MC 10 - Tetap Suketi

1169 Words
Rapat keputusan penentuan CEO PT Boga Rasa kembali digelar. Rapat tertutup ini diadakan offline dan online, karena sebagian peserta rapat ada yang tidak dapat hadir karena jadwal pekerjaan. Anggota keluarga inti dari putra-putri Lian Pradja, yakni Yohan dan Sufi pun datang, tak terkecuali Rendi. Selain itu keponakan dan saudara kandung Lian Pradja pun hadir, karena bagaimana pun Boga Rasa adalah perusahaan keluarga, dan mereka memiliki kepemilikan saham dengan berbeda prosentase. Rendi duduk di sebelah ayahnya yang kali ini terlihat sangat antusias. Rendi sudah memutuskan akan pilihannya sendiri. Kursi jabatan CEO sama sekali tidak membuatnya tertarik. Ada yang lebih besar yang ingin ia capai dari sekadar kursi CEO, sesuatu yang hilang dan merampas kebahagiaannya. Rendi akan mati-matian untuk kembali meraihnya. Karena itu suasana rapat ini, sebenarnya adalah tampak membosankan bagi dirinya. Netranya menatap malas pada podium tempat kakeknya dan sekretarisnya berada. Presentasi yang dilakukan sang sekretaris pun hanya seperti angin lalu bagi Rendi. Ia malah sibuk memainkan pulpennya yang berakibat sering dilirik tajam oleh ayahnya. Hingga suara sang kakek terdengar, Rendi menegakkan duduknya, dan merapikan jasnya. “Seperti yang sudah dipaparkan oleh sekretaris saya mengenai pendasaran dan pertimbangan siapa yang akan menempati kekosongan kursi CEO saat ini, maka saya putuskan dan sudah disetujui oleh mayorita suara para pemegang saham dan direksi, jabatan CEO akan tetap saya pegang hingga menunggu hasil pencarian Panca Arjo Mahawira. Demikianlah rapat kali, saya memohon maaf atas menyita waktu saudara dan rekan-rekan sekalian, mohon kerja sama dalam terus mengembangkan PT Boga Rasa menjadi perusahaan multinasional yang semakin maju, menghasilkan produk berkualitas dan memiliki pengaruh positif pada kehidupan masyarakat dan berbangsa. Terima kasih.” Pernyataan Lian Pradja membuat beberapa anggota keluarganya saling tatap dan kebingungan. Beberapa dari mereka bahkan sudah hendak protes dan menunggu para peserta rapat yang bukan anggota keluarga keluar dari ruangan ini. “Lian, apa kamu nggak berniat untuk beristirahat, menikmati masa tua dengan teh di pagi hari dan membaca koran,” sindir salah satu adiknya. “Ah, Om Lian memang suka kerja keras, mana mungkin mau berleha-leha seperti Om.” Entahlah pernyataan keponakannya kali ini mengandung sarkas, tapi laki-laki lanjut usia itu tidak peduli, ia hanya diam, menunggu respons semua anggota keluarganya. “Lian, kamu ada Yohan yang sudah sangat cocok untuk menggantikanmu, dedikasinya di perusahaan pun sudah bisa dilihat dari pada Panca yang masih bau kencur di dunia bisnis.” Kata-kata provokasi ini membuat Yohan membuncah, senyum lebar tercetak jelas di wajahnya, membuat Rendi hanya menggeleng-geleng melihat ayahnya yang tampak senang atas hilangnya sepupunya itu. “Kalau pun kamu membutuhkan CEO yang lebih muda, ada Rendi ada pula Daniel atau Omar, yang bisa menempati posisimu itu.” Rendi mengangkat alis kanannya, menatap sepupu ayahnya yang tampak sama-sama haus jabatan—sembari merapikan rambut gondrong sebahunya itu. Bila biasanya ia akan menata rambutnya dengan model ponytail kini agar terkesan rapi dan tidak terlalu urakan, dia mengucir penuh dan menggulung kecil rambutnya—mirip style man bun. “Papa, kita ke ruangan Papa aja dulu, Papa butuh istirahat,” pinta Sufi pada ayahnya. Ia sedang kalut karena sampai saat ini sang putera belum ditemukan, kemudian melihat sang ayah yang masih harus memegang perusahaan menggantikan puteranya, Sufi merasa tercubit. Ia tidak paham berbisnis. Kegiatan yang paling Sufi sukai adalah memasak dan berkebun. Meskipun ia memiliki usaha katering, Sufi hanya mempercayakan pengelolaannya pada orang kepercayaannya, ia hanya fokus mengolah menu dan menciptakan kreasi masakan baru. Lian Pradja berdiri membuat Yohan dan Sufi sigap untuk membantu ayah