya terhadap benda seperti itu , percaya hanya pada sang pencipta, dan satu pesan Bapak, jauhi benda seperti itu Mas Kris.” Ujar pak Yaya.
“ Ia Pak, saya juga Gak mau punya benda sepeti itu, saya hanya penasaran, tapi kenapa Pak Yaya Tahu semua itu.” Ujar Krisna.
“ saya ini kolektor Mas Kris, Barang kuno atau antik itu yang mahal sejarahnya, bukan bentuk apalagi benda itu sendiri, jadi saya harus tahu semua kisah di balik benda antik yang saya koleksi.” Ujar Pak Yaya.
“ Tapi pak Yaya tidak takut barang kuno itu membawa petaka seperti kisah orang itu.” Ujar Krisna.
“ Saya ini orangnya Logis Mas, benda – benda itu semuanya benda mati, tidak ada hubungannya dengan membawa petaka atau tidak, buktinya keluarga saya sudah bertahun – tahun memiliki dan menjalankan usaha ini , dan tidak ada satu kejadian pun yang janggal, tapi Saya percaya jika kita itu hidup saling berdampingan dengan yang tak terlihat, intinya jika kita tidak mengganggu, mereka pun tidak akan mengganggu.” Ujar Pak Yaya.
“ Ia Pak, Terima kasih ya Pak, Maaf membuat Bapak jadi bercerita panjang lebar.” Ujar Krisna.
“ Tidak apa – apa Mas, ya sambil kita berjalan sabil bercerita, kan jadi tidak cape, tahu – tahu sudah dekat rumah saja.” Ujar Pak Yaya.
“ Oh Ia Pak, ngomong – ngomong soal makhluk halus, tadi pagi ada anak yang sedang belajar bersama Pak Yuda, tiba – tiba dia menangis dan Pak Yuda juga memutuskan untuk membubarkan kegiatan saat itu, kira – kira anak itu liat apa ya Pak?” Tanya Krisna.
“ jadi yang perlu Mas ketahui , Jika Kita itu kan saling berdampingan dengan makhluk lain, dan jika boleh jujur di rumah kos kita itu memang ada makhluk lain, hanya saja saat Bapak membeli rumah ini pun Dia sudah ada, Jadi rasanya tidak sopan kalau di usir, yang penting tidak mengganggu.” Ujar Pak Yaya.
“ Pak Yaya bisa melihat makhluk itu?” Tanya Krisna.
“ Bapak tidak bisa melihatnya Mas, hanya saja bisa merasakannya.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu kalau tahu rumah itu sudah ada penghuni sebelum Bapak, kenapa Bapak mau membelinya.” Ujar Krisna.
“ Rumah itu jauh dari keramaian Mas, tempatnya juga luas untuk barang simpanan Bapak, dan tempatnya tidak jauh dari toko antik itu.” Ujar Pak Yaya.
“ oh, Tapi Bapak Sepertinya ada alasan lain untuk membeli rumah ini.” Ujar Krisna.
“ Apa itu Mas?” Tanya Pak Yaya.
“ Bapak Mau beli rumah ini Karena antik dan sudah ada teman yang nemenin Bapak.” Ujar Krisna bercanda.
“ Saya juga Gak suka Mas di temani Makhluk seperti itu, yang betul saja Mas ini.” Ujar Pak Yaya tersenyum.
Tidak terasa perjalanan mereka pun berakhir , sesampainya di rumah, mereka duduk di teras rumah untuk melepas lelah perjalanan, tapi hanya satu yang di pikirkan Krisna, mahkluk yang ada di rumah itu, karena sifat Krisna yang penakut, membuat Krisna membayang – bayangkan bentuk dari makhluk itu dan membuatnya ketakutan sendiri.
Di tengah - tengah istirahat mereka , tiba – tiba HP Krisna berbunyi dengan bertuliskan Ayu.
“ Ayu!, ada apa telepon?” Tanya Krisna.
Krisna menerima panggilan telepon dari Ayu.
“ Halo, kenapa Ay?” Tanya Krisna.
“ Gak Papa Kris, Aku di suruh Pak Dadang untuk menanyakan Kabar Mu.” Ujar Ayu.
“ Bapak?, Kenapa tidak menelepon langsung?’ Tanya Krisna.
“ Mungkin Dia malu Kris, Pak Dadang bilang Kapan Kamu pulang ke kampung Kris?” Tanya Ayu.
“ Aku belum dapat cuti lagi Ay, memangnya kenapa?” Tanya Krisna.
“ Tadi bilangnya, Pak Dadang sering memimpikan kamu Kris, Dia sepertinya sedang banyak pikiran Kris, badannya juga terlihat sangat lesu." Ujar Ayu.
" Ada apa ya, Aku belum bisa memutuskan kapan bisa pulang, Aku harus ijin dulu pada atasanku.” Ujar Krisna.
“ YA sudah begini saja Kris, Kamu telepon saja Ijam atau Ibumu, mungkin Pak Dadang segan untuk berbicara denganmu Kris, Tanyakan baik – baik maksudnya, aku berharap hubungan Kamu dengan Pak Dadang segera membaik.” Ujar Ayu.
“ IA Ay, nanti aku telepon mereka.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, Aku juga hanya menyampaikan itu saja, Aku barusan ke rumah untuk menjenguk Ki Amin dan Ibumu.” Ujar Ayu.
“ Bagaimana kondisi Ibu dan Kakek?” Tanya Krisna.
“ Ibu Eni sudah sembuh Kris, sudah bisa aktivitas seperti biasa, hanya saja Ki Amin belum menunjukkan perubahan yang signifikan.” Ujar Ayu.
“ Ia Syukur Ay, Ibu sudah membaik, titip mereka ya, setelah ada Ijam di rumah Pun Aku menjadi lebih tenang.” Ujar Krisna.
“ Pasti Kris, mereka juga orang tua ku, segera hubungi mereka, jaga kondisi Mu di sana.” Ujar Ayu.
“ IA Ay, Kamu juga Baik – baik di sana.” Ujar Krisna.
Mendengar kabar dari Ayu, sepertinya Pak Dadang sudah berubah, dan hatinya sudah meluluh, semoga itu menjadi pertanda baik untuk hubungan mereka demi mendapatkan jalan keluar bersama.