mereka. Lian pun hanya mengangkat tangannya—memberikan kode pada kedua anaknya bahwa ia sanggup berjalan sendiri ke ruangannya. Tanpa mempedulikan pandangan mencibir atau bahkan mencemooh dirinya dari saudara-saudaranya, Lian terus berjalan melewati mereka, diikuti oleh sang sekretaris. Saat hendak mencapai pintu, Lian Pradja berbalik. “Rendi, siapkan keberangkatan kamu untuk mengawasi pabrik cabang kita.” Rendi tersenyum, “siap Opa!” Rendi sadar bahwa lirikan tajam sang ayah seakan ingin menghabisinya. Namun, ia masa bodoh! Rendi tidak akan lagi terperdaya lagi. Cukup dua tahun ia bersembunyi dan hanya menjadi pecundang. Kepulangannya ke Indonesia adalah untuk menjadi pemenang. *** Panca memperhatikan kulitnya yang begitu putih dan licin itu kini tampak kemerah-merahan. Ada beberapa goresan yang tidak disadarinya, kini mulai terasa perih. Meski memakai sepatu boot, kakinya terasa gatal dan basah, kini Panca mulai takut kalau ia kena panu dan kutu air. Pak Kar menepuk bahunya, “Mas Panca udah bisa saya tinggal besok untuk mengurus lahan ini, sudah mulai luwes.” Ingin rasanya Panca menyanggah dan berteriak. NBL, NBL—Nggak Banget Lo, sayangnya hanya mampu ia jeritkan dalam hati, karena kalau tidak, si Suketi akan dengan senang hati menodongkan senjatanya ke arah dahinya. “Ini beneran Pak, saya bakal sendirian mengurus lahan ini?” tanya Panca yang masih sulit untuk percaya. “Waduh saya nggak tahu Mas, coba tanyakan saja sama Neng Sekar.” Panca hanya mendengkus pelan, bertanya pada Suketi tentu saja akan semakin membuat amarahnya naik level terus. Maka Panca pun hanya memberikan cengiran tipisnya. “Yuk, Mas Panca kita siap-siap bersih-bersih di situ, sekalian persiapan pulang.” “Udah Asar ya Pak Kar?” tanya Panca lagi. “Belum Mas, tapi sebentar lagi, dan sudah bisa pulang.” “Hah?! Yang bener Pak? Nggak sampai jam lima gitu Pak kerjanya?” Pak Kar tergelak karena ucapan Panca yang menyamakan ritme kerja antara petani dan pegawai kantoran. “Kalau bertani sampai jam lima, bisa-bisa banyak kodok sama ular sawah Mas.” Panca semakin mendelik dan bergidik ngeri. Kini ia merasa tidak hanya sedang live action film Home Alone tapi juga seakan dirinya sedang ikut survival game pertaruhan hidup dan mati. *** Panca pulang bersama Pak Kar, ke rumah sangkarnya—tempat ia harus tinggal selama seratus dua puluh delapan hari lagi. Masih lama ternyata. Saat ia sedang melepas sepatu bootnya dan duduk di atas sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu itu, aroma masakan tercium. Seketika perut Panca keroncongan. Kerja otot memang lebih membuatnya cepat lapar. Dan salah satu list ketakutan Panca selain takut kulitnya berubah warna, ia juga takut menjadi buncit. Panca segera masuk dan terus melangkah ke arah dapur. Sebuah pemandangan aneh yang membuat dadanya juga berdenyut aneh secara tiba-tiba. Seorang Suketi—bukan—maksud Panca seorang Teta sedang mengenakan sebuah rok panjang dengan kaus rumahan biasa yang tidak terlalu ketat berwarna abu-abu—perempuan itu tengah duduk di depan tungku api, tampak sedang fokus menumis bumbu-bumbu. Entah apa yang ia masak, Panca tidak tahu, hanya saja … Panca memegang dadanya seakan bergetar … terasa nyeri tapi juga menyenangkan. Perutnya kali ini melilit mengantarkan rasa hangat yang entah mengapa Panca menyukainya. Sensasi yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Teta menoleh ke arahnya, rambut kucir kudanya pun ikut bergerak, membuat Panca benar-benar terpaku di tempat ia berdiri sekarang ini. Teta bahkan menyunggingkan bibirnya tipis, sangat tipis, tapi kembali mengantarkan debaran bagi Panca. “Kamu mandi dulu dan segera makan, karena setelah ini kita akan melakukan peninjauan hasil panen.” Ucapan Teta dengan nada datar itu seketika membuyarkan suasana romantisme yang dirasakan Panca. Panca menggerutu dalam hati sambil masuk ke kamar mandi. Sekali Suketi tetap Suketi!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